Haloooo! Wah, udah tanggal 28 Januari 2018 aja, nih! Kayaknya udah sekitar dua bulan lebih gue enggak nulis di sini, yang padahal sebelumnya gue janji mau nulis, ckckck. Nulis itu ibarat air sih, gue berasa haus gitu kalau perasaan lagi kacau terus enggak nulis, tapi untungnya gue masih nulis di Instagram, meski yeah, agak malu-malu juga kalau mau curhat di sana, hehehe.
Jadi ini sudah tahun baru, Gaes! Udah 2018, meeen! Malahan udah mau Februari, wkwkwk. Berasa seret banget enggak nulis panjang di blog, huh, bete tiap kali nulis di IG enggak bisa bener-bener terbuka dan panjang-panjang -____-
Jadi...
Setelah berpikir berbulan-bulan, melewati banyak pertimbangan, akhirnya gue putuskan gue akan pulang ke Indonesia bulan Mei ini dan kuliah di sana aja. Gue punya alasan banyak sebenarnya, dan ada juga alasan yang mungkin buat beberapa orang konyol, tapi buat beberapa yang lain mungkin mulia. Gue enggak tahulah, terserah orang-orang aja mau berpendapat apa, yang penting gue pada diri gue dan tahu apa yang gue lakukan.
Tapi, ya...
Masih seperti biasa, kayaknya hidup gue diliputi kegalauan melulu deh. Apa karena usia gue? Well, orang-orang yang ketemu gue biasanya bakal mikir kalau gue terlihat lima tahunan dari usia gue sesungguhnya. Gue heran dan sering memikirkan ini pada diri gue sendiri pun teman gue. Why? Gue terlihat tua banget, yah? Apa terlihat dewasa? Yang mana? Karena pakaian gue-kah? Atau karena pola pikir gue yang ngaruh ke penampilan? Hmm... Pada akhirnya, gue mau bodo amat, sih... meski kadang-kadang agak bete juga kalau dibilang lebih tua dari temen-temen yang sebenarnya lebih tua -___-
Seperti biasa, gue bingung mau nulis apa, bukan karena enggak punya bahan, tapi justru kebanyakan bahan. Gue pengeeeeen banget menuliskan semua perasaan dan pendapat gue, yang kalau gue cerita ke orang, belum tentu mereka akan mengerti, dan kadang gue suka nyesel sendiri karena cerita ke mereka, gue tetap lebih suka menyimpan sendiri sih meskipun gue banyak omong.
Gue cuma lagi sedih aja saat ini. Pada diri gue. Lalu gue berkontemplasi, mencoba berbicara pada diri sendiri dan beberapa orang. Ini wajar enggak, sih, buat anak seumur gue? Iya, gue masih selalu menganggap kalau gue memang masih kanak-kanak, terlepas dari usia gue yang sudah dua puluh satu, atau terlepas dari tampang gue yang kayak orang dua-enam-an lebih, gue tetaplah hanya seorang anak-anak, yang mungkin terpaksa mesti dewasa.
Terkadang gue mikir kalau gue enggak sepercaya itu terhadap orang lain. Gue enggak tahu apakah kita mesti percaya seratus persen atau enggak pada orang lain, meski keluarga sendiri. Tapi setiap kali gue mikir begitu, setiap kali gue merasa sebaiknya enggak percaya seratus persen ke orang lain, jadi sedih aja gitu. Karena gue sangat takut. Gue seorang yang penakut. Lalu, ketika gue ingin percaya pada seseorang, gue takut kalau gue enggak benar-benar bisa percaya, gue pun takut kalau harus benar-benar percaya. Entahlah. Of course, cuma Allah yang paling bisa dipercaya, tapi ini konteksnya gue lagi ngomongin orang, men! Terhadap Allah pun, gue khawatir kalau gue belum bisa percaya seratus persen, yaa, mungkin memang gue enggak percaya sama Dia seratus persen jadinya gue suka takut, galau, resah dan semacamnya. Hmm...
Gue hanya ingin menjadi seseorang yang lebih baik lagi dari hari ke hari.
Itu cita-cita gue sedari dulu. Dan sekarang ini, seiring gue tumbuh, belajar, melihat sana-sini, gue mulai menemukan tujuan gue hidup yang sebenarnya, atau lebih tepatnya mengokohkan kembali kalimat lampau yang cuma sekadar basa-basi. Yaa... Gue ingin hidup sebagai seorang muslim yang baik, yang semua-muanya demi Allah, karena Allah. Rasanya sekarang gue menganggap dunia emang beneran cuma taman bermain dan tempat penitipan aja. Gue pengen coba ini dan itu, kalah-menang, gagal-sukses, apa pun itu bodo amat rasanya, gue cuma pengen nyoba aja, pengen tahu sensasinya.
Tapi sayangnya, ternyata berat juga, yah! Ketika bahkan gue sudah punya prinsip begini dan begitu, masih aja gue suka bablas, kelewat jalur. Kadang gue jadi takut untuk menjadi semakin dewasa, apakah gue benar-benar akan bisa bertahan? Dengan seluruh prinsip yang gue pegang? Gue takut, kalau perlahan prinsip itu memudar, prinsip yang sebenarnya menjaga gue tapi lambat-laun malah gue anggap mengganggu. Hmm... kalau sudah begitu, mungkin memang sebaiknya gue selalu minta dijaga, gue titipkan hati gue padaNya, Sang Tempat Penitip Terbaik.
Sekarang ini, mungkin memang masih masa-masa transisi banget buat gue, dari remaja ke dewasa. Jadi mungkin gue banyak ngegalau, yah! Mungkin buat mereka yang sudah mengalami hal seperti gue hanya akan tersenyum atau tertawa, yaa gue berharap mereka mau mendoakan gue juga, sih.
Sekarang-sekarang ini, gue pengin lebih menghargai dan memahami semuanya. Tentang diri gue, hidup gue, tentang orang lain juga hidup mereka, dan tentang hidup ini sendiri secara keseluruhan. Dulu, ketika dikasih pilihan Mekkah atau Paris gue akan lebih memilih Paris, tapi entahlah, rasanya gue rinduuuu banget sama Mekkah, Paletina dan tanah-tanah yang diberkahi itu. Gue benar-benar ini menjadi sebuah jembatan, gue ingin mewakafkan diri gue di jalanNya. Yeah, terdengar utopis bangetlah ini, gue enggak tahu, atau mungkin terasa riya atau pencitraan, atau apalah, gue hanya ingin menuliskan mimpi-mimpi gue aja. Gue ingin selalu bisa bilang "Daijoubu!" terhadap diri gue sendiri atau orang lain. Terhadap kebodohan-kebodohan gue, kesalahan gue, kecerobohan gue, dan semacamnya itu. Seharusnya gue bisa berbuat lebih, tapi... ya sudahlah, gue enggak pengin sedih ketika gue belum mencapai sesuatu. Apa memang hidup ini hanya soal pencapaian? Kalau menurut Kak Gitasav dan teman gue sih kayaknya enggak tuh. Yah, gue belajar juga soal ambisi di sini.
Gue pengin banget untuk selalu percaya minimal terhadap diri gue sendiri dan tentu Tuhan gue. Haaa... gue terlalu berlebihan nih kayaknya nulis begini, enggak apa-apa deh, awal tulisan gue di tahun yang baru. Perlahan perasaan gue terobati :)
No comments:
Post a Comment