Wednesday, April 29, 2020

A New Journey: Love?

Kalau dilihat-lihat lagi ternyata dia memang manis ya, orangnya juga ceria dan ramah, beda kok sama yang Bapaknya bilang. Meskipun anak baru, bisa dibilang orang-orang di kantor ini juga sudah banyak yang mengenalnya. Ckckck luar biasa … Apa gue terima aja ya tawaran dari Bapaknya …? Kira-kira perlu mas kawin berapa ya …? Terus kalau udah nikah, dia mau punya anak berapa, ya?


“Bang! Bang James! BANG JAMES!”


Seorang lelaki yang akrab dipanggil ‘Bang James’ itu terkejut, buru-buru mengusir lamunannya, karena di depannya sudah ada wanita yang menurut selentingan kabar—kabar dari ayah wanita tersebut—merupakan wanita yang sangar tapi nyatanya sangat cantik dan manis—setidaknya menurut James.


“E-eh …. Bia? Mau ke mana?” hampir saja Ia memanggil Bia dengan sebutan ‘Neng Bia’, yang hanya akan membuat James merasa menjadi abang-abang di gang pengkolan yang senang menggoda wanita cantik lewat.


“Mau pulang Bang, udah selesai nih kerjaan Bia. Bang James enggak pulang?” jawab Bia ramah dan manis sekali, maklum, James itu ‘kan seniornya di kantor.


“Eh, ah, oh iya, Abang juga mau pulang kok! Bia naik apa? Bareng Abang aja!”


“Oh, kalau Bia sih biasanya naik kendaraan umum Bang! Eh, emangnya kita searah ya? Abang bawa kendaraan pribadi?”


James menepuk keningnya, tersadar akan sesuatu.


“Eh, iya, motor Abang ‘kan lagi di bengkel ….”


Bia tersenyum, wajahnya yang sudah manis semakin menjadi manis.


Duh … Gusti! Ucap James dalam hati.


“Yaudah, bareng naik bus aja, yuk!”


Baru saja Bia akan menganggukkan kepalanya, namun seorang lelaki seumuran James lebih dulu mengganggu percakapan seru mereka.


“Oy, Ja! Jaja! Yok, pulang! Kita kan mau mabar di kos-an lo!” sambil berkata, laki-laki itu merangkul James dan menyapa Bia.

Mabar alias main bareng adalah kegiatan bermain online game secara bersama-sama, bisa juga bermain Playstation (PS) bersama. Tetapi yang terjadi dengan James dan segenap teman-temannya adalah, mereka hanya bermain tebak-tebakan garing (tidak lucu) di kos-an atau di pos kamling dekat kos-an James bersama babak-bapak sambil menyeruput kopi dan menyantap pisang goreng buatan Mbok Yem.

“Halo, Mas Aziel! Jaja? Siapa Jaja?”

James menyikut lengan temannya itu, "Udah gue bilangin jangan panggil gue Jaja!" bisiknya kesal.


"Hehe, itu maksudnya si James ... Biasa .... panggilan sayang," ucap Aziel seraya mengedipkan mata kanannya ke arah James.


“Oh, Bang James ... jadi Bang James itu nge-kos, ya?” Bia kembali bertanya, berusaha mengalihkan topik nama panggilan sayang Aziel terhadap James.


“Iya, dia nge-kos, enggak jauh kok dari sini.”


Lagi-lagi Bia tersenyum, tapi kali ini sembari mengerutkan kening,


Terus ngapain ngajak pulang bareng kalau rumahnya dekat kantor? begitulah pikirnya.


***


Duh, ganteng banget, sih, Pak!


Ya Tuhan … cobaan apa lagi ini? Kenapa Engkau membuatku mencintai satu lagi makhluk-Mu, ini? Udah ganteng, kaya, kredibel, seiman, single lagi! Nikmat Engkau mana lagi yang aku dustakan?


Wah, kalau begini jadinya apa sebaiknya gue berhenti kerja terus gabung di dunia politik ya? Siapa tahu kan, ketemu terus Bapak itu terus jodoh, ya kan? Yaa … siapa tahu!


Sambil takut-takut, Bia melirik ke kursi samping pengemudi, menemukan sahabatnya yang sedang tersenyum-senyum sendiri.


“El, lo kenapa, sih? Kok, senyum-senyum sendiri gitu? Perhatiin gue dong! Seram nih!” 


Sadar dipanggil, Eliana segera menghentikan ibu jarinya untuk terus menerus scrolling komentar di akun media sosial seorang gubernur muda-tampan, Aditya Ismail, dan mulai memusatkan perhatiannya ke depan dan ke samping, memastikan Bia sudah benar dalam mengemudi.


“Hehehe, sorry! Udahlah, enggak usah tegang! Lo udah jago kok nyetirnya! Nih buktinya udah bisa ngobrol sambil pegang stir!”


Tiin! Tiin!


“Yee … baru dipuji sedikit, kok malah belok kanan pakai sein kiri! Tuh di-klakson-in”


“Lagian, lo, sih main HP terus! Kan gue masih grogi! Lagi lihatin apa, sih? IG-nya Xander? Yaelah, paling-paling dia posting kucing lagi, ‘kan! Emang ya tuh orang, badan doang yang keker pake acara muka sangar, tapi hatinya hello kitty banget! Ampun deh gue!”


Mendengar bodyguard kesayangannya dicemooh, Eliana agak kesal namun juga tidak kuasa untuk menahan tawa membayangkan begitu kontrasnya Xander yang biasa dijuluki Lucifer tetapi sangat penyayang binatang dan kerap kali mem-posting foto-foto kucing lucu di akun media sosialnya.


“Siapa bilang dia posting kucing doang? Dia baru aja posting OOTD, lho! Gila, ya, untung mukanya enggak ikut kefoto, gue enggak bisa bayangin dia bakalan dapet berapa ribu komentar dari cewek-cewek! Ini aja baru semenit lalu di-post, komentar fotonya udah mau dua ribuan! Udah gitu followers-nya langsung nambah beribu-ribu, lagi! Ckckck!”


“Nah, tuh, ketauan ‘kan lo kepo-in IG-nya dia!”


“Eh eh … gue enggak kepo-in kok, tapi ya namanya berteman, posting-annya muncul di timeline gue! Lagian, yang gue kepo-in itu si Bapak Gubernur ganteng yang bakal ketemu sama kita ini! Dasar ya cowok ganteng sama aja, komentar posting-annya kebanyakan dari cewek-cewek dan ibu-ibu, udah ribuan juga! Waduh …”


Bia mendengus, ternyata jiwa fangirling sahabat sejak kecilnya ini masih belum lenyap dimakan usia. Bia pun teringat masa-masa dimana mereka masih SMP dan sempat bertengkar akibat seorang lelaki.


Bukan, mereka bukan memperebutkan cinta seorang lelaki pada jaman SMP, karena mereka sudah berjanji untuk tidak mencintai lelaki yang sama demi persahabatan mereka. Untungnya saat dewasa minat mereka pun berbeda jadi meskipun selalu pergi ke sekolah yang sama, tetapi ada banyak perbedaan termasuk perbedaan tempat kerja, ini pun sebagai salah satu siasat untuk tidak bertemu dengan orang yang itu-itu saja yang kemungkinan bisa menimbulkan konflik seperti cinta segitiga.


Namun yang diingat Bia adalah, hari itu saat usia mereka menginjak angka empat belas tahun, Mereka sangat tergila-gila dengan seorang penyanyi sekaligus aktor berkebangsaan Jepang yang lebih tua beberapa tahun dari mereka. Bukannya fokus untuk mengikuti berbagai ujian kelulusan dan ujian masuk SMU, Bia dan sahabatnya, Eliana, justru asyik menonton setiap acara drama, variety show dan konser yang dibintangi oleh penyanyi sekaligus aktor tersebut.


Hingga ada di suatu hari ketika mereka bergegas menuju tempat penjualan majalah untuk membeli majalah edisi khusus grup idol tersebut, dan mereka dihadapkan dengan kondisi majalah yang tinggal satu buklet. Tanpa pikir panjang, mereka pun mengambil majalah tersebut yang mana sudah ditatap juga oleh gadis lain. Dan terjadilah perebutan majalah edisi khusus antara dua gadis asal Timur dan dua gadis (yang kabarnya) asal Barat. Timur dan Barat, maksudnya area sekolah mereka yang terpampang dari seragam sekolah yang mereka kenakan.


“Bi, awaas!”


Treeet! Bia segera menginjak rem, mendadak.


“Nah, lho, sekarang lo yang melamun! Mikirin apa, hey?”


Hampir saja mobil Eliana yang dikemudikan Bia menerobos lampu merah.


“Hahaha, sorry, El! Gara-gara lo stalking IG cowok-cowok, gue jadi kepikiran jaman kita fangirling rebutan majalah sama anak-anak SMP Barat!” Bia menjelaskan dengan sesekali melirik ke arah Eliana.


“Hahaha, untungnya itu majalah robek ya, jadinya adil buat kita semua,” ucap Eliana yang membuat Bia terkekeh geli dengan masa itu.


“Tapi, El, kalau gue perhatiin, kayaknya Pak Gub itu suka deh sama, lo! Kelihatan banget deh dari caranya menatap mata lo waktu itu,” lampu perempatan jalan sudah berwarna hijau, kesempatan Bia untuk kembali menjalankan mobil meski dengan perasaan was-was.


“Wah, lo beneran udah jago bawa mobil ya! Bisa sambil bercanda gitu!”


“Gue enggak bercanda, El! Beneran deh waktu itu gue perhatiin kalian soalnya!” Bia memang tidak bercanda, Ia justru fokus sekali melihat jalanan, khawatir tiba-tiba harus mendadak menginjak rem lagi.


“Eh tapi, El, kalau misalnya nih ya …. Misalnya aja deh, Pak Gub itu beneran suka terus ngajak lo nikah gimana? Elo … maksud gue gini, secara ‘kan beliau itu duda ya, dan … duda beranak satu umur lima tahun


“Terus kenapa? Lo keberatan sama duda beranak satu?”


“Eh? Kok gue? Jadi maksudnya, lo beneran bakal terima dia, El?”


“Apaan sih lo, Bi, emangnya gue bilang gue suka sama beliau? Gue cuma kagum aja, kok! Ya, gue sih sebenarnya enggak mempermasalahkan status dia sekarang ya, tapi pertanyaannya, emangnya beneran dia suka terus langsung ngajak gue nikah gitu? Ketemu aja baru berapa kali!”


Bia agak merasa bermasalah atas pertanyaan ke sahabatnya itu, tapi Ia tetap melanjutkan.


“Nah, kalau Xander gimana?”


Yang ditanya sedang minum air mineral dari botol untuk meredakan rasa kesalnya, tapi bukan Bia namanya kalau tidak mengejutkan dan membuat semakin kesal, secara tidak sengaja Eliana pun menyemburkan air yang mulai masuk ke mulutnya itu.


***
Ini adalah challenge menulis bernama 'STORY BLOG TOUR', dimana member lain yang sudah diberi urutan melanjutkan cerita sesuai imajinasinya di blog pribadinya. Jadi, jika ingin tahu kelanjutan cerita di atas sampai akhir, silakan mengikuti link blog yang ditampilkan di setiap akhir cerita yaa :) Saya, Kenti. Mendapat giliran kedua membuat cerita. Cerita ini akan dilanjutkan secara berantai oleh member grup lain yang berpartisipasi ke dalam challenge ini.
Ep 1 : An Unspeakable Word | by Saa
Ep 2 : A New Journey: Love? | by Kenti
Ep 4 : still on progress 
Ep 5 : still on progress 

Ep 6 : still on progress

Thursday, April 23, 2020

REVENGE

Ya Allah! Setelah sekian abad aku ngga nulis apalagi nulis cerita! Hahaha, semoga sambungan cerita ini masih nyambung ya T,T huhuhu

Check it out!

***


“Eliana … lari!”
“Lari, Eliana, terus lari! Kakak ada di belakangmu!”


Ah, dimana aku? Itu … anak kecil itu bukannya aku? Lalu … anak laki-laki itu … sepertinya aku kenal ….


Tunggu! Bukannya itu … Kak Tian? 


Dor!


Eh, Kak Tian! Kak Tiaaan!


“Aaaarrrghhh … !” 


“Eliana!”


Tiba-tiba aku terbangun di suatu ruangan mungil serba putih. Tubuhku penuh keringat, aku dapati jantungku berdetak tidak beraturan.


“Halo, El! Kamu sudah sadar?” Seorang wanita cantik memakai jas putih dengan stetoskop menggantung di lehernya memanggilku, aku bisa melihat wajahnya penuh dengan kekhawatiran.  


“Kamu mimpi itu lagi?” 


Aku mengangguk, menerima air putih yang Ia sodorkan. Napasku tersengal namun berangsur normal.


“Lho? Kok aku bisa ada di sini, Kak?” Tanyaku pada sosok dokter wanita yang merupakan dokter kenalan sekaligus kakak tingkatku di perkuliahan.


“Tadi kamu pingsan dan ada yang bawa kamu ke sini, laki-laki ganteng blasteran tapi agak oriental? Dengan setelan super bermerek. Siapa tuh? Gandengan kamu, ya? Hehe … eh, tapi kok wajahnya kayak enggak asing ya … dan kok pas banget ya dia bawa kamu ke sini? Memangnya kamu habis darimana sama dia? Cie cie,” Kak Laely mulai menyerocos panjang lebar seperti biasa, dasar dokter aneh!


Ah iya, tadi aku habis dari mana, ya? Oh iya, orang itu … rupanya ia pun tahu klinik langgananku.


“Eh, kok melamun? Kamu ngga apa-apa? Nih, minum obatnya! Kambuh ya, anemia-nya?”


Aku mengangguk, menerima obat dan segera meminumnya.


Aah … mimpi itu lagi. Mimpi yang mulai aku dapatkan sejak tujuh tahun lalu. Sebelumnya aku tidak tahu apa maksud mimpi itu, aku bahkan tidak tahu siapa anak laki-laki di balik mimpi itu. Tetapi setelah bertahun-tahun mencari tahu, aku sadari bahwa anak laki-laki berusia sepuluh tahunan itu adalah kakak sepupuku yang sangat aku sayangi. Seorang kakak sepupu yang seperti kakak kandungku, yang selalu menjagaku. Kak Tian, anak laki-laki manis dan tampan dengan wajah blasteran western-oriental-nya. Ia menghilang ketika diculik bersamaku yang saat itu masih kecil. Menurut cerita ayahku, aku beruntung ditemukan dalam keadaan masih hidup setelah jatuh terjerembab ke jurang, tapi tidak dengan Kak Tian, entah Ia masih hidup atau tidak, jasadnya tidak pernah ditemukan hingga kini. Dan yang aku benci adalah, kenapa bisa-bisanya aku melupakan sosok Kak Tian? Kenapa bisa-bisanya saat kecil aku begitu trauma hingga melupakan wajah penuh senyumannya dengan kedua bola matanya yang hitam kelam itu? Dan ayahku, bisa-bisanya Ia pun menyewa seseorang untuk menghipnotisku sehingga aku benar-benar melupakan trauma itu sekaligus melupakan sosok Kak Tian? Aku sangat benci ayahku ketika aku tahu kenyataannya tiga tahun lalu. Meskipun menurut masyarakat dan media, ayahku adalah sosok yang dikagumi dan berjiwa patriot, tapi tidak bagiku, aku sangat membencinya hingga tidak ingin menghubunginya lagi, bahkan di saat seperti ini pun, bahkan sekalipun Ia bisa membantuku untuk menangani kasus ini, bahkan sekalipun Ia adalah pemegang kekuasaan terhadap berbagai kasus korupsi seperti yang dilakukan Tirta dan Pak Indra dalam rekaman flashdisk itu.


***


Hari ini aku menutup klinikku. Entah mengapa rasanya pusing sekali menghadapi apa yang terjadi beberapa minggu ini dan aku bahkan tidak sanggup untuk menangani persoalan para pasienku. Ah, aku merasa gagal dalam profesiku.


Tapi dibandingkan berdiam diri di rumah, aku justru memilih menuju rumah sakit yang tidak jauh dari apartemenku, tempat dimana Bia dioperasi dan dirawat akibat luka tembaknya. Sudah beberapa hari sejak Ia terkapar akibat luka tembak yang sempat membuatku ketakutan setengah mati dan teringat masa lalu. Tapi kabar dari rumah sakit, pagi ini Bia sudah siuman, meskipun apa yang terjadi setelahnya adalah ... anak itu hanya diam termangu saat kusapa dan kuajak berbicara dengan sesekali terlihat raut ketakutan di wajahnya. Aah … lagi-lagi teringat masa lalu, masa kecilku.


Selama beberapa hari Bia dirawat di rumah sakit, aku mencoba membuka flashdisk yang Bia berikan padaku dan flashdisk yang Bia temukan dari dalam tasnya. Aku mendengarkan rekaman itu berulang kali dan mencoba mencernanya. Tapi aku masih belum benar-benar yakin apa yang mesti aku lakukan, hingga akhirnya di suatu hari saat aku kembali ke rumah sakit untuk menjemput pulang Bia dan menebus obatnya.


