Hai. Namaku Sherlock Holmes. Dan aku bukan seorang detektif. Satu lagi, aku ini perempuan, jadi jangan panggil aku Holmes apalagi Mr. Holmes! Karena tepatnya, namaku itu Sherlockia Holmes. Oya, aku punya satu teman yang sangat menyebalkan, namanya Medusa, dan dia punya tongkat ular.
Hari itu aku sedang bersiap menyantap makan siangku ketika secara tiba-tiba Medusa mengarahkan tongkatnya.
"Lumbricus Rumbellus!"*
Aku terkesiap, memejamkan mata, dan menarik napas dalam.
"Hhhhh ... MEDUSAAAA! Lo tahu kan gue lagi ngapain? Makan mie! Dan sekarang lo ubah mereka jadi cacing! Aaaaaargh!"
"A-aa ... Sorry, Sist! Gue lupa mantranya, hehe. Tapi kayaknya cacing enggak terlalu buruk, deh!"
"Argh! Ngomong sama ember!"
"Iya, maaf. Gue kira lo masih mau makan begituan. Oke-oke gue ubah, ya! Ophiopholis Aculeate!"
Tring!
Cacing-cacing di mangkuk mie-ku memang berubah, tapi bukan kembali menjadi semula. Kami berdua pun sempurna tercenung.
"Ke ... Kenapa jadi Patrick ..."
"Itu bukan Patrick, Med! Itu bintang ular!"
"Er, oiya dia bintang laut ya ... Bombyx Mori!"
Lalu puluhan ulat yang kini muncul.
"Gue mau makan mie, Med, bukan bikin kain sutera!"
"So-sorry ... Ophiophagus Hannah!" detik itu Medusa menyihir isi mangkuk, detik itu juga ia berteriak. "Waa ... Kok jadi Kobra!"
Aku mendelik, dan merebut tongkatnya.
"Exafanizontai!”**
Tring!
"Waaa ... Holmes! Kereeeen ...."
"Stop! Sherlock! Sherlockia."
"Aah ... Oke, sayangku, Kia ... Habis ini kita ke mie ayam Pak Moen, aja ya ... Lo seram kalo lagi lapar. Hehe."
Meski menyebalkan, kabar baiknya Medusa itu tahu bagaimana harus membayar.
***
"Hei, Mr. Holmes! Habis menangin kasus apa, nih?"
"Kia, Yud. Sherlockia!" Medusa membetulkan, aku melotot.
"Aah, okay! Eh, santai dong itu mata. Gue bercanda lagi. Peace! Hehe"
Dan begitulah, sehari-harinya aku—dan terkadang Medusa—selalu diledek akibat namaku ini. Apa yang salah? Siapa juga yang berharap punya nama seorang detektif terkenal yang bisa dibilang idola bagi para polisi?
"Untung nama lo diambil dari tokoh fiksi, Ki, kalau enggak. Beuh! Mungkin nasib lo sama kayak itu tuh!" Sambil menyeruput segelas es teh manis, aku malas-malasan mengikuti arah pandang Medusa.
"Haloo ... Maju-mundur-cantik ... Cantik... Cantik ...."
Sekumpulan anak lelaki menyebalkan sedang menggoda seorang gadis yang aku tahu adalah teman sekelas Medusa. Dia memiliki nama yang sama dengan salah satu penyanyi di televisi, dan kalau dilihat-lihat perawakannya pun memang mirip. Menariknya, si gadis itu bukan diam atau pergi, justru memukul mundur anak lelaki yang tadi meledeknya. Wow!
"Dia anak karate, Ki!"
Aku mengalihkan tatapanku, "Apa tuh?"
"Salah satu jenis beladiri mereka gitu. Lo mesti coba, seru deh. Lumayanlaah buat menghajar orang-orang tipe Yudi tadi."
Aku mendengus. Benar juga.
"Aaaaa... Rain! Foto bareng doong!"
"Raiiiin... Nge-date yuk!"
"Kak Rain, please, tanda tangani seragam aku doong! Aku suka Kakak banget!"
Satu lagi yang menyebalkan. Gadis-gadis menor dan berisik.
"Hei, Kia!"
Semakin menyebalkan karena dia menuju tempatku, itu artinya, segerombolan gadis itu pun mengikuti. Medusa sudah sedari tadi mesem-mesem sendiri.
"Gimana? Sudah keliling seluruh bangunan sekolah?"
"Er ... Sebentar. Itu fans lo bisa diusir dulu enggak?"
