"Selamat ulang tahun!"
"Apa kamu sudah siap untuk hadiahnya?"
Aku mengangguk mantap. Hari ini aku bahagia sekali, semua yang aku kenal menyapa dan meneriakan kalimat-kalimat yang baik. Bahkan mereka yang belum mengenalku pun melakukan hal yang sama. Selain mengucapkan selamat atas usiaku yang bertambah, mereka pun memberi selamat--yang bisa dibilang terpaksa--atas hadiah pilihanku. Beberapa sebelumku pernah melakukan ini, aku tahu benar bagaimana akhirnya, tapi aku tidak tertarik dengan nasehat mereka. Aku sangat siap!
Kekuatan itu. Sebuah kekuatan yang pada akhirnya menyerap sedikit demi sedikit cahaya kepunyaanku lalu memadukannya dengan cahaya lain. Perlahan tapi pasti, sebuah gumpalan cahaya terang terbentuk. Mereka pernah mengatakan bahwa warna keemasan adalah gumpalan cahaya yang sempurna, sedikit sekali yang memilih hadiah sepertiku lalu membentuk cahaya dengan warna itu. Maka saat Sang Kekuatan menyelesaikannya, semua yang memandang begitu terkejut.
"Vley, warnamu emas!"
Aku tersenyum, beberapa yang lain saling berbisik, lalu tidak berapa lama, gumpalan yang membesar menarik cahayaku dengan lebih hebat. Terus menarik dan menarik.
Wuuuuuus...
"Vley, nikmati hadiah pilihanmu itu! Jika waktunya tiba, kau harus siap kembali sesuai dengan kesepakatan yang ada, dan kau sama sekali tidak bisa untuk menolaknya."
Samar-samar aku mendengar. Aah, yang tertua dari mereka, tentu saja. Baiklah, aku sudah mulai masuk dan kini melewati lorong demi lorong. Gelap di sana sini, tekanan udara yang semakin berbeda, lalu aku rasakan telah menembus sebuah tabir kehidupan.
Duar!
Biasanya akan ada lubang yang terbentuk tapi nyatanya ...
Ah, di mana ini?
Aku kira aku bisa menyesuaikan, tapi rasanya seluruh gangguan ini membuatku sesak.
Argh! Tolong! Tolong!
Aku sulit menyentuh udara. Seluruh gangguan ini seakan mendesak untuk masuk dalam rongga yang disebut pernapasan. Ah, kenapa pula aku mendarat di tempat basah ini?
Ngoooooong...
Sebuah peluit kalau tidak salah dengar. Aku masih menggapai-gapai dan sulit bernapas saat samar-samar mereka terlihat. Kembali melambai berharap bantuan, dan lalu semuanya hanya gelap. Aku rasa mungkin aku mati, bahkan sebelum sempat mencicipi hadiah ini.
***
"Nona, kau sudah sadar?"
Sebuah kalimat lembut yang kali pertama terdengar saat mataku mengerjap.
Apa? Dia bilang apa tadi? Oh, aku paham. Tapi, apa aku bisa membalasnya?
"Nona? Ah, benar, tentu saja. Kau harus beristirahat lagi. Aku akan kembali ke tempatku. Dalam beberapa saat lagi kita akan mendarat. Pulau sudah terlihat. Sampai jumpa!"
Pria itu, ia melangkah pergi setelah sebelumnya tersenyum padaku.
Ini sebuah kamar, tentu saja. Ada sebuah tempat tidur yang aku tempati, satu meja di sisi kiri, satu kursi, lemari dan cermin. Tidak banyak perabot, tapi beberapa buku terpajang dengan baik. Kalau aku memeriksanya, mungkin di dalam laci-laci lemari itu ada berbagai perlengkapan berlayar.
Mmm ... Berlayar? Oh, benar sekali, aku hampir tenggelam di tengah laut dan mungkin kapal ini yang menyelamatkanku.
"Turunkan jangkar!"
Seseorang berteriak, itu artinya daratan memang sudah di depan mata. Omong-omong sudah berapa lama aku tertidur?
Tok! Tok! Tok!
"Kapten memintaku ke kamar ini. Mungkin kau perlu sesuatu, Nona?"
