"Athena!"
Seseorang memanggil, dan ... tentu saja aku harus menoleh untuk tahu siapa itu.
"Athena! Kau ... Athena, 'kan?"
Aku menatap dalam orang di hadapanku. Mencoba mengingat-ingat siapa dia.
"Kalau aku Athena, kenapa? Kalau bukan, kenapa?"
Aku tahu kalimat itu terlalu arogan. Tapi masa bodoh, aku tidak peduli.
"Err ... benar kau Athena. Athena Delima. Perkenalkan, aku ... Hefaistos!" Sembari mengenalkan nama, tangannya mengarah kepadaku.
Aku tidak segera menyambutnya.
"Hefa ... Hefaistos?" Dan memilih menyipitkan mata menerawang jauh.
Ia mengangguk. "Benar sekali. Nama kita seperti tokoh dalam mitologi Yunani, bukan?" Karena tidak mendapat sambutan, Ia beranjak menarik tangannya.
"Ah, maaf," dan aku pun segera menangkupkan kedua tanganku di depan wajah. "Aku tidak terbiasa bersentuhan dengan pria. Terutama pria asing."
Ia mengangguk canggung, sempurna menarik tangannya.
"Lalu, kalau kau memang benar Hefaistos, tentu aku harus berhati-hati." Aku mencoba tersenyum untuk mencairkan suasana--meski rasanya itu tidak terihat seperti senyuman.
"Hahaha ... tidak. Aku tidak akan mau seperti Hefaistos yang itu. Aku bahkan tidak terlalu suka dengan nama ini." