Kalau dilihat-lihat lagi ternyata dia memang manis ya, orangnya juga ceria dan ramah, beda kok sama yang Bapaknya bilang. Meskipun anak baru, bisa dibilang orang-orang di kantor ini juga sudah banyak yang mengenalnya. Ckckck luar biasa … Apa gue terima aja ya tawaran dari Bapaknya …? Kira-kira perlu mas kawin berapa ya …? Terus kalau udah nikah, dia mau punya anak berapa, ya?
“Bang! Bang James! BANG JAMES—!”
Seorang lelaki yang akrab dipanggil ‘Bang James’ itu terkejut, buru-buru mengusir lamunannya, karena di depannya sudah ada wanita yang menurut selentingan kabar—kabar dari ayah wanita tersebut—merupakan wanita yang sangar tapi nyatanya sangat cantik dan manis—setidaknya menurut James.
“E-eh …. Bia? Mau ke mana?” hampir saja Ia memanggil Bia dengan sebutan ‘Neng Bia’, yang hanya akan membuat James merasa menjadi abang-abang di gang pengkolan yang senang menggoda wanita cantik lewat.
“Mau pulang Bang, udah selesai nih kerjaan Bia. Bang James enggak pulang?” jawab Bia ramah dan manis sekali, maklum, James itu ‘kan seniornya di kantor.
“Eh, ah, oh iya, Abang juga mau pulang kok! Bia naik apa? Bareng Abang aja!”
“Oh, kalau Bia sih biasanya naik kendaraan umum Bang! Eh, emangnya kita searah ya? Abang bawa kendaraan pribadi?”
James menepuk keningnya, tersadar akan sesuatu.
“Eh, iya, motor Abang ‘kan lagi di bengkel ….”
Bia tersenyum, wajahnya yang sudah manis semakin menjadi manis.
Duh … Gusti! Ucap James dalam hati.
“Yaudah, bareng naik bus aja, yuk!”
Baru saja Bia akan menganggukkan kepalanya, namun seorang lelaki seumuran James lebih dulu mengganggu percakapan seru mereka.
“Oy, Ja! Jaja! Yok, pulang! Kita kan mau mabar di kos-an lo!” sambil berkata, laki-laki itu merangkul James dan menyapa Bia.
Mabar alias main bareng adalah kegiatan bermain online game secara bersama-sama, bisa juga bermain Playstation (PS) bersama. Tetapi yang terjadi dengan James dan segenap teman-temannya adalah, mereka hanya bermain tebak-tebakan garing (tidak lucu) di kos-an atau di pos kamling dekat kos-an James bersama babak-bapak sambil menyeruput kopi dan menyantap pisang goreng buatan Mbok Yem.
“Halo, Mas Aziel! Jaja? Siapa Jaja?”
James menyikut lengan temannya itu, "Udah gue bilangin jangan panggil gue Jaja!" bisiknya kesal.
Mabar alias main bareng adalah kegiatan bermain online game secara bersama-sama, bisa juga bermain Playstation (PS) bersama. Tetapi yang terjadi dengan James dan segenap teman-temannya adalah, mereka hanya bermain tebak-tebakan garing (tidak lucu) di kos-an atau di pos kamling dekat kos-an James bersama babak-bapak sambil menyeruput kopi dan menyantap pisang goreng buatan Mbok Yem.
“Halo, Mas Aziel! Jaja? Siapa Jaja?”
James menyikut lengan temannya itu, "Udah gue bilangin jangan panggil gue Jaja!" bisiknya kesal.
"Hehe, itu maksudnya si James ... Biasa .... panggilan sayang," ucap Aziel seraya mengedipkan mata kanannya ke arah James.
“Oh, Bang James ... jadi Bang James itu nge-kos, ya?” Bia kembali bertanya, berusaha mengalihkan topik nama panggilan sayang Aziel terhadap James.
“Iya, dia nge-kos, enggak jauh kok dari sini.”
Lagi-lagi Bia tersenyum, tapi kali ini sembari mengerutkan kening,
Terus ngapain ngajak pulang bareng kalau rumahnya dekat kantor? begitulah pikirnya.
***
Duh, ganteng banget, sih, Pak!
Ya Tuhan … cobaan apa lagi ini? Kenapa Engkau membuatku mencintai satu lagi makhluk-Mu, ini? Udah ganteng, kaya, kredibel, seiman, single lagi! Nikmat Engkau mana lagi yang aku dustakan?
Wah, kalau begini jadinya apa sebaiknya gue berhenti kerja terus gabung di dunia politik ya? Siapa tahu kan, ketemu terus Bapak itu terus jodoh, ya kan? Yaa … siapa tahu!
Sambil takut-takut, Bia melirik ke kursi samping pengemudi, menemukan sahabatnya yang sedang tersenyum-senyum sendiri.
“El, lo kenapa, sih? Kok, senyum-senyum sendiri gitu? Perhatiin gue dong! Seram nih!”
Sadar dipanggil, Eliana segera menghentikan ibu jarinya untuk terus menerus scrolling komentar di akun media sosial seorang gubernur muda-tampan, Aditya Ismail, dan mulai memusatkan perhatiannya ke depan dan ke samping, memastikan Bia sudah benar dalam mengemudi.
“Hehehe, sorry! Udahlah, enggak usah tegang! Lo udah jago kok nyetirnya! Nih buktinya udah bisa ngobrol sambil pegang stir!”
Tiin! Tiin!
“Yee … baru dipuji sedikit, kok malah belok kanan pakai sein kiri! Tuh di-klakson-in”
“Lagian, lo, sih main HP terus! Kan gue masih grogi! Lagi lihatin apa, sih? IG-nya Xander? Yaelah, paling-paling dia posting kucing lagi, ‘kan! Emang ya tuh orang, badan doang yang keker pake acara muka sangar, tapi hatinya hello kitty banget! Ampun deh gue!”
Mendengar bodyguard kesayangannya dicemooh, Eliana agak kesal namun juga tidak kuasa untuk menahan tawa membayangkan begitu kontrasnya Xander yang biasa dijuluki Lucifer tetapi sangat penyayang binatang dan kerap kali mem-posting foto-foto kucing lucu di akun media sosialnya.
“Siapa bilang dia posting kucing doang? Dia baru aja posting OOTD, lho! Gila, ya, untung mukanya enggak ikut kefoto, gue enggak bisa bayangin dia bakalan dapet berapa ribu komentar dari cewek-cewek! Ini aja baru semenit lalu di-post, komentar fotonya udah mau dua ribuan! Udah gitu followers-nya langsung nambah beribu-ribu, lagi! Ckckck!”
“Nah, tuh, ketauan ‘kan lo kepo-in IG-nya dia!”
“Eh eh … gue enggak kepo-in kok, tapi ya namanya berteman, posting-annya muncul di timeline gue! Lagian, yang gue kepo-in itu si Bapak Gubernur ganteng yang bakal ketemu sama kita ini! Dasar ya cowok ganteng sama aja, komentar posting-annya kebanyakan dari cewek-cewek dan ibu-ibu, udah ribuan juga! Waduh …”
Bia mendengus, ternyata jiwa fangirling sahabat sejak kecilnya ini masih belum lenyap dimakan usia. Bia pun teringat masa-masa dimana mereka masih SMP dan sempat bertengkar akibat seorang lelaki.
Bukan, mereka bukan memperebutkan cinta seorang lelaki pada jaman SMP, karena mereka sudah berjanji untuk tidak mencintai lelaki yang sama demi persahabatan mereka. Untungnya saat dewasa minat mereka pun berbeda jadi meskipun selalu pergi ke sekolah yang sama, tetapi ada banyak perbedaan termasuk perbedaan tempat kerja, ini pun sebagai salah satu siasat untuk tidak bertemu dengan orang yang itu-itu saja yang kemungkinan bisa menimbulkan konflik seperti cinta segitiga.
Namun yang diingat Bia adalah, hari itu saat usia mereka menginjak angka empat belas tahun, Mereka sangat tergila-gila dengan seorang penyanyi sekaligus aktor berkebangsaan Jepang yang lebih tua beberapa tahun dari mereka. Bukannya fokus untuk mengikuti berbagai ujian kelulusan dan ujian masuk SMU, Bia dan sahabatnya, Eliana, justru asyik menonton setiap acara drama, variety show dan konser yang dibintangi oleh penyanyi sekaligus aktor tersebut.
Hingga ada di suatu hari ketika mereka bergegas menuju tempat penjualan majalah untuk membeli majalah edisi khusus grup idol tersebut, dan mereka dihadapkan dengan kondisi majalah yang tinggal satu buklet. Tanpa pikir panjang, mereka pun mengambil majalah tersebut yang mana sudah ditatap juga oleh gadis lain. Dan terjadilah perebutan majalah edisi khusus antara dua gadis asal Timur dan dua gadis (yang kabarnya) asal Barat. Timur dan Barat, maksudnya area sekolah mereka yang terpampang dari seragam sekolah yang mereka kenakan.
“Bi, awaas!”
Treeet! Bia segera menginjak rem, mendadak.
“Nah, lho, sekarang lo yang melamun! Mikirin apa, hey?”
Hampir saja mobil Eliana yang dikemudikan Bia menerobos lampu merah.
“Hahaha, sorry, El! Gara-gara lo stalking IG cowok-cowok, gue jadi kepikiran jaman kita fangirling rebutan majalah sama anak-anak SMP Barat!” Bia menjelaskan dengan sesekali melirik ke arah Eliana.
“Hahaha, untungnya itu majalah robek ya, jadinya adil buat kita semua,” ucap Eliana yang membuat Bia terkekeh geli dengan masa itu.
“Tapi, El, kalau gue perhatiin, kayaknya Pak Gub itu suka deh sama, lo! Kelihatan banget deh dari caranya menatap mata lo waktu itu,” lampu perempatan jalan sudah berwarna hijau, kesempatan Bia untuk kembali menjalankan mobil meski dengan perasaan was-was.
“Wah, lo beneran udah jago bawa mobil ya! Bisa sambil bercanda gitu!”
“Gue enggak bercanda, El! Beneran deh waktu itu gue perhatiin kalian soalnya!” Bia memang tidak bercanda, Ia justru fokus sekali melihat jalanan, khawatir tiba-tiba harus mendadak menginjak rem lagi.
“Eh tapi, El, kalau misalnya nih ya …. Misalnya aja deh, Pak Gub itu beneran suka terus ngajak lo nikah gimana? Elo … maksud gue gini, secara ‘kan beliau itu duda ya, dan … duda beranak satu umur lima tahun—”
“Terus kenapa? Lo keberatan sama duda beranak satu?”
“Eh? Kok gue? Jadi maksudnya, lo beneran bakal terima dia, El?”
“Apaan sih lo, Bi, emangnya gue bilang gue suka sama beliau? Gue cuma kagum aja, kok! Ya, gue sih sebenarnya enggak mempermasalahkan status dia sekarang ya, tapi pertanyaannya, emangnya beneran dia suka terus langsung ngajak gue nikah gitu? Ketemu aja baru berapa kali!”
Bia agak merasa bermasalah atas pertanyaan ke sahabatnya itu, tapi Ia tetap melanjutkan.
“Nah, kalau Xander gimana?”
Yang ditanya sedang minum air mineral dari botol untuk meredakan rasa kesalnya, tapi bukan Bia namanya kalau tidak mengejutkan dan membuat semakin kesal, secara tidak sengaja Eliana pun menyemburkan air yang mulai masuk ke mulutnya itu.
***
Ini adalah challenge menulis bernama 'STORY BLOG TOUR', dimana member lain yang sudah diberi urutan melanjutkan cerita sesuai imajinasinya di blog pribadinya. Jadi, jika ingin tahu kelanjutan cerita di atas sampai akhir, silakan mengikuti link blog yang ditampilkan di setiap akhir cerita yaa :)
Saya, Kenti. Mendapat giliran kedua membuat cerita. Cerita ini akan dilanjutkan secara berantai oleh member grup lain yang berpartisipasi ke dalam challenge ini.
Ep 4 : still on progress
Ep 5 : still on progress
Ep 6 : still on progress