Saturday, November 19, 2016

Hidup Gue

Berbeda dua jam dengan Indonesia, di sini sudah pukul dua belas lebih tiga puluh. Sebuah malam di hari Sabtu, sudah menjadi kebiasaan, gue akan terjaga lebih lama. Kalau dulu biasanya, bersama kakak yang kelima, kami sengaja mengahbiskan tiap Sabtu malam dengan menonton siaran televisi, biasanya di sana akan ada film-film asing yang diputar, entah film lama atau terbaru, bahkan meski sudah ditonton terkadang kami menontonnya ulang. Kini sudah tidak begitu, dia sudah berkeluarga, dan sekarang gue terdampar di tempat ini, negeri yang terkenal dengan gempanya, dan beberapa waktu yang lalu gue mengalaminya sendiri meski dengan skala kecil.

Dan di malam-malam seperti inilah saat-saat yang gue suka. Tanpa banyak suara dan cahaya, gue menikmati kesendirian gue. Mungkin terdengar menyedihkan, tapi ini menenangkan. Dan kalau sudah begini, lagi-lagi gue teringat akan hidup gue dan hidup ini. Akan keadaan diri sendiri dan yaa.. orang lain. Entah ini efek sudah berusia kepala dua atau bagaimana, gue sering memikirkan ini. Ngapain gue di sini? Untuk apa? Apa yang akan gue lakukan? Mau dibawa ke mana hidup ini? Akan bagaimana akhirnya? Pertanyaan-pertanyaan yang sama, berulang kembali, klise namun ya memang itulah.

Saat gue memutuskan untuk ada di sini untuk bersekolah bahasa, itu adalah keputusan terberat dalam hidup yang gue rasa. Persoalan usia, mental, dan terutama Ibu adalah yang utama. Naik-turun arus, dan akhirnya sampai juga di sini. Mungkin ada banyak orang yang sudah paham dengan hobi bengongnya gue, mereka bingung, gue apalagi. Apa sih yang dibengongin anak usia dua puluh pas? Jadi memang sejak kecil gue hobi banget yang namanya bikin jadwal. Jadwal apapun itu, terutama jadwal aktivitas. Berkali-kali dibuat, berkali-kali pula dilanggar, sampai capek sendiri, ya dibuat lagi, dilanggar lagi. Kadang itu membantu tapi enggak jarang juga jadi ngebosenin. Enggak cuma jadwal per hari, tapi juga jadwal beberapa tahun ke depan. Sebenarnya bagus, dan harusnya dengan kebiasaan seperti itu gue jadi lebih terjadwal dan bisa efektif terhadap waktu, tapi sayangnya gue masih gini-gini aja. Nah, di situlah letak yang membingungkannya, mungkin bisa dibilang juga, gue adalah seorang yang idealis tapi gak jelas juga, hahaha. Sejak baca buku-buku soal mimpi, gue banyak merancang ini dan itu, tapi ya masih sekadar merancang. Dan di usia dua puluh tahun ini, gue merasa semakin terlambat. Target-targetan itu, bahkan sampai sekarang baru sedikit yang dicoret. Bersyukur sekali memang, tapi mungkin gue masih berusaha (bahkan) di bawah rata-ratanya orang-orang, lalu, kalau begitu apa gue pantas atas seluruh kenikmatan ini?

Terkadang gue seperti orang yang kebingungan dengan hidup, hanya mengikuti arus. Terlihat sudah dewasa namun masih seperti anak-anak, yaa, benarkah mereka berpikir seperti itu? Tapi masa bodoh dengan semua itu, ini adalah hidup yang Allah titipkan, sengaja gue diberi kesempatan untuk merasakan, gue tahu apa yang harus gue lakukan mesi mungkin terlihat bingung. Dan yaa.. mungkin gue memang hanya perlu mengikuti arus, dengan tetap berpegang pada prinsip dan kacamata targetan. Gue cuma enggak mau hidup yang gitu-gitu aja. Lahir, anak-anak, sekolah, kuliah, kerja, nikah, punya anak-cucu, terus mati, udah? Gue selalu kepengin yang beda, yang lebih berarti dan mungkin menantang, bukan karena tidak bersyukur, tapi justru agar gue lebih bersyukur, lebih memaknai untuk apa gue hidup, dan mungkin nanti bisa gue bagi cerita.

Ya, mungkin ini memang cuma kondisi psikologis seseorang yang umum dirasakan saat remaja, gue hanya perlu lebih belajar dan mengerti. Selalu itu yang orang-orang katakan. Masih muda, masih bisa banyak belajar, bukan cuma belajar di bangku-bangku sekolah, tapi lebih daripada itu. Jadi, mungkin ini memang sudah takdir gue, lagi-lagi menunda kuliah, kalau dihitung-hitung rasanya nanti terasa akan terlambat sekali, tapi semoga, gue bisa selalu melewati semua ini dengan baik, bisa lebih belajar lagi dengan baik. Ini adalah keputusan gue karena lebih memilih untuk ronin, ini adalah keputusan gue untuk ada di tempat ini, ini adalah keputusan gue atas hidup gue, kalau gue bisa melewatinya dengan baik, kenapa harus risau atas apa kata orang?

No comments:

Post a Comment