Rain tertawa. Tersenyum pada para gadis di belakangnya dengan diiringi kompak "yaah" mereka.
"Jadi? Mau pilih ekskul apa?" Dan seperangkat bakso beserta es teh manis sudah tiba di hadapannya.
"Kia mau ambil karate katanya. Supaya ..."
Aku dan Rain menoleh ke arah Medusa.
"Supaya bisa menghajar lo kalau macam-macam. Hahaha!"
"Med?"
"Okay-okay, bakso gue sudah habis. Nikmati waktu kalian. Bye!"
Rain tersenyum, kontras denganku yang cemberut.
"Sejujurnya lo dan Medusa itu anak baru. Kita juga baru kenal, tapi kok gue langsung nyaman, ya."
"Banyak yang meledek nama kami, gimana bisa disebut bikin nyaman. Yang ada kalian ketemu mainan baru."
"Hahaha. Benar juga. Tapi tenang aja, ketua OSIS kalian ini enggak akan tinggal diam gitu aja kok kalau ada temannya yang di-bully."
"Cih!"
"Hahahaa. Eh, Ki! Jadi, lo beneran bukan detektif? Atau berminat dalam penyelidikan gitu?"
Aku mengangkat wajahku dari mangkuk mie ayam. Isinya sudah bersih.
"Maksud lo? Kayaknya gue sudah cerita berkali-kali deh. Ini akibat orang tua gue aja yang terlalu senang dengan si detektif fiksi itu sampai anak perempuan satu-satunya ini justru dikasih nama serupa. Untungnya beda panggilan."
Rain hanya menggumam.
"Okay, mie gue sudah habis. Bye!"
"Ki, Sebentar! Lo beneran enggak bisa memecahkan satu kasus barangkali? Gue perlu.”
Aku menyipitkan mata, tidak jadi beranjak.
"Em ... Sebenarnya gue dibuntuti, Ki. Enggak tahu kenapa dan oleh siapa. Gue rasa gue enggak bikin masalah yang menuntut orang-orang untuk membuntuti gue, deh."
"Perasaan lo aja, kali!"
"Enggak. Gue beberapa kali mergoki."
"Mungkin itu cuma wartawan infotainment."
"Beda. Gue tahu persis kalau itu bukan mereka."
"Kalau begitu sebaiknya lo lekas hubungi polisi."
"Gue mau, tapi ... Gue enggak bisa. Bahkan manajer gue pun enggak gue kabari."
"Kenapa?"
Tapi Rain hanya terdiam.
"Kalau begitu gue enggak tahu mesti gimana. Gue enggak bisa bantu, gue bukan detektif. Oke?”
***
Sebenarnya aku malas mengakui, tapi, sudah tiga hari aku maupun Medusa tidak bertemu Rain yang berbeda kelas dengan kami sejak pembicaraan di kantin hari itu. Tidak ada yang tahu ia ke mana. Ada yang bilang ia sakit, ada juga yang bilang ini siklus Rain bersekolah, mungkin ia sedang sibuk-sibuknya pemotretan atau syuting atau apalah yang biasa selebriti lakukan. Tapi entah mengapa, ingatanku justru kembali ke percakapan itu.
"Karena gue rasa cuma elo yang paham dan bisa bantu, Ki!"
Aku mendengar itu tepat di langkah kedua dari meja kantin, namun aku mengabaikannya. Oh, tolonglah, aku bukan detektif. Aku hanya seorang keturuan …
"Hei, Nona Penyihir!"
Itu Medusa, seperti biasa selalu menyebalkan.
"Lo tahu 'kan apa artinya kalau mereka tahu gue siapa?"
"Iya-iya gue juga akan ketahuan, lalu mereka akan memburu kita dan kaum kita. Lalu terjadi pertempuran. Perang antara manusia murni dan darah penyihir. Argh, gue berasa ada di zaman dua ribu tahun yang lalu, atau lebih." Medusa mulai berbicara dengan nada berlebihan.
"Atau berasa ada di novel-novel fantasi. Argh!"
"Tapi 'kan sekarang kita cuma berdua aja di kosan kita tercinta ini, Ki!" Saat mengatakan itu, mata Medusa menerawang ke sana ke mari memerhatikan interior ruangan yang tidak seberapa.
"Ah, ya, setidaknya antisipasi. Eh, lo udah tahu Rain kemana?"
"Ciee, nyariin. Udah mulai peduli lo?"
