Sunday, July 17, 2016

Kursi Merah Muda

Kau tahu?
Saat angin berhembus lembut,
saat itulah terkadang ada hembusan lain berebut menyusup. Pada sebuah ruang dengan sebuah perkiraan,

"Mungkin kita pernah bertemu,"
sengaja atau tanpa sengaja, ah ya pasti pertemuan kita adalah kesengajaanNya.

"Mungkin kita pernah bertemu,"
saat berjalan, bersisian atau saling melewati.
Saat menunggu bus atau angkutan umum.
Saat beranjak ke kota di dalam kereta.
Atau bahkan, di sebuah dunia yang disebut maya.

"Mungkin pula kita pernah bersapa,"

'hai!'
'halo!'

Lagi-lagi di tempat yang sebenarnya biasa.

"Mungkin juga kita pernah bersama,"
semisal membangun suatu misi untuk dunia. Atau menanam pohon untuk bahagia.

Tapi sendiri tetaplah sendiri.
Bagaimana mungkin kutahu itu kamu?
Nyatanya aku hanya di sini di sebuah kursi untuk berdua, yang berwarna merah muda.

Aku masih di sini, menggenggam sebuah buku harian tua, dengan pena bertinta.

Aku masih di sini, ditemani angin, menatap tiap awan, dan berharap banyak padaNya.

Aku masih di sini, untuk apa? Jelas saja, untuk mempersiapkan semuanya.

Dan biar kutunggu kau, di sini, iya di sini, di sebuah kursi yang tak perlu berwarna merah muda. Saling memegang buku, ah! Itu buku kita.

-Ri-
0712-2015
Nemu.

No comments:

Post a Comment