“Wah, luar biasa ya pengacara itu! Sudah tampan, muda, berbakat pula! Seandainya ia menjadi menantuku … ” sembari menunggu antrian penebusan obat, aku mendengar ibu-ibu berusia 50-an sedang membicarakan seorang tokoh di pemberitaan televisi.


“Hahaha, memang keren, ya …. Bajunya juga terlihat bermerek, memang luar biasa. Tapi … saya bingung, terkadang Ia terlihat manis tapi di sisi lain, saya rasa wajahnya terlihat sangat arogan, ya?” tanya seorang ibu-ibu yang lain, membawa seorang anak berusia kira-kira sepuluh tahunan yang tampak lesu.


“Ya … dia memang cukup manis, tapi dia selalu terlihat arogan ketika sedang menangani suatu kasus. Karena itu pula orang-orang menjulukinya dengan nama yang terdengar agak … agak misterius dan seram!” ujar ibu-ibu itu lagi dengan sedikit memelankan suaranya.


“Memang apa julukannya?”


“Lucifer!” aku tersentak dan mengalihkan pandanganku dari layar ponsel, menoleh pada kedua ibu-ibu itu untuk sedetik kemudian mencari arah suara televisi.


Ah, ya … orang itu. Dia memang cukup menjadi bahan perbincangan, aku sering mendengar namanya tapi tidak terlalu tertarik. Hanya saja sejak pertemuan kami tempo hari, aku menjadi penasaran dengan orang itu. Sependek pengetahuanku hingga saat ini, dia adalah seorang pengacara ternama yang sering memenangkan berbagai kasus sulit, yang bisa dibilang bahwa kasus-kasus tersebut milik para konglomerat, pejabat negara atau orang-orang menjanjikan lainnya. Ia dijuluki Lucifer karena wajah garangnya dengan mata yang sebenarnya hitam kelam namun seakan memerah setiap kali mengadakan persidangan. Ia tidak takut pada apa pun, termasuk lawannya sekaliber apapun itu. Ia senantiasa memberikan bukti-bukti yang (tampak) valid untuk membela kliennya. Iya, dia dijuluki Lucifer karena menurut beberapa komentar yang aku baca di pemberitaan internet, Ia bisa menghalalkan segala cara untuk memenangkan setiap kasusnya. Meskipun begitu, tidak ada yang benar-benar bisa membuktikan apakah Ia memang selicik itu atau tidak.


Tapi dibanding melihat wajahnya di televisi, aku mendapati wajah seseorang yang sepertinya sering aku lihat. Oh iya, dia itu ‘kan gubernur yang terkenal itu. Apa saat ini mereka beraliansi? Eh, tapi tunggu! Suara gubernur itu ... Sepertinya aku pernah mendengarnya akhir-akhir ini. Dimana, ya? Sepertinya aku tidak terlalu sering menonton televisi. Lantas dimana aku mendengar suaranya yang akhir-akhir ini tidak asing di telingaku? Lalu, ada kasus apa ya gubernur itu dengan Tuan Xander?


“Nona Gabia Revalia!”


“Nona Gabia Revalia! Sekali lagi panggilan kepada Nona Gabia Revalia!” lagi-lagi aku tersentak, melamun adalah kegemaran terbaruku.


“Ah, iya!” aku segera menuju loket obat.


***


Kriing … kriiing …


Nomor siapa ya? Angkat enggak, ya? Gimana kalau orang jahat? Ah, enggak deh!


Kriing …. Kriiing ….


Duh, siapa, sih? Jangan-jangan pasienku? Tapi masa sih? Coba angkat aja, deh!


“Halo? Maaf dengan siapa ya?”


“Eliana?”


Deg! Aku tahu suara ini, ingin sekali aku segera mematikannya.


“Jangan diputus! Kamu masih membenci Ayah? Eliana, Ayah mohon, pulanglah! Ayah selalu khawatir denganmu, dengan keselamatanmu!”


Aku menghela napas, malas menanggapi.


“Kenapa kamu harus sebenci itu dengan Ayah? Kamu ‘kan sudah dengar penjelasan Ayah ... “


“Ayah, aku capek. Sebentar lagi aku sampai rumah, aku mau segera tidur. Aku akan matikan teleponnya,” aku menjauhkan teleponku dari telinga, bersiap untuk mengakhiri pembicaraan.


“Satu menit! Izinkan Ayah bicara satu menit!”


Aku terdiam.


“Apa Gabia sakit? Luka tembak? Oh, ya Tuhan!”


Eh? Bagaimana Ayah tahu?


“Lalu bagaimana kabarmu, Nak? Apa kamu baik-baik saja? Oh ya Tuhan, Ayah hampir mati saat mendengar berita ini,”


“Bagaimana Ayah tahu? Ayah memata-mataiku? Ayah selalu saja bertindak seenaknya begitu!”


“Ini demi kebaikanmu, Nak!”


“Ucapan itu lagi! semuanya selalu Ayah lakukan seenaknya dengan dalih seperti itu. Aku bukan anak kecil lagi, Ayah! Apa sekarang Ayah pun mau menghipnotis aku agar pulang? Tidak akan! Itu tidak akan terjadi!”


“Eliana, Ayah mohon! Bukan begitu … Eliana, Berhati-hatilah! Keluarga kita sejak dulu tidak aman! Kali ini Ayah pun diancam! Dan siapa lagi? Kamu, kamu adalah satu-satunya yang tersisa untuk Ayah! Ayah tidak rela jika kamu pun pergi,” aku mendengar suara Ayah agak bergetar, ayahku yang kuat dan hebat memang bukan orang jahat, Ia hanyalah orang baik dengan banyaknya musuh.