"Enggak, bukan gitu. Gue meerasa hilangnya dia tuh aneh aja. Di kantin tiga hari yang lalu dia bilang ke gue kalau akhir-akhir ini dia dibuntuti. Dan mereka enggak terlihat seperti wartawan."
"Engh ... Yaa, kita cuma keturunan, sih, ya. Enggak boleh banyak belajar soal sihir. Jadi, sayang sekali semua itu enggak bisa diterawang."
Aku mengangguk, membenarkan. Satu-satunya barang dengan sihir yang ada hanyalah tongkat ular milik Medusa yang ia ambil diam-diam dari Rumah Lama. Aku sendiri memang tidak seminat Medusa soal sihir, jadi meski tidak dilarang pun, aku tidak akan berupaya belajar ilmu sihir. Menjadi manusia seutuhnya terlihat lebih menarik.
"Dan tongkat menyebalkan itu pun hanya bisa mengubah apa-apanya menjadi ular, atau sejenis itu. Argh! Kenapa, sih, gue harus salah ambil!"
"Itu membuat lo semakin menjadi seorang wanita sesuai dengan karakter nama lo, Med. Hahaha." Dan kepalan tangan Medusa tidak terelakkan lagi menjitak kepalaku.
***
Entah mengapa, kehidupan baruku dan Medusa di tempat ini justru mengambil porsi besar untuk mengurusi Rain.
Sudah hampir dua minggu sejak hilangnya dia di sekolah. Bukan karena sakit, tur, atau sebagainya. Beberapa teman mencari tahu, namun nihil. Sang manajer pun sepakat untuk akhirnya membawa kasus ini ke kepolisian. Sedang keluarganya, ternyata Rain hanya tinggal di sini sendiri dengan tidak banyak komunikasi yang bisa dicapai kepada mereka.
"Seorang aktor muda dinyatakan hilang. Yak. Ki, beritanya sudah menyebar."
"Gue enggak habis pikir, Med. Kenapa pada akhirnya kita harus ikut campur. Kita 'kan mestI urus diri kita dulu. Apa enggak cukup kalau polisi aja yang menangani. Mereka ‘kan punya detektif!"
Medusa melipat koran yang aku beli di hari Minggu pagi ini.
"Engh, bisa jadi emang cuma kita yang bisa memecahkannya, Ki. Ah, tepatnya elo. Dia bilang apa? Karena cuma lo yang paham dan bisa bantu, Ki!" Medusa kembali meyakinkan secara hiperbolis.
"Hhhh ... Hampir dua bulan tinggal di sini, lo semakin pintar ngomong ya!"
"Ayolah, Ki! Mungkin lo bisa pinjam beberapa buku bacaan orang tua lo untuk mencari kasus yang sama untuk kemudian kita pecahkan. Orang tua lo pasti setuju."
"Gue pikir lo akan menyarankan gue mencuri buku mantra sihir."
"Eh? Emang masih ada?"
"Mmm…”
"Beneran? Di mana? Waah ... Yaudah, tunggu apalagi? Kita pakai cara cepat. Kalau lo siap gue akan siapin keberangkatan kita. Pasti ada di orang tua lo di Rumah Lama ‘kan?”
"Med, jangan bercanda ah. Enggak lucu."
"Kebetulan gue masih menyimpan serbuk ke mana saja, nih. Ayolah!"
"Hah? Lo juga nyolong itu? Ah, benar-benar, ya! Kalau kita ke sana, gue yakin sama aja kita bunuh diri, Med! Lo kebanyakan nyolong, sih!"
"Ya terus mau gimanaaaa?"
Medusa memang terlalu bersemangat untuk mencoba hal baru. Dan aku harus bisa mencari jalan keluar yang tepat. Menurut kabar, Rain meninggalkan pemotretan sesi terakhir di hampir pukul tujuh malam. Waktu yang masih sore. Saat itu seperti biasa ia pulang sendiri dengan mobil pribadinya. Menurut satu-satunya orang di rumah, yaitu asisten rumah tangga Rain, majikannya itu baru tiba di rumah ketika hampir pukul satu dini hari dengan pintu yang ia bukakan. Hari itu, tidak seperti biasanya, Rain pulang dalam keadaan mabuk dan mudah marah. Sama sekali bukan terlihat seperti dia.
Paginya, Rain demam dan tidak sadarkan diri. Lalu dibawa ke rumah sakit terdekat, dan malamnya ketika sang asisten kembali ke rumah sakit untuk menjaga, Rain tidak ditemukan di mana pun. Entah ia sudah sadar dan pergi sendiri, atau ada orang yang membawanya.
