Ibu gue kaget banget mengetahui perbedaan harga makanan di sini dengan di Indonesia, wuahahaha. Mie instan di sana sejumlah Rp2.500 kalau di sini hampir empat kali lipatnya. Ya wajar aja, sih, itu kan karena beda mata uang, ongkos dan segala macemnya itu. Penghasilan di sini dengan di Indonesia juga beda. Memenuhi hidup dengan sebagai part-timer doang juga sebenarnya mencukupi, tapi kalau sekaligus untuk bayar uang sekolah juga, satu tempat part-time aja biasanya enggak cukup, sih, jadi mesti pinter-pinter dan kuat juga, makanya emang di sini tuh banyak banget orang asingnya, entah karena emang beneran mau sekolah di sini, atau lebih mengincar penghasilan part-time. Gue pribadi sejujurnya ada di sini dengan biaya pribadi, dalam artian bener-bener pribadi mengandalkan baito (kerja part-time) gue, jadi kalau orang-orang menilai gue sama dengan kebanyakan anak sekolah bahasa lainnya yang bersekolah dibiayai oleh orang tua mereka, wah, mereka salah. Hal ini enggak banyak yang tahu, sih, tapi melalui tulisan ini gue berharap siapa pun yang mau belajar di LN, belum ada beasiswa pun bisa aja, ya dengan bermodal baito kayak gue, hanya saja perlu link juga, dan semoga aja gue pun bisa menjalani semua ini dengan baik, enggak ujung-ujungnya minta kiriman uang, biar untuk keluarga di Indonesia aja, gue kalah kayaknya kalau sampai mengeluh kekurangan uang ke keluarga, itu enggak sesuai dengan tekad dan prinsip gue.
Ah balik lagi ke soal makanan. Gue seneng sekaligus kaget banget sewaktu owner tempat baito alias bos gue atau mari kita sebut beliau dengan "Kaichou" alias presiden direktur gitulah (jadi inget komunitas Jejepangan gue jadinya hahahah, kami manggil CEO kami dengan sebutan yang sama, Kaichou). Jadi, si Ibu ini menyempatkan datang ke Fukuoka setelah kegiatan travel beliau di Osaka-Tokyo demi ngajarin gue beberapa hal, wahahah pede. Termasuk soal makanan. Dan ternyata gue udah kecolongan :'( innalillahi. Ada temen Indonesia (temen kerja juga) yang ngasih gue roti, si Mbak ini beli roti itu di suppa gitu dan beliau bilang ini boleh dimakan, tapi ternyata anak si Ibu Kaichou yang jago kanji itu tahu dan bilang ke Ibu, si Ibu pun memberi tahu gue. Waduh banget, gue bersyukur banget karena tahu lebih cepat meski tetep aja telat :'( kabarnya hampir semua roti di sini itu ternyata enggak boleh dimakan, masih belom jelas gitu lah, termasuk roti tawar yang pernah gue beli juga :'( ternyata, komponen pembuat roti atau makanan lainnya enggak menutup kemungkinan untuk diganti secara berkala. Kayak misalnya yang awalnya mengandung margarin (boleh dimakan) lalu lama-lama malah berubah jadi mentega (enggak boleh dimakan) atau sebaliknya. Jadi, tetep mesti dicek lagi dan berkelanjutan gituloh.
Si Ibu ini dan keluarganya wow banget sangat menjaga makanan mereka. Mereka cuma makan yang benar-benar jelas kehalalannya. Daging babi, daging yang enggak dipotong secara Islami, gelatin, alkohol, lemak babi, mentega (dari hewan) dan sebagainya sebisa mungkin dihindari. Dan kalau komponen di makanan itu masih meragukan, tinggalkan atau telepon si produsen dan tanyakan apa kandungannya. Selain keluarga beliau pun, salah satu keluarga guru gue di sekolah bahasa pun begitu, isterinya orang Indonesia dan suaminya orang Jepang, mereka sangat menjaga, dan insyaallah ada banyak yang lainnya juga. Tapi yang disayangkan, gue belum banyak menemukan orang-orang yang sangat menjaga juga, sih, jadi sekarang gue rada khawatir deh kalau dikasih makanan sekalipun dari muslim Indonesia, karena belum tentu mereka sedetail dua keluarga tadi dalam urusan menjaga kehalalan makanan. Dan gue pun diharapkan sekali untuk ikut menjaga apa yang gue makan, juga persoalan lainnya, aaah, love banget dah.
Makanan halal di sini emang lebih mahal dari yang lain. Tapi Kaichou gue mengingatkan, buat apa, sih, hemat-hemat tapi makannya belum jelas halal? Kalau gue, sih, menyimpulkannya begini, kalau emang mau hemat mending hemat sekalian enggak makan daging, makan aja ikan atau telur dan sayuran, kalau mau makan daging, ya cari yang halal sebisa mungkin, karena buat apa gituloh hemat-hemat yang cuma beda berapa ratus tapi ya begitu enggak jelas halalnya atau bahkan haram sama sekali, justru di sini letak ujiannya, toh Allah Maha Kaya, saat kita menjaga prinsip kita, menjaga agama Allah, Allah akan jaga balik kok, jadi kalau kita khawatir keuangan akan lebih menipis karena membeli makanan yang halal, tenang aja, Allah Maha Kaya dan Mengayakan, Meeen!
Lalu gue jadi ingat ada teman yang mengajak diskusi soal pernikahan secara Islami yang dipisah tapi membuang banyak biaya atau yang tidak dipisah dengan lebih sedikit biaya, gue tanyakan pertanyaan itu ke Kaichou di komunitas gue, dan jawabannya mirip sama kasus makanan ini. Kalau mau hemat, yaudah pernikahannya biasa aja tapi tetap di-syi'ar-kan (istilahnya), disebarkan, karena kabar baik itu harus disebarkan, undang beberapa pria sebagai tamu undangan, begitu, sih. Tapi kalau emang mau mengundang lebih banyak lagi, ya usahakan sesuai dengan kaidah Islam, tetap dijaga, sesuai koridor, kalau emang rezekinya ada banyak, ya kenapa enggak dibuat yang spesial dipisah antara lelaki dan perempuan juga segala macamnya?
Kembali ke soal makanan. Hal semacam ini juga sering ditanyai sebenarnya pas ada kajian-kajian gitu. Ini masuk ke bab keringanan gitu kali ya? Istilahnya apa? Rukhshah, ya? Kalau kita tinggal di tempat yang minoritas muslim, sedikit daging halal. Kalau memang enggak ada daging halal sama sekali, ya ada kok keringanannya, tapi kalau mau lebih menjaga, ya makan aja ikan atau yang lainnya gitu selain daging, tapi, kalau di tempat itu sudah ada daging halal, ya hukumnya kembali ke awal, makanlah hanya yang halal. "Setiap kesempitan melahirkan kemudahan. Apabila keadaan menyempit, maka (hukum) meluas, apabila sudah meluas, maka (hukum) kembali menyempit", gitu sih kaidah fiqh-nya, nemu di AsKaichou IOC guee, hahaha.
Intinya sih, ya ... (Gue suka banget kalimat ini, izin ngutip, ye), "Islam itu gampang, kok, tapi ya jangan digampangin." --Kaichou IOC
No comments:
Post a Comment