Seorang pria lain, yang terlihat masih dua puluhan membuka pintu, wajahnya meski tidak begitu cerah, namun aku tahu itu tampan.
"Nona?"
"Ah, iya." Aku terkejut sendiri, rasanya aku bisa menjawab mereka!
"Mmm ... Perutku berbunyi, mungkinkah aku memerlukan sesuatu yang bisa menahannya?"
Pria itu tercenung.
"Ah, tentu saja kau lapar setelah dua hari ini memejamkan mata. Bodoh sekali aku sampai lupa. Kapten memang memintaku membawakan susu dan roti, dan memang hanya ada itu. Apa kau mau? Atau, menunggu sampai kita persis di antara penduduk yang memiliki daging dan buah?"
Aku mengangguk.
"Tentu saja aku bisa menunggu sembari meminum susu dan sepotong roti."
Pria itu tertawa, berlalu dan kembali lagi dengan sebuah nampan di tangannya yang berisi susu juga (benar-benar) sepotong roti.
***
"Jadi, Vley, siapa yang lebih kau sukai? Kapten Woodrey yang lembut tapi gagah, atau, Sebastian yang tampan itu?"
Aku tertawa.
"Jadi menurutmu Kapten tidak tampan?"
"Oh, tentu saja. Wanita menyukai pria seperti dia."
Aku kembali tertawa.
"Ayolah, Anna! Aku hanya senang berdiskusi dengan mereka. Kau saja yang pilih."
Anna memutar bola matanya, tapi aku tahu, ia mati-matian menahan merah di pipi.
Sudah beberapa bulan aku di pulau tempat kami mendarat. Kapal yang mengangkutku berencana meneruskan perjalanan saat semua perlengkapan siap dan kapal dipastikan tidak rusak lagi. Hari-hariku banyak digunakan untuk bertukar pendapat jika tidak dengan Kapten Woodrey, tentu saja dengan Sebastian. Mereka adalah pria-pria yang begitu tangguh lagi cerdas. Lalu, tidak hanya dua orang pria itu aku berteman. Awak kapal yang lain dan penduduk di pulau ini begitu ramah, aku bahkan mendapatkan salah satunya yang terbaik, Anna.
Setiap malam kami sering bertemu, membicarakan ini dan itu sembari menatap langit, menghitung beberapa bintang yang cerah. Terkadang Kapten dan Sebastian menyertai, suasana pun semakin ramai. Dan kalau sudah begitu, rindu mulai menjangkiti diriku, entah kapan aku bisa pulang, penghuni langit tidak pernah memberi tahuku. Namun jika hari itu pun tiba, entah aku sempat bertemu mereka.
"Bintang. Ya, tentu saja!"
Anna masih menatap langit untuk yang ke sekian kalinya. Mengalihkan isu atas sindiran terhadap pipi merahnya.
"Kau itu bintang, Vley. Seorang Bintang. Tentu saja para pria itu lebih memilih bintang dibanding kerikil."
Aku terdiam, tidak mengerti.
"Kau benar soal aku menyukai salah satu dari mereka. Tapi, Vley ... Aku hanya seorang gadis desa yang lebih sering bersama domba dan ikan. Aku hanya sebutir kerikil penuh debu. Semakin kotor dan jelek saat lumpur menyelubungiku. Bagaimana mungkin?"
Anna menghela napas.
"Bagaimana mungkin aku harus bersaing dengan sebuah bintang?"
Ia menoleh padaku, yang kubalas dengan pura-pura menatap penuh tanda tanya.
Anna, menurut pengatamanku adalah seorang gadis dengan hati yang begitu tulus. Ia sangat lembut dan hampir tidak pernah terlihat bertengkar. Ia tidak pernah mengatakannya namun tentu saja aku tahu setiap arti dari mimik wajah seorang wanita. Ia menyukai seseorang dari kapal itu, dan aku rasa orang yang beruntung itu adalah Sang Kapten sendiri.
"Aah ... Nona Vley!"
Anna sudah pergi, ketika seseorang memanggilku begitu. Aku tahu itu siapa.
"Vley saja, Sebastian..."
"Apa yang salah? Hahaha. Biasanya kau bersama Anna. Di mana gadis itu?"
"Menemui ibunya untuk memberi susu sebelum tidur."
Sebastian mengangguk-angguk.