"Ki!"
"Mmm?"
"Rain enggak tahu siapa kita ‘kan?"
"Menurut lo?"
"Gue satu minggu lebih awal di sekolah kita dibanding lo. Gue belum cerita kalau gue rasa, Rain cukup tertarik dengan dunia sihir. Engh, gue beberapa kali memergoki dia baca buku soal sihir, dan...”
"Dan gue dengar dia merapal mantra! Beberapa mantra yang agak asing, sih, tapi kayaknya pernah gue dengar di Rumah Lama."
Aku tercenung. Yang benar saja. Lalu, apa memang benar ada hubungannya?
***
Namaku Sherlock Holmes. Atau lebih tepatnya, Sherlockia Holmes. Aku dan temanku, Medusa, adalah keturunan penyihir generasi terakhir. Usia kami tujuh belas tahun, dan sesuai dengan peraturan baru, mereka yang sudah menginjak usia itu mesti meninggalkan Rumah Lama, pindah untuk membaur bersama manusia berdarah murni membuat ikatan yang lebih bersahabat. Dan melepaskan seluruh ingatan soal sihir. Tapi, orang tuaku, orang tua Medusa dan beberapa tetua tetap tinggal untuk menjaga Rumah Lama. Menjaga dari berbagai macam hal seperti pencurian benda sihir atau buku mantra baik dari pihak dalam atau mungkin pihak luar. Juga mungkin sekaligus menjaga dari penyerangan kelompok yang memburu kami, jika masih ada.
Aku Sherlockia, dan aku bukan detektif. Orang tuaku meski tinggal di daerah yang terisolasi, sangat paham dan menggemari kisah si detektif super ini untuk selanjutnya mencomotkan nama tersebut untukku.
Aku Sherlockia Holmes, dari tempat dengan penampilan yang sama dengan manusia di sini. Dan kali ini, aku ditantang oleh takdir untuk menyelesaikan tiap hal janggal dengan: akal manusia secara murni atau nekat mencuri buku mantra sihir dan diam-diam mempelajarinya. Tapi percayalah, aku tidak menyukai kedua hal itu.
Dan kini, sudah satu minggu sejak berita hilangnya Rain disiarkan di berbagai media. Rain adalah teman baru kami di sekolah yang juga baru. Seorang selebriti yang namanya mulai mencuat, ia juga aktif di beberapa kegiatan sekolah. Pihak kepolisian bisa dipastikan beranjak angkat tangan jika kondisi masih menyulitkan untuk mendapatkan petunjuk. Beberapa acara bincang-bincang di televisi masih panas mencari kemungkinan penyebab hilangnya. Ada yang mengatakan bahwa ini sekadar sensasi yang biasa artis pendatang baru layangkan, tapi yang lain menolak, merasa bahwa Rain hilang betulan dan kini sudah tak bernyawa. Tapi semua itu hanyalah asumsi tanpa bukti. Rain memang hilang begitu saja seakan ditelan bumi. Ah, iya, atau ... sebuah pohon. Pohon?
"Gue nemu ini di pintu depan!" Medusa baru tiba, dan menyodorkan selembar kertas.
Di pohon besar berakar serabut biru, di situ dibaringkan.
Aku terkejut.
"Lo tau apa maksudnya?"
Sebenarnya aku masih bingung dan mencoba mengingat-ingat.
"Em ... Yang gue tahu, pohon sejenis itu ada di Tanah Leluhur. Ada ratusan jumlahnya."
"Ha? Tanah Leluhur?"
Aku mengangguk.
"Kampung halaman dari jenis kita yang lain?"
Aku kembali mengangguk.
"Oke, tunggu apalagi, Ki! Gue akan segera menyiapkan perlengkapan kita. Ayo!"
"Maksud lo, Med?"
Medusa menghela napas, "Gue yakin betul tulisan jelek di kertas itu pasti ada hubungannya dengan hilangnya si Rain. Ini petunjuk baru, Ki! Tunggu apalagi?"
"Oh, oke, kalau begitu gue segera hubungi polisi."
Baru saja Medusa membalikkan badan, ia segera berbalik lagi.
"Eeeh, biasanya lo yang paling serius nasehati gue soal ini. Kalau lo hubungi polisi, itu sama aja membongkar jati diri kita, Kia!"
"Eh iya, ya? Kok lo pintar? Terus, gimana? Lo yakin ini ada hubungannya dengan Rain? Kalau pun iya, apa kita mesti turun tangan?"