“Eliana … sekarang Ayah tahu mengapa dulu kalian diculik …. Jantungmu! Jantungmu Eliana!” suara Ayah terdengar semakin bergetar


“Apa maksudnya? Jantungku kenapa? Jantungku sehat, Ayah!”


“Untuk balas dendam pada Ayah! Donor jantung! Mereka menginginkan jantungmu! Dulu dan sekarang! Untuk putrinya! Putrinya yang baru saja menikah!”


APA? Apa maksudnya? Jantung? Putrinya yang baru menikah? Balas dendam!


Belum sempat aku bertanya, tiba-tiba ada sebuah tangan membekap mulutku. Ponselku jatuh, Ayah memanggilku tapi aku mulai kesulitan bernapas dan semuanya gelap. Sa …  ngat gelap seperti dulu aku diculik.


Ayah, Kak Tian, tolong aku!


***

Catatan Penting :
Ini adalah challenge menulis bernama
'STORY BLOG TOUR', dimana member lain yang sudah diberi urutan melanjutkan cerita sesuai imajinasinya di blog pribadinya. Jadi, jika ingin tahu kelanjutan cerita di atas sampai akhir, silakan mengikuti link blog yang ditampilkan di setiap akhir cerita yaa :)

Ep 1 : Capable of Destroying Anything
Ep 2 : The One Who’s Watching From Afar
Ep 3 : Mystery
Ep 4 : Am I Lucifer?
Ep 5 : Revenge 
Ep 6 : Kak Nana

Thursday, March 26, 2020

Unmotivate

Haloo.. blog-ku, Sayang...
Urinmaneyo.. hisashiburii.. long time no see..
Enggak kerasa ternyata udah 2 tahun ya gw ngga nulis apa-spa di sini, bahkan di platform lain pun rasanya males banget, ogah-ogahan terus..

Huaa... kenapa ya?
Tahun-tahun terakhir ini rasanya demotivasi gitu untuk melakukan hobby yang biasa gw jalani, termasuk nulis dan baca novel! Wow, 2 hal yang selalu gw senang lakukan.. yaa, walaupun gw masih rajin baca webtoon sih, hehehe..

Halo, 2020.. sekarang udah bulan Maret!
And you know what? Sekarang lagi musim penyakit.. ada sebuah virus yang berevolusi, namanya Corona Virus/COVID19.

Ah, Rabbi.. cobaan apalagi ini?
Sekolah-sekolah, kantor, rata-rata diliburkan.. mal-mal dan tempat wisata sepi, kita ngga boleh keluar apalagi untuk kumpul-kumpul..

Bukan cuma Indonesia, tapi hampir menyelimuti seluruh belahan dunia..

Aah.. mentalku, what should I do? Di rumah terus sih enak.. tapi yaa biasalah, kalo sendirian dan gak produktif tuh yang ada ujung-ujungnya nethink dan overthinking..

Selamatkan aku, yaa Rabb..
Selamatkan kami..
terutama dari rasa unmotivate ini :(

Sunday, January 28, 2018

Semacam Sebuah Pencitraan

Haloooo! Wah, udah  tanggal 28 Januari 2018 aja, nih! Kayaknya udah sekitar dua bulan lebih gue enggak nulis di sini, yang padahal sebelumnya gue janji mau nulis, ckckck. Nulis itu ibarat air sih, gue berasa haus gitu kalau perasaan lagi kacau terus enggak nulis, tapi untungnya gue masih nulis di Instagram, meski yeah, agak malu-malu juga kalau mau curhat di sana, hehehe.

Jadi ini sudah tahun baru, Gaes! Udah 2018, meeen! Malahan udah mau Februari, wkwkwk. Berasa seret banget enggak nulis panjang di blog, huh, bete tiap kali nulis di IG enggak bisa bener-bener terbuka dan panjang-panjang -____-

Jadi...
Setelah berpikir berbulan-bulan, melewati banyak pertimbangan, akhirnya gue putuskan gue akan pulang ke Indonesia bulan Mei ini dan kuliah di sana aja. Gue punya alasan banyak sebenarnya, dan ada juga alasan yang mungkin buat beberapa orang konyol, tapi buat beberapa yang lain mungkin mulia. Gue enggak tahulah, terserah orang-orang aja mau berpendapat apa, yang penting gue pada diri gue dan tahu apa yang gue lakukan.

Tapi, ya...
Masih seperti biasa, kayaknya hidup gue diliputi kegalauan melulu deh. Apa karena usia gue? Well, orang-orang yang ketemu gue biasanya bakal mikir kalau gue terlihat lima tahunan dari usia gue sesungguhnya. Gue heran dan sering memikirkan ini pada diri gue sendiri pun teman gue. Why? Gue terlihat tua banget, yah? Apa terlihat dewasa? Yang mana? Karena pakaian gue-kah? Atau karena pola pikir gue yang ngaruh ke penampilan? Hmm... Pada akhirnya, gue mau bodo amat, sih... meski kadang-kadang agak bete juga kalau dibilang lebih tua dari temen-temen yang sebenarnya lebih tua -___-

Seperti biasa, gue bingung mau nulis apa, bukan karena enggak punya bahan, tapi justru kebanyakan bahan. Gue pengeeeeen banget menuliskan semua perasaan dan pendapat gue, yang kalau gue cerita ke orang, belum tentu mereka akan mengerti, dan kadang gue suka nyesel sendiri karena cerita ke mereka, gue tetap lebih suka menyimpan sendiri sih meskipun gue banyak omong.

Gue cuma lagi sedih aja saat ini. Pada diri gue. Lalu gue berkontemplasi, mencoba berbicara pada diri sendiri dan beberapa orang. Ini wajar enggak, sih, buat anak seumur gue? Iya, gue masih selalu menganggap kalau gue memang masih kanak-kanak, terlepas dari usia gue yang sudah dua puluh satu, atau terlepas dari tampang gue yang kayak orang dua-enam-an lebih, gue tetaplah hanya seorang anak-anak, yang mungkin terpaksa mesti dewasa.

Terkadang gue mikir kalau gue enggak sepercaya itu terhadap orang lain. Gue enggak tahu apakah kita mesti percaya seratus persen atau enggak pada orang lain, meski keluarga sendiri. Tapi setiap kali gue mikir begitu, setiap kali gue merasa sebaiknya enggak percaya seratus persen ke orang lain, jadi sedih aja gitu. Karena gue sangat takut. Gue seorang yang penakut. Lalu, ketika gue ingin percaya pada seseorang, gue takut kalau gue enggak benar-benar bisa percaya, gue pun takut kalau harus benar-benar percaya. Entahlah. Of course, cuma Allah yang paling bisa dipercaya, tapi ini konteksnya gue lagi ngomongin orang, men! Terhadap Allah pun, gue khawatir kalau gue belum bisa percaya seratus persen, yaa, mungkin memang gue enggak percaya sama Dia seratus persen jadinya gue suka takut, galau, resah dan semacamnya. Hmm...

Gue hanya ingin menjadi seseorang yang lebih baik lagi dari hari ke hari.

Itu cita-cita gue sedari dulu. Dan sekarang ini, seiring gue tumbuh, belajar, melihat sana-sini, gue mulai menemukan tujuan gue hidup yang sebenarnya, atau lebih tepatnya mengokohkan kembali kalimat lampau yang cuma sekadar basa-basi. Yaa... Gue ingin hidup sebagai seorang muslim yang baik, yang semua-muanya demi Allah, karena Allah. Rasanya sekarang gue menganggap dunia emang beneran cuma taman bermain dan tempat penitipan aja. Gue pengen coba ini dan itu, kalah-menang, gagal-sukses, apa pun itu bodo amat rasanya, gue cuma pengen nyoba aja, pengen tahu sensasinya.

Tapi sayangnya, ternyata berat juga, yah! Ketika bahkan gue sudah punya prinsip begini dan begitu, masih aja gue suka bablas, kelewat jalur. Kadang gue jadi takut untuk menjadi semakin dewasa, apakah gue benar-benar akan bisa bertahan? Dengan seluruh prinsip yang gue pegang? Gue takut, kalau perlahan prinsip itu memudar, prinsip yang sebenarnya menjaga gue tapi lambat-laun malah gue anggap mengganggu. Hmm... kalau sudah begitu, mungkin memang sebaiknya gue selalu minta dijaga, gue titipkan hati gue padaNya, Sang Tempat Penitip Terbaik.

Sekarang ini, mungkin memang masih masa-masa transisi banget buat gue, dari remaja ke dewasa. Jadi mungkin gue banyak ngegalau, yah! Mungkin buat mereka yang sudah mengalami hal seperti gue hanya akan tersenyum atau tertawa, yaa gue berharap mereka mau mendoakan gue juga, sih.

Sekarang-sekarang ini, gue pengin lebih menghargai dan memahami semuanya. Tentang diri gue, hidup gue, tentang orang lain juga hidup mereka, dan tentang hidup ini sendiri secara keseluruhan. Dulu, ketika dikasih pilihan Mekkah atau Paris gue akan lebih memilih Paris, tapi entahlah, rasanya gue rinduuuu banget sama Mekkah, Paletina dan tanah-tanah yang diberkahi itu. Gue benar-benar ini menjadi sebuah jembatan, gue ingin mewakafkan diri gue di jalanNya. Yeah, terdengar utopis bangetlah ini, gue enggak tahu, atau mungkin terasa riya atau pencitraan, atau apalah, gue hanya ingin menuliskan mimpi-mimpi gue aja. Gue ingin selalu bisa bilang "Daijoubu!" terhadap diri gue sendiri atau orang lain. Terhadap kebodohan-kebodohan gue, kesalahan gue, kecerobohan gue, dan semacamnya itu. Seharusnya gue bisa berbuat lebih, tapi... ya sudahlah, gue enggak pengin sedih ketika gue belum mencapai sesuatu. Apa memang hidup ini hanya soal pencapaian? Kalau menurut Kak Gitasav dan teman gue sih kayaknya enggak tuh. Yah, gue belajar juga soal ambisi di sini.

Gue pengin banget untuk selalu percaya minimal terhadap diri gue sendiri dan tentu Tuhan gue. Haaa... gue terlalu berlebihan nih kayaknya nulis begini, enggak apa-apa deh, awal tulisan gue di tahun yang baru. Perlahan perasaan gue terobati :)

Monday, October 09, 2017

Kantor feels like Rumah

Oktober, di musim gugur. 
Iya, gue rasa sekarang itu emang udah masuk ke musim gugur, kemarin-marin sempat belasan derajat celcius aja, eeh entah kenapa sekarang jadi panas lagi. Hmm..

Lagi-lagi gue menyesal, karena kalau dipikir-pikir kayaknya gue punya banyak hal yang bisa gue ceritain, entah itu nulis di blog kayak gini atau dijadiin bahan obrolan sama orang-orang di sekitar gue, tapi kok ya...

Yaa.. baelah!
Mungkin gue bakal mulai ceritanya dari sekarang aja, atas kejadian-kejadian menarik atau biasa aja yang gue alami kemarin-marin. 

Ngomong-ngomong, gue sering banget denger orang-orang ngomong atau bikin status di media sosial dengan kepsyen yang intinya bilang sekolah rasa rumah, lab rasa rumah atau kantor rasa rumah. Nah, gue jadi kepengin cerita dikit deh soal tempat kerja gue di Jepang ini, hahaha.

Buat kalian yang baca tulisan ini dan belum tahu dengan jelas apa yang gue kerjain di Jepang ini.. jadi ceritanya di sini itu gue lagi belajar bahasa Jepang di sebuah sekolah bahasa.. yaa lu anggap tempat kursus aja deh, tapi lebih intens gitu seminggu lima kali kayak sekolah, terus juga ada kegiatan lain-lainnya beneran kayak lu balik SMA lagi sih, karena kalau yang mau lanjut kuliah atau kuliah praktek gitu, lu bisa sekaligus persiapan di sini. Ada dua tipe gitu sih sekolah bahasa di sini menurut gue, ada yang belajar bahasa aja setiap hari, ada yang belajar IPA/IPS, matematika dan bahasa Inggris juga bahkan (biasanya ini kalau lu mau lanjut kuliah). Awalnya tempat gue cuma ada kelas bahasa doang tapi makin ke sini ada juga tuh persiapan kayak gitu. Ah, udahlah capek gue nerusinnya, pankapan aja mungkin.

Nah, rerata orang yang sekolah di sini itu kalau enggak dapet beasiswa, ya kita kerja. Jadi apa? Jadi apa pun yang kau inginkan! Kerja part time gitu, sih.. apa aja yang bisa lu kerjain ya dikerjain. Jadi kasir, jadi tukang bersih-bersih hotel, penerima tamu, di pabrik, bagi-bagi selebaran/koran, bikin ini bikin itu, dan segala macemnya ada aja. Capek, sih, capek banget buat mereka yang kerjaannya berat ngangkut-ngangkut gitu tuh, tapi ya seru juga. Gimana kita ngejalaninnya aja, sih.

Kalau gue?

Gue..

Gue..

Penyanyi!

Wkwkwk, enggak ding! Gue kerja di sebuah toko kelontong Indonesia gitu.. kami menjual berbagai macam bahan makanan khas Indonesia, sedikit Jepang, India, yaa asian foods gitu deeh, mentah. Ada jual kerudung dan baju juga sih dengan stok terbatas. Yang jadi andalan sih daging halalnya itu (ayam Jepang, sapi dan kambing Australia (dulu Jepang)). Meski toko kelontong ini terlihat mungil dipandang, tapi jangan salah.. kami (gue juga?) sudah berdiri belasan tahun, meen! Yaa lumayan terkenal laah seantero Jepang, jadi pelopor daging halal gituu.. panjang deh ceritanya. Ngapainkah gue di sini? Eh, kayaknya gue sempat cerita juga ya di posting-an sebelumnya, tapi baiklah gue berceloteh lagi.

Tugas utama kerjaan gue sih part time as cashier gitu ya.. tapi selain itu kerjaan lain juga menunggu, jadi ya banyak deh yang dikerjain. Mungkin pekerjaan yang gue lakukan di sini masih terhitung nyantai, tenang, aman, dan nyaman sih ya.. tapi ya seperti yang selalu orang-orang katakan, "Enggak ada kerjaan yang enggak capek,bro!" gue setuju, sih. Kelihatannya sederhana, tapi ya enggak menutup kemungkinan untuk capek juga. Bisa aja si pekerjaan yang secara fisik biasa aja justru menguras kecapekan yang lain, psikis misalkan. Yaa.. lihat aja presiden, atau pimpinan perusahaan dan sebagainya gitu, yang gerak boleh jadi bawahannya, tapi yang lebih kelimpungan mikir itu yang di atas. Dan seingat gue, kalau kita capek fisik, itu tuh cuma di fisik aja, tidur-istirahat bisa ngilangin capeknya, tapi kalau psikis? Malah bisa bikin capek fisik juga, bro!

Jadi, yaa.. gue lagi membela diri dan pekerjaan gue aja, sih, hahaha..

Balik lagi,
Salah-satu hal yang gue sukai bekerja di tempat seperti ini dan khususnya di tempat ini sih karena gue bisa ketemu banyak orang, bisa ngomongin apa aja, dan lumayan melatih kemampuan gue berinteraksi-komunikasi-yaa ngomonglah yaa.. sebenarnya orang Jepang yang datang enggak sebanyak orang Indonesia atau orang berbahasa Inggris, sih, jadinya gue enggak terlalu banyak latihan ngomong bahasa Jepang, tapi biar begitu gue bersyukur banget, sih, hahaha. Gue jadi punya banyak subjek untuk diperhatikan dan dipelajari gitu (penampilan, sikap, pemikiran, dan lain-lain), emang asli seneng banget belajar tentang manusia sih gue, wehehe.

Terus, ya.. saat orang-orang bilang kantor feels like home tuh, buat gue..

Tempat ini bahkan bukan sekadar feels like lagi, tapi really my home, deh!

Karena awalnya mau enggak mau gue mesti ke sini enam hari dalam seminggu (meski di beberapa harinya cuma sebentar), ya jadi kebiasaan aja gitu, dan kalau enggak ke tempat ini sehari aja jadi berasa aneh. Makanya, meski libur pun gue menyempatkan untuk sekadar 'nengok' hahaha, ngobrol-ngobrol minimal berapa menit gitu sama yang jaga, atau kalau lagi luang ya bantu-bantu. Misal jam kerja cuma dua hari karena lagi shift pun malah seringnya bablas seharian, hahaha.

Ya.. saat gue bilang ke bos gue tempat ini tuh udah jadi bagian hidup gue, sekarang saat gue mikir dan ngerasainnya lagi, emang beneran bagian dari hidup gue banget, sih, bukan sekadar karena gue bisa dapet gaji dari sini jadi bisa untuk hidup dan sekolah, bukan juga karena bisa tiba-tiba dapet makanan gratis, bukan juga cuma akal-akalan biar dibilang karyawan yang baik pas gue ngomong gitu, bukan. Tapi.. lebih dari itu.. dulu gue memutuskan mau ke sini untuk belajar bahasa dan budaya, tapi sebenarnya gue memang mengincar pelajaran yang lain, hahahaha. Bukan. Bukan bahasa Inggris, sains, teknologi, atau matematika, tapi lebih dari itu. Iya gue jadi makin banyak belajar saat di sini, dan gue bersyukur sekali.