"Tidur. Ya, memang sudah malam. Kau sendiri? Mengapa masih di sini?"
Aku kembali menatap langit.
"Rumah. Aku merindukan mereka."
"Mmm ... Hei, aku dengar bulan akan terlihat oranye di mata seseorang yang merindu."
"Maaf?"
"Ah, tidak-tidak. Lanjutkan saja, mungkin dia memang begitu istimewa."
"Eh? Siapa?"
"Entahlah. Yang kau tunggu, atau yang menunggumu tentu saja."
Aku memiringkan wajah bersamaan dahi yang mengerut lalu menimpuk Sebastian dengan kerikil di sampingku, saling tertawa.
"Omong-omong, kau lebih memilih bintang, atau kerikil?"
"Mmm?"
"Bintang tentu saja. Sama seperti yang lainnya."
Entah apa yang lucu, Sebastian justru tertawa atas jawaban sepihakku. Kakinya lurus-lurus saat ia duduk.
"Aku rasa ... Tidak selalu yang bersinar yang terbaik, Vley. Bukan berarti tidak dipuja lantas ia tidak berguna, bukan berarti tidak memesona tidak pantas untuk dipilih."
Untuk ke sekian kalinya, aku rasa Sebastian akan mengeluarkan pendapat menariknya.
"Aku pilih kerikil, tentu saja. Bukan karena aku ingin terlihat si lapang dada yang bukan pemilih atau peselera tinggi. Bukan karena bintang itu tidak menarik. Hanya saja..."
"Ya?"
"Hanya saja aku bukan seorang lelaki yang dengan rela selalu melihat pujaannya dipuja orang lain. Ah, aku tidak bisa! Jadi jika memang aku dihadapkan pada dua benda itu, sebaiknya aku memilih yang jarang dipilih, memilih yang tidak selalu diagung-agungkan."
"Tapi kenapa?" Aku gatal untuk tidak memotong.
"Mmm ... Karena tentu saja, kerikil pun memiliki kelebihan. Barangkali saat bersama, kami bahkan bisa sama bersinarnya dengan bintang itu sendiri!"
Setiap kali Sebastian berpendapat, setiap kali itu pula aku tercenung dan takjub. Mendengus disertai senyuman adalah tanggapanku selanjutnya. Entahlah, jawabannya selalu menyenangkan dan menenangkan. Aku juga selalu merasa nyaman di dekatnya.
"Aku lupa! Aku ke sini untuk Anna. Kau tidak keberatan jika aku menitip sesuatu, bukan?"
Dan setiap kali aku merasa nyaman, setiap kali itu pula aku merasa takut kehilangan.
***
Hadiah bagi sebuah bintang di usia sepertiku adalah ia bisa memilih hadiah apapun. Karena beberapa sebelumku pernah memilihnya, maka aku memutuskan untuk merasakan seperti apa itu menjadi manusia jelmaan bintang. Mengamati kehidupan bukan hanya dari langit, melarikan dari pijakan di atas tanah bumi. Bukan hanya sebagai penonton, namun juga pemain. Meski sebenarnya amat beresiko memilih hadiah ini, namun mereka tidak banyak menolak. Karena tentu saja, aku menyanggupi untuk justru membayar.
Sebenarnya, di langit sana wujudku sama seperti saat ini, manusia. Namun mereka yang di bumi melihat kami seakan hanyalah permata kecil bersinar di gelapnya malam. Tidak, sebenarnya itu hanyalah cahaya jelmaan kami selama kami melakukan kegiatan lainnya.
Dan kini, sudah beberapa bulan kakiku berjalan di tanah bumi, aku rasa tinggal sebentar lagi. Sebentar lagi untuk awak kapal menarik jangkar mereka, dan sebentar lagi mereka memanggilku pulang untuk melunasi hutang tambahan. Aku rasakan seluruh tubuhku mulai berdenyut-denyut. Beberapa terlihat bengkak. Itu pertanda.
"Vley,"
Matahari mulai terlihat dengan basuhan air pada kakiku.
"Kapten! Apa yang membawamu ke sini?"
Lelaki yang menginjak kepala tiga itu tersenyum, selalu tampak manis dan gagah.
"Tentu saja suara debur ombak dan matahari yang segera terbit."
Saat mengatakan matahari, matanya sempurna terarah padaku.
"Kapten, kau menyukai wanita yang lebih muda, sebaya, atau di atasmu?"
Dahi lelaki dengan kulit bersih itu mengerut, alis-alis tebalnya mulai menyatu. Lalu ia mengangkat bahu.
"Tidak tahu. Jika aku menyukainya, maka aku memilihnya. Itu saja."
"Jadi kau tidak bermasalah soal usia?"
Kapten Woodrey maju satu langkah membelakangiku, kakinya ia biarkan menepuk-nepuk air.
"Kenapa? Apa kau khawatir ditinggal seseorang yang lebih muda?"
Aku merenungkan kalimatnya.
"Tidak. Jika aku lebih tua, aku justru khawatir akan meninggalkan orang itu lebih dulu."
Kapten Woodrey menghentikan gerakan kakinya, berbalik padaku.
"Percayalah, Vley, tidak penting siapa lebih berumur dari siapa. Kita hanya perlu saling menerima."
Kita?
Tepat sekali, ia menyukaiku.
***
Sebuah bintang jatuh. Kapten Woodrey, Sebastian dan sudah pasti Anna mengatakan itu adalah saat yang tepat untuk memanjatkan harapan. Tapi itu kepercayaan tanpa landasan para manusia. Tentu saja itu hanyalah benda lain yang menumpang lewat. Tapi biar begitu, aku tetap melakukannya. Maka saat salah satu dari mereka benar-benar melewati langit, aku menatapnya memejamkan mata.
"Vley! Ada apa?"
Lagi-lagi Sebastian. Ia memergokiku yang sedang memandang langit penuh harap.
"Bintang jatuh. Aku memohon sesuatu."
Lelaki di hadapanku tertawa.
"Mitos itu, ya?"
Beberapa minggu selanjutnya, aku masih asyik menemani Anna melakukan beberapa pekerjaan. Sayangnya kerjaku tidak terlalu bagus akibat banyak bagian tubuhku yang membengkak. Anna dan beberapa yang tahu hal ini, termasuk Kapten Woodrey dan Sebastian mencoba untuk menyembuhkanku. Tapi aku tahu, ini hanyalah bagian dari tanda yang tidak akan berhasil dengan obat apapun.
"Dua hari dari sekarang, kami akan melepas sauh. Kau mau ikut, Vley?"
Kapten Woodrey menghampiriku yang tengah membantu Anna menjemur baju. Anna tidak menoleh, tapi aku rasa ia memeras pakaian itu dengan lebih keras.
"Aah ... Bagaimana denganmu, Anna?"
"Tentu saja aku akan tetap di rumah, Vley."
Kapten mungkin bingung mengapa aku menanyakan Anna.
"Ah, ya, aku juga akan kembali pada rumah."
Untungnya matahari siang ini terik, mungkin tidak perlu waktu lama untuk menjemur.
"Kau bahkan hanya ingat namamu. Bagaimana mungkin kau tahu di mana itu rumah?"
Kapten benar soal itu, ia percaya kebohonganku.
"Aku tidak apa-apa kalau kau dengan Kapten, Vley. Mengapa kau bersikap seakan aku perlu dikasihani?"
Hanya terlihat punggung Sang Kapten saat Anna berani berkata lirih.
"Aku cemburu, tentu saja. Tapi baru kemarin sore aku mengenalnya, mungkin besok aku akan segera lupa."
Anna ...
Kau mengatakannya dan tentu saja itu sebuah kebohongan. Dia adalah yang pertama untukmu, bagaimana bisa lekas lupa?
***
Tubuhku semakin membengkak dan memanas. Aku merasakan sakit yang luar biasa. Kapten menambah sedikit waktu dari yang seharusnya untuk meninggalkan pulau, ia terlalu cemas dengan si gadis jelmaan bintang ini. Malam lalu, aku menceritakan apa yang Anna rasa pada Kapten Woodrey. Seharusnya aku tidak melakukan itu, bahkan Anna sama sekali tidak menginginkannya. Ini hanya akan membuat semua tidak lagi murni. Tapi mau bagaimana lagi? Aku harus melakukannya, satu kali saja sebelum semuanya usai*.
Tapi dibanding Kapten Woodrey atau Sebastian, rasanya aku lebih melihat kecemasan di wajah Anna. Hatinya sangat tulus, matanya aku tahu tidak berbohong. Dia sangat merawatku, bahkan ketika seluruh juru obat kelelahan. Aku sudah mengatakan ini memang tidak ada obatnya, ini adalah sinyal dari langit. Aku mesti bersiap.
"Aku akan pulang, Anna. Akhirnya aku kembali."
Gadis di sampingku hanya terdiam.
"Saat bintang jatuh, kau tahu apa harapanku? Yaa, sebenarnya aku tidak begitu percaya, tapi kalau aku yang meminta, mungkin kaumku akan mempertimbangkan."
"Apa itu, Vley?"
Aku tersenyum, mencoba menggenggam tangan Anna.
"Aku berharap kerikil selalu berteman baik dengan bintang, Sahabatku. Meski jarak kita begitu beda, begitu jauh, tapi percayalah, sesungguhnya kita di ruang yang sama."
Anna balas menggenggam, erat. Matanya mengeluarkan cairan bening.
"Aku menyukai Sebastian," aku berkeringat lagi, panas. "Tapi kau mengatakan bahwa aku adalah bintang. Dan sayangnya, ia memilih kerikil."
Aku tertawa.
"Anna,"
Hanya kepada Anna akhirnya aku mengungkap jati diriku.
"Pasir pun bisa menjadi mutiara. Maka kerikil pun sebenarnya juga bintang. Tapi, tetaplah jadi sesederhana kerikil meski telah menjadi bintang. Kalau malam semakin larut dan kau memandang langit, cari senyumku di antara serpihan itu, ya."
Genggaman tanganku mulai melemah, Kapten Woodrey dan Sebastian memasuki kamar.
"Aah ... Kapten! Sebastian! Terima kasih atas roti dan susu terakhir kalian saat itu. Katakan pada Jane, aku sudah mencuci pakaian pinjaman saat bajuku basah. Ooh, ya, kembalilah ke tempat ini lagi suatu hari nanti."
"Berhenti beromong kosong, Vley!"
Jarang sekali Kapten Woodrey terlihat geram. Aku hanya tersenyum dan merasa ada sebuah kekuatan yang mulai menarik paksa sesuatu dalam diriku. Ah, itu cahaya bintang kepunyaan. Perlahan-lahan ia tersedot, memaksa keluar dari hati. Warnanya keemasan, dan terus keluar menembus atap rumah Anna. Cahayanya semakin lama semakin menebal. Biar kutebak pasti sudah banyak penonton di luar sana.
"Vley?"
Anna meneteskan air mata.
"Apa ini yang disebut perpisahan? Vley, aku mohon, tetaplah tinggal!"
Kapten Woodrey menghambur padaku. Dan Sebastian, ia berdiri mematung dengan setetes air di pelupuk matanya. Jantung pria itu kelihatannya berdegub lebih kencang.
Tapi sayangnya aku tidak bisa menolak. Tidak ada gunanya aku berlama-lama di tempat ini menurut mereka. Cahaya dari dalam diriku terus keluar dan menuju langit. Tubuhku yang membengkak hebat mulai menciut. Aku kuatkan untuk menyentuh lengan, kulitku berkeriput. Tidak ada cermin namun aku tahu badanku semakin menyisakan tulang. Cahaya itu adalah darah untukku, daging, dan seluruhnya.
Aku memejamkan mata, semua terasa sakit saat cahaya itu terserap.
"AAAAAGRH!"
Aku masih bisa berteriak dan mengangkat badan. Namun setelah itu aku tahu, jiwa dan raga telah berpisah. Tanganku lunglai tak bernadi. Dan jiwaku terbang bersama cahaya.
DUAR!
Aku kembali menjadi bintang dengan wujud sebenarnya namun hanya sesaat. Untuk sejenak langit yang gelap tiba-tiba bermandikan cahaya terang benderang seperti di siang hari. Dan saat serpihan itu menyebar, saat itu pula aku hancur.
"Aku melihat senyummu, Vley ... Kembalilah, Bintangku."
-Ri-
1208-2016
Ngaco banget ini hehe.
I Must Write Something, yeah!
#IOCWPSupernovaVanBurren
No comments:
Post a Comment