"Aah, Kia! Ayolah, belajar matematika membuat gue perlu untuk cari udara segar. Dibanding lo terus nanya, mending bantu gue urus perbekalan. Setengah jam dari sekarang, serbuk ke mana saja akan siap mengantarkan kita. Yuhuu!" Medusa mengedipkan sebelah matanya, bergegas menuju kamar.
***
Kalau dipikir-pikir, serbuk ke mana saja itu baunya sangat tidak enak. Setelah Medusa membantingnya ke lantai, terdengar suara ledakan kecil diikuti kepulan asap berbau gas manusia. Untungnya itu hanya sebentar saja, setelah kami mengatakan tujuan kami dan membayangkannya, perlahan asap itu berubah pekat dan membuat terbatuk-batuk, tapi tidak dengan baunya yang semakin hilang. Di tengah warna biru asap, Medusa mengajakku berjalan menembus lorong yang tiba-tiba tercipta di dinding kamar kami. Masih dalam kepulan asap, kami berjalan selama sekitar lima menit dan mendapati tempat seperti yang ada dalam bayangan.
"Uhuk-uhuk! Argh, ternyata lebih bau dari yang terakhir kali gue pakai!"
"Mungkin karena terlalu lama lo simpan, Med. Uhuk-uhuk!"
"Ya mau gimana lagi? Kalau gue pakai dari kemarin-kemarin, tetua mungkin sudah mengirim orang tua gue untuk menghukum. Mereka pasti tau."
"Ya, mungkin setelah ini, sekaligus tongkat. Tapi untungnya enggak lo pakai keluyuran dulu, jadi sekarang kita bisa ada di sini, Med!"
Dengan mengerjapkan mata akibat transisi gelapnya lorong ke terangnya alam terbuka, kami tahu kami sudah tiba.
"Aah, Ki! Kita berhasil! Yeeay! Jadi ini yang mereka sebut dengan Tanah Leluhur? Persis seperti yang kita bayangkan, hahaha. Ayo kita cari pohonnya!"
Drrt.
Sayangnya tiba-tiba semua menghitam. Seperti lampu dalam aula besar yang serentak dimatikan.
"Lho, ada apa, Ki?"
"Mana gue tahu! Kayaknya tadi masih siang, ya, di hutan ini? Kok tiba-tiba malam? Seperti mati lampu.”
Medusa bergumam menyetujui uraianku, karena sepertinya ia sedang fokus terhadap sesuatu.
"Engh, Ki, lo dengar itu?" Aku mengangguk, yang tentu saja tidak bisa dilihat Medusa.
"Itu kayak intro sebuah lagu. Tapi masa, sih?"
Dan tepat setelah itu, ada sebuah pintu yang perlahan terbuka. Dari celahnya terlihat ada cahaya yang sangat terang di dalam. Kami mendekat untuk mengintip, terlihat beberapa gadis di atas panggung tengah bernyanyi sembari menggerak-gerakan badannya dengan lincah.
”Dibandingkan orang lainnya adakah yang bisa kubanggakan...”***
Lalu para gadis itu melempar baris lirik selanjutnya ke penonton di depan mereka
"Apakah diriku layak untuk mencintaimu, kutanya, pada diri sendiri..."
Aku terkejut.
"Lho, Med? Lo tahu lagu ini?"
Dan belum sempat Medusa menyadari pertanyaanku, tiba-tiba kami seperti tertarik dan sudah berada di tengah-tengah arus penonton.
"Ku 'kan terus berjuang! Ku tidak akan pernah menyerah, gunung yang amat tinggi sekali pun, pasti bisa untuk kudaki ..."
Dan kini tinggal aku yang tidak mengerti apa-apa. Di mana tempat ini dan apa yang sedang mereka lakukan. Lagu-lagu itu bahkan terdengar a... Asing? Dan aku semakin menjadi bingung ketika kulihat tongkat ular milik Medusa yang diselipkan di balik baju hangatnya.
Drrt.
Suara seluruh peralatan dengan daya listrik dimatikan. Kembali gelap gulita.
"Ki?"
"Med, lo sudah sadar?"
"Hah?"
"Tadi lo nyanyi dan lompat-lompat kayak orang kesetanan. Dan tongkat lo..."
"Tongkat gue? Kenapa?"
Drrt.
"Suara itu lagi. Apa, sih? Dan kok lampunya mati lagi?"
Tring.