Awalnya mungkin untuk beberapa pekerjaan gue rada ogah-ogahan, tapi makin ke sini jadi lebih menikmati aja, Alhamdulillah, mungkin karena pola pikir gue jadi berubah juga, ya. Gue menikmati berbagai momen di tempat ini, entah lagi ramai banyak teman kerja atau pembeli, entah saat gue sendiri enggak ada siapa-siapa baik itu teman ngobrol atau pembeli, entah saat ada pembeli yang bawel atau yang nurut-nurut aja ditawarin beli ini-itu, gue menikmati. Atau kalau pas diomelin orang di telepon, kalau pakai bahasa Indonesia atau bahasa Inggris gue masih suka jleb, tapi kalau si Ibu/Bapak pakai bahasa Jepang gue malah pengin ketawa karena belum paham apa maksud beliau, wkwkwk. Sebenarnya gue sering sih bikin kesalahan di sini, banyak banget, gilak! Ngilangin duit pun sering banget deh gue bingung padahal udah sebaik-baiknya gue ngasih kembalian, tapi ada aja gitu yang kurang termasuk hari ini. Jadilah gue yang lagi kere-kerenya ini harus ganti itu duit yang hilang, hiks, mungkin gue kurang sedekah, KZL, ZBL tapi ya udahlah, semoga besok enggak lagi.

Kadang, untuk beberapa hal gue jadi polos gitu, sih.. tadi tiba-tiba gue mikir, kayaknya kalau udah sayang sama seseorang atau sesuatu, gue jadi sayang banget, deh. Tapi di sisi lain gue juga jadi sering ngerasa sedih atau disakiti gitu, wkwkwk. Tapi masa sih yang disayang malah yang menyakiti? Mungkin sebenarnya bukan menyakiti, tapi kita (atau guenya) aja yang sering berlebihan sayang, lupa rules-nya, atau macem-macemnya itu, atau sebenarnya kitalah yang menyakiti diri sendiri, hmm..

Gue jadi kangen sekolah gue pas SMU, itu di sana udah kayak lagi kerja, setidaknya itu yang sering Ibu gue bilang dulu. Gimana enggak, pergi jam enam pagi pulang pun jam enam sore bahkan suka lebih. Belajarnya sih cuma sampai jam duaan, tapi kan gue sok aktif gitu jadi abis kelas sering ke tempat lainnya, entah itu OSIS, PMR, Rohis atau English Club atau lain-lain, sok sibuknya.. kalau pun lagi kosong ekskul/organisasi ya paling ngobrol-ngobrol doang sama temen di kantin atau ruang ekskul gitu. Iya, ruang ekskul/OSIS felt like home juga, huhuhu jadi kangen...

Kayaknya pas SMU itu gue bener-bener kebanyakan galaunya ke urusan program kerja organisasi doang deh, males banget ngurusin cowok, tapi makin gede yaa makin genit ternyata, ya.

Oya, tahun ini banyak banget orang yang pulang. Sebenernya mungkin tiap tahun, ya, tapi setidaknya di tahun ini tuh gue udah lebih banyak kenal dan dekat dengan orang-orang, jadi yaa sedih juga saat mereka pulang. Aduh, gue bahkan enggak bisa bayangkan kalau tahun depan, nangis banyak deh. Pengin rasanya bareng-bareng pulang sama mereka dan membangun tempat kami masing-masing, tapi di satu sisi gue juga masih ingin berlanjut untuk dapat ilmu yang lebih di sini. Oh, Allah.. hanya Engkau deh yang tahu mana yang terbaik. Kalau seandainya gue pun harus pulang tahun depan... tempat yang sekarang feels like home ini pasti bakal terngiang-ngiang banget di kepala dan hati. Mungkin butuh waktu juga untuk move on, tapi ya.. biar bagaimana pun suatu hari nanti gue pun mesti pisah dengan tempat ini dan segala hal yang ada di sini, demi sesuatu yang lebih baik pastinya. Iya.. gue pengin saat meninggalkan tempat ini karena memang sudah saatnya dan ada kelas baru yang mesti gue jadikan tempat untuk belajar lagi, saat gue balik lagi ke sini pun gue berharap karena gue udah lulus dari kelas sebelumnya juga dan siap jadi seseorang yang seseorang.

Ah, apa sih...
Mungkin ini seperti perasaan sayang seorang Ibu ke anak-anaknya ya, tulus. 
Gue jadi kangen Ibu, belum nelepon..

May Allah always blessing you ya, Mum, even, aku bukan anak yang romantis dan ekspresif ke keluarga, but yeah, I'll always love you and this is really too shy to say, actually, wkwkwk, aitai-lah pokoknya sama Ibu :') dan cuma Allah aja tempat menitipkan yang terbaik, hmm.. 

And you too, Dad, of course! Sore wa ii tokoro ne, soba no Kami-sama.
Otou-san, Aitai :)

Yoyoyo, padahal sekarang enggak lagi hujan tapi gue malah mengenang. Kayaknya gue berbakat untuk nulis curhatan ya dibanding yang lebih serius, baelah.. Have a nice night, hahaha! Anyway, ada yang suka nanya, "Kamu enggak takut apa kalau sendirian di sini? Suka sampe malem gitu?" Gue cuma ketawa mendengar itu, bagi gue, sesuatu yang gue sebut rumah itu justru memberikan perasaan nyaman dan aman, kalau gue takut, berarti bukan rumah (meski tempat kerja ya emang tempat kerja, sih, bukan rumah, haha), dan, yeah, sekarang udah malem, kayaknya gue mesti balik ke rumah yang sesungguhnya, yang bayar bulanannya itu sama kayak nyicil KPR.