Wednesday, December 21, 2016

Hukum Pisang Goreng

Desember.
Ini bukan lagi bisa dibilang sebagai awal dari bulan Desember. Kalenderku, kalendermu, dan kalendernya pasti menunjukkan  tanggal yang sama, kalau tidak, mungkin is salah membeli. Dan di hari ini, angka yang tertunjuk jari tak terlihat itu menandakkan bulan ini segera berakhir, bahkan tahun ini. Bagi beberapa orang, waktu terasa sangat cepat, tapi beberapa yang lain justru sebaliknya. Dan bagiku?

Tidak ada yang lebih aku rindukan saat ini selain pisang goreng di pagi hari buatan wanita terkasihku, Ibu.

Kebanyakan orang akan memilih teh hangat sebagai teman santapan si pisang goreng. Ya, tidak terkecuali aku, mesti sebenarnya hanya beberapa teguk saja. Keluarga kami memang bukan penggila teh, pahit pun manis.

Ah, kembali pada tanggal. Tahun yang segera berganti, itu artinya beberapa hal pun akan berganti. Terkadang menyakitkan memang dengan beberapa kebiasaan yang perlahan mesti terlibas. Yaa, bagaimana tidak? Kamu yang terbiasa makan surabi untuk sarapan, lalu mencoba kekinian dengan pizza sebagai ganti. Apa tidak sakit perut?

Dan lagi-lagi, entah ini hanyalah sugesti atau apa, aku merasakan diriku yang hanya sebagai pengamat. Memperhatikan satu dengan lainnya, seperti saksi dalam pernikahan orang. Hanya saksi! Apa enaknya?

Dan lalu, menurut kacamata si gadis dua puluh tahun empat bulan sepuluh hari ini, dunia memang susah gila! Hahaha. Termasuk si penulis pribadi.

Tapi ...
Apa salahnya menjadi gila? Bukankah dalam beberapa hukum akan menjadi ringan? Mm ... menarik! Karena realitanya, terkadang dari kita (atau saya saja kali, ya?) berharap banyak keringanan dari hukuman. Nah loh! Gila dong? Entah, mari coba kita pikirkan sembari barangkali mencomot satu-dua pisang goreng ;)





No comments:

Post a Comment