Seperti dipermainkan, lampu-lampu mulai menyala. Saat aku menyadarinya, ternyata sejauh mata memandang, hanya ada kursi-kursi yang menghadap panggung. Sudah ada banyak orang di sana, lelaki dan perempuan. Kami berdua persis di deretan kursi paling depan.
"Aaah! Tempat ini!" Bukannya bingung, Medusa justru berteriak kegirangan. Aku curiga kalau kali ini ia akan tersihir sama seperti tadi. Eh? Sihir?
Dan musik mulai dimainkan.
Aku mengikuti Medusa duduk. Para gadis seperti di tempat sebelumnya muncul satu-satu. Mereka mulai bernyanyi dan terus bernyanyi sembari menggerakan badan.
"Bunga tak menarik tak akan disadari! Yee ye ye!"****
Selama Medusa seakan tak sadarkan diri, aku memerhatikan tongkat ularnya. Itu benar tongkatnya 'kan?
Dan tatapan fokusku pada tongkat itu terpotong dengan berdirinya Medusa secara tiba-tiba. Ternyata dia ditarik oleh salah satu personel grup panggung itu.
Dan, "Oh, ya ampun, Medusa!" dia menirukan gerakan para personel. Tapi tongkat itu... Tongkat itu...
Beberapa orang mengikuti Medusa naik ke panggung. Ada yang hanya di latar depan, dan ada pula yang merasa cukup di depan kursi mereka. Tapi mereka sama, saling menggerakkan anggota tubuh se-semangat mungkin. Lalu secara tidak sadar, aku merasa badanku pun ikut bergerak-gerak.
"Aduh, ada apa ini?"
***
Aku Sherlockia. Aku masih berpikir bahwa aku bukanlah detektif, menjadi penyihir mungkin lebih tepat, meski aku sama sekali tidak juga menguasainya. Aku bersama Medusa sedang dalam perjalanan menuju Tanah Leluhur untuk mencari pohon besar berakar serabut biru untuk mencari tahu soal Rain, teman kami yang hilang, ketika rasanya serbuk ke mana saja salah membawa kami. Lapangan luas dengan panggung besar, lalu area tertutup dengan panggung menghadap ratusan kursi, entah memang suka atau tersihir kalimat mereka, Medusa lebih asyik ikut bernyanyi dan menari. Dan di antara orang-orang di dalam area itu, mungkin hanya aku yang masih memiliki sisa-sisa kewarasan.
"Ki!"
"Eh? Med? Lo emang suka mereka, ya?"
"Lha, emang kenapa? Eh lo enggak suka tempat ini?"
"Gue cuma enggak ngerti aja, Med. Kenapa kita ada di sini. Kayaknya serbuk itu salah buka pintu deh!"
"Aah, enggak mungkin, Kia! Justru gue yakin banget emang ini tempatnya!"
"Kenapa begitu?"
"Nih!"
Tanpa ba-bi-bu, Medusa mengeluarkan tongkat ularnya yang ... benar saja, bercahaya! Tongkat itu sebelumnya hanya terlihat seperti tongkat biasa dengan ornamen meliuk-liuk seperti ular yang terbuat dari kayu. Warnanya biru tua, tapi kini, dengan sangat jelas aku melihat warna tongkat itu mengalami gradasi. Seperti luntur, bagian tengah tongkat berwarna biru muda makin ke atas makin memudar, dan terus menuju ujung tongkat yang memutih berkilauan di tengah gelapnya ruangan. Ah, iya, tiba-tiba kami berada di ruangan yang gelap lagi. Dan tongkat itu, seperti bukan tongkat kayu lagi.
"Kok tongkatnya berubah warna, Med? Lo apakan?"
Medusa tersenyum, mulai menggerak-gerakkan tongkat. Dan tongkat itu pun terlihat sedikit memudarkan warna birunya.
"Mesti lo gerak-gerakin. Digoyang, semakin kencang semakin dia cepat berubah warna. Tadi gue menyadari itu. Di tempat pertama dan kedua, warnanya beda, makin luntur. Gue rasa ada hubungannya."
Tapi aku masih sulit untuk percaya.
Drrt.
Entah dari mana, muncul sebuah layar lebar rakasasa di hadapan kami.
Klik.
"Selamat datang di Tanah Leluhur. Dunia sihir terdahulu dengan kemajuan masa kini. Di sini kalian tentu saja akan tersihir sama seperti mereka yang datang. Namun hanya mereka yang punya tujuan dengan jelas dan pasti saja yang bisa mengendalikan diri. Selamat menikmati!"
Klik.
Aku tertegun, melirik Medusa yang mulai mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Tatapan matanya sekilas terasa kosong. Dan muncul musik dengan gambar bangunan sekolah di layar raksasa tadi.
"Ayo, Ki, kita tuntaskan! Ini yang terakhir."
"Lho, Med? Lo sadar?"
"Lo juga mesti terus sadar, Ki!"
Tk. Tk. Tk tk tk!
Musik dimainkan, dan gambar di layar mulai bergerak.
Medusa mulai mengikuti irama dan menggerakkan tangannya.
"Ikuti gue, Ki! Enggak apa-apa, selama kita punya tongkat ini, kita masih akan terus sadar, kok!"
Aku mengiyakan, merasa Medusa sudah banyak tahu, dengan kakiku yang juga ingin segera melompat-lompat.
***
"Hhh ... Hhh ... Lumayan bikin berkeringat. Itu tadi apa, Med?"
"Heavy Rotation, Ki!" Medusa juga mengatur napasnya.
"Oh." Tongkat ular Medusa kini di tanganku, dia mulai bersinar lagi, semakin putih, semakin terang dan terang.
"Lho, Med! Tongkatnya semakin putih bersinar!"
Aku mengangkat tongkat itu untuk selanjutnya tiba-tiba menghilang dalam genggaman.
Hap!
"Hahaha! Akhirnya gue dapatkan ini!"
Kami terkejut bukan main melihat siapa yang ada di hadapan tengah memegang tongkat ular Medusa yang bersinar penuh kilau itu.
"Terima kasih karena kalian akhirnya bersedia ke tempat ini. Surga bagi orang-orang seperti gue. Dan tongkat ini, hahahaha. Sangat berarti buat gue."
Orang yang di hadapan kami, dengan takzim mencium tongkat putih bersinar itu.
"RAIN!"
Itu bukan teriakanku, tapi Medusa.
"Biar gue coba dulu, oke? Cukup lama gue belajar. Ha, ini dia! Spasta spasta!" Rain terdengar merapal. Bukan salah mengubah mie menjadi ular seperti yang pernah Medusa lakukan, kali ini justru ia mengubah rambut Medusa menjadi mie. Jujur saja aku jijik sekaligus lucu melihat Medusa, ingin sekali rasanya tertawa kalau saja aku tidak sadar bahwa Rain bukanlah kawan kami sejak awal.
"Ups! Maaf, Med. Sparta sparta!"
Tring!
Medusa, nama yang diambil dari salah satu tokoh Yunani kuno dengan ular di kepala menampakkan wujudnya. Rambut mie Medusa benar-benar menjadi ular.
"Wow! Cocok, Med! Hahahaha. Sekarang dia milik gue!" Rain kembali mencium tongkat putih itu.
Medusa terlihat menahan kesal sekaligus bingung, begitu juga denganku.
"Rain! Maksudnya apa? Lo tahu? Medusa yang terus-terusan maksa gue untuk cari tahu di mana keberadaan lo dan kenapa lo hilang. Tapi kenapa lo ambil tongkatnya?!"
Rain tertawa.
"Gue enggak pernah minta itu, Kawan! Tapi mungkin seperti gadis lainnya, Medusa terlalu tertarik pada gue. Ya, kan, Med?"
Aku menoleh kaget pada Medusa, di sana wajahnya berubah merah seperti menahan marah dan tangis.
"Sebenarnya apa yang lo mau, Rain? Jadi untuk tongkat remeh itu lo dekati gue dan Kia, hah?!”
Rain kembali tertawa.
"Apa? Tongkat remeh? Tongkat ini bahkan bisa menentukan apa lo akan terus dengan rambut ular lo itu atau enggak, Med."
Tring!
Dengan sengaja, beberapa ular kobra yang dipanggil Rain mulai mendesis ke arahku.
"Cih, ternyata semua itu cuma topeng. Itu bukan punya lo, Rain! Lo bukan keturunan sama seperti kami. Tolong kembalikan!"
"Wah, wah, setelah tahu fungsi barunya, lo berminat juga, Ki? Tapi gue rasa, Medusa yang diam-diam sering memperhatikan gue ini akan merelakannya. Ya, ‘kan, Sayang? Anggap aja ini kado untuk aku."
Aku mendengus, dan dari dalam tasnya, entah apa yang dikeluarkan Medua.
Tring!
Apa? Tongkat kedua? Dan Medusa mengubah rambut ularnya menjadi seperti semula bahkan lebih baik.
“Sayang?”
Tring!
