Sudah lama sekali rasanya gue enggak menulis dan memnculkannya di blog ini. Satu buah tulisan sudah jadi beberapa detik lalu, dan kini gue kepengin nulis lagi dengan tema yang berbeda (mungkin) hahaha.
Jadi,tiba-tiba gue teringat soal cita-cita.
Apa sih yang namanya "CiTA-CITA"?
cita-cita/ci·ta-ci·ta/ n 1 keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran: ia berusaha mencapai ~ nya untuk menjadi petani yang baik; 2 tujuan yang sempurna (yang akan dicapai atau dilaksanakan): untuk mewujudkan ~ nasional kita, kepentingan pribadi harus dikesampingkan;
Itu sih yang gue comot dari KBBI online.
Buat setiap orang pasti udah lumrah banget dengan kata itu. Di sekolah misalnya, Bapak/Ibu guru sering banget nanyain anak muridnya soal itu, cita-cita. Ada orang yang kuat banget sejak kecil cita-citanya A dan sampai sekarang terus A, ada juga yang berubah-ubah, misal dulu A sekarang B bahkan C, persis kayak gue. Nah, dari yang kuat cita-citanya itu atau yang enggak pun masih dibagi lagi, ada yang kesampean ada juga yang sampai udah pulang pun belom nyampe. Masih menurut KBBI, cita-cita itu adalah kata benda, ya? Mmm... jadi mungkin dengan begitu banyak orang yang mengartikan cita-cita adalah profesi, semacam jadi dokter, guru, pilot, polisi, dan sebagainya yang umum banget disebutin saat masih kanak-kanak. Gue pribadi kalau ditanya, dulu itu jawabannya selalu kepengin jadi dokter, karena gue rasa itu keren (jasnya, hahaa), bisa nolong orang yang sakit, dan duitnya gede, wkwkwkwk, masih kecil udeh duit aje ye pikirannya. Sempat juga pernah kepengin jadi guru, terus pengusaha, artis, penulis, dan ya semacam itu deh. Tapi makin ke sini, gue menyadari kembali soal diri gue. Apa yang menjadi keterbatasan, apa yang lebih membuat gue tertarik, dan semacamnya. Ini bukan berarti gue penganut masa depan berdasarkan bakat, enggak juga, karena tanpa bakat sama sekali pun kalau si orang itu berminat dan serius berlatih ya besar kemungkinan untuk terwujud. Dan sekarang, cita-cita gue ngaco-ngaco lagi.
Tapi sampai di usia ini, gue merenung lagi, bahwa, seharusnya cita-cita itu bukanlah sebuah profesi yang diinginkan. Cita-cita itu lebih berupa pengharapan tulus tanpa embel-embel materi atau yang berbentuk kata benda. Cita-cita itu banyak, iya benar, memang ada yang mengartikan itu atau juga diganti dengan istilah lain. Tapi poin gue adalah, kalau seandainya cita-cita itu bukanlah sebuah profesi impian, dan enggak perlu banyak-banyak dan idealis pun teoritis, apa sih cita-cita lo?
No comments:
Post a Comment