Asing.
Entah kenapa rasanya sudah lama
gue enggak merenungi satu kata itu dengan lebih dalam. Dan dari satu kata itu,
gue selalu ingat satu buah kutipan yang menjadikan gue merasa ternyata satu
kata itu tuh enggak terlalu mesti dikhawatirkan banget. Dan gue teringat,
mungkinkah gue merasa asing dengan ‘asing’ karena belum lama ini gue banyak
dipertemukan dengan mereka yang ‘sama’? Lalu kini, saat gue berjalan lebih jauh
lagi, berpisah dengan mereka yang sengaja Ia pertemukan gue justru kembali
menjadi asing?
Adalah salah satu dari kakak
perempuan gue yang mengenalkan gue dengan dunia itu. Dunia dengan jalan yang
terasa lurus dan bercahaya. Dulu gue biasa aja, tapi saat ini terkadang gue
merasa iri dengan mereka yang terlahir dari keluarga dengan pemahaman Islam
yang lebih mengakar dan kuat. Mereka yang benar-benar selalu ditiupkan napas
Islam ke dalam setiap sendi. Disekolahkan di tempat-tempat dengan ilmu Islam
yang lebih mumpuni, lalu gue melihat ke dalam diri, betapa rasanya mesti
merangkak untuk melatih semua itu. Ah, mungkin saat ini gue terlihat kurang
bersyukur atau kurang menerima. Memang benar, rasanya kalau boleh memilih, gue
kepengin terlahir dan dibesarkan di keluarga dengan lingkungan Islam yang lebih
mendarah daging. Tapi, tapi gue juga enggak pernah mau menyesal karena sudah
dilahirkan dan dibesarkan dari orang tua yang sangat hebat dan keluarga yang
begitu spektakuler. Bisa jadi, justru di sinilah letak Allah memberikan gue
peluang untuk mendapatkan ridanya dengan jalan mengajak keluarga agar lebih
mengarah kepada-Nya. Sebenarnya, dibanding dengan gue, masih ada banyak sekali
teman-teman di luar sana yang justru lebih lebih dari gue. You know what I mean laah ...
dan itu juga peluang mereka. Kalau gue dengar cerita-cerita soal perjuangan
teman-teman dalam perubahan ke arah yang lebih baik semacam berjilbab dengan
gaya yang di luar anak remaja banget (baca: jilbab lebar) dan semacamnya, itu
tuh wow banget. Lalu lagi-lagi gue membandingkan, entah dengan diri gue atau
pun dengan beberapa orang yang lain. Dan pada akhirnya, kita memang mesti
saling bersyukur banget, entah terlahir dari keluarga yang sangat mendukung
untuk bergerak dalam pergerakan Islam, dari keluarga yang belum sekuat itu
pemahamannya (biasa aja) atau bahkan dari keluarga yang bisa dibilang agak
menentang. Karena tiap-tiap itu semua, ternyata selalu ada rahasianya dan
kesempatan untuk menjadi jalan ke arah kebaikan bagi yang lain.
Yah, lalu gue bingung kenapa gue
jadi menulis semua di atas itu. Sebenarnya gue Cuma mau curhat kalau saat ini,
di tempat ini, minoritas itu ada dan gue mengalaminya, hahaha. Sebenarnya
enggak terlalu jadi minoritas, sih, guenya aja yang lebay, wkwkwk. Ini
situasinya sama aja kayak di Indonesia saat lo berada di antara teman-teman
yang memang bukan anak rohislah istilahnya, situasi dimana eorang cewek
berjilbab lebar di antara anak-anak gaul gitu, wkwk, yaa you know laah, kudu adaptasi ekstra. Sebenarnya juga, sama aja,
sih, entah gue ada di antara anak-anak semacam itu atau pun justru ada di
antara aktivis yang Islami banget, gue tetep aja kudu adaptasi ekstra, sejnis
manusia dari generasi pertengahan soalnya, wkwkwk. Ya pokoknya begitulah,
semangat mewarnai ke arah yang lebih baik, ya, ini gue lagi berkatarsis aja
sih, entah kapan bisa di-post,
hahaha.
Karena menulis adalah obat. Udah gitu aja.
Ini #latepost bangeeeets!
No comments:
Post a Comment