Ular kobra berubah menjadi ular lain yang lebih besar, mendekat ke arah Rain.
“Sejak beberapa kali memergoki lo punya ketertarikan dengan dunia sihir yang terlihat berlebihan, lalu lo mendekati Kia yang lebih terlihat misterius ketimbang gue, maka saat itu juga—“
Rain mencoba membuang ular yang mulai mendekatinya.
Tring!
Medusa lebih cepat satu langkah. Membelit Rain dengan ular besar tidak berbisa itu. Dan mulai menjelaskan apa yang dipikirkan dan diselidikinya mengenai Rain.
"Lo enggak akan pernah gue biarkan menembus berbagai portal dengan tongkat yang sudah ber-evolusi ini, Rain! Enggak akan gue biarkan! Simpan seluruh mimpi bodoh lo itu!" Tutupnya lelah menjelaskan.
Rain mencoba melepaskan belitan ular besar itu, menggerak-gerakan tongkat di tangannya.
“Dan sayang gue, Rain, lo benar-benar bukan tandingan gue maupun Kia. Belum sampai kita bertarung dan lo sudah kalah. Kalau memang lo penggemar sejati mereka dan semua sihir itu, seharusnya lo sadar kalau itu cuma light-stick biasa yang sedikit gue kasih bumbu sihir. Tongkat sesungguhnya ada di sini, di tangan gue."
Tring!
Aku takjub Medusa memainkan tongkatnya dengan tanpa perlu mengeluarkan mantra, dan tongkat di tangan Rain terangkat untuk kemudian terbelah. Tongkat itu ternyata memiliki cairan di dalamnya, tumpah tepat ke wajah tampan aktor muda itu. Kalau aku tidak salah, Rain sempat menjerit merasakannya. Dia memang belum melakukan banyak kekacauan, maka dibanding membunuhnya, Medusa mengusulkan agar Rain di sini seterusnya. Bukan, bukan di lapangan dengan panggung megah, ruangan tertutup dengan banyak kursi, atau area berlayar lebar. Tapi di pohon itu, seperti yang tertulis dalam suratnya, pohon besar dengan akar serabut biru, tempat di mana terdapat portal hitam yang sekali terjerat akarnya, kamu tidak akan pernah bisa kembali, tentu, kecuali dengan sebatang tongkat bercahaya.
"Lo benar-benar aktir muda yang hebat, Rain! Kalau lo bisa keluar dari sini, gue janjia akan mengusulkan lo untuk dapat penghargaan!"
***
“Kalau dipikir-pikir dia konyol banget ya, Ki? Cuma gara-gara tongkat ini!”
“Ya, dia lebih tahu banyak soal tongkat itu bahkan dibanding kita. Kenapa? Lo khawatir?”
“Eh? Ya, enggaklah!”
“Semua itu tertulis jelas di dahi lo, Med! Lo beneran suka dia sejak awal 'kan?”
Medusa terdiam.
“Hahaha berarti selama ini lo cuma pura-pura baik dong ke orang yang sering dideketin dia?"
“Engh, Kiaa..."
“Aah ... Maaf, ya, Med, karena sering meremehkan. Ternyata lo bahkan jago banget memecahkan kasus dan ilmu sihir. Memakai tongkat bahkan tanpa terdengar mantra. Gue percaya lo sangat bisa. Dan sekarang gue janji, gue enggak akan mengusik kalau lo mau nyolong buku mantra itu dari orang tua gue. Hehe. Tapi dengan satu syarat! "
Medusa menatapku dengan penuh tanda tanya.
“Em … Jangan bilang siapa-siapa, ya. Tapi ... Ajarin gue gerakan Heavy Rotation, dan kawan-kawannya, doong!"
Medusa tersedak dan mulai tertawa keras sekali.
"Eh, sssstt! Ini perpustakaan, Meddy!"
...
Namaku Sherlock Holmes, tepatnya Sherlockia. Dan aku bukan detektif juga bukan penyihir. Tapi aku tahu, kasus semacam ini mungkin saja akan terjadi lagi. Sparta!
-Ri-
0808-2016 "Hachigatsu ni IOC WP no Charenji"
*) Nama lagi hewan nyomot dari namalatin.com
**) Bahasa Yunani untuk "menghilanglah!" nyontek dari Google Translate
***) Boku wa Ganbaru by JKT 48
****) Koisuru Fortune Cookies by JKT 48
Beberapa informasi lainnya didapatkan dari Google dan KBBI^^ CMIIW
No comments:
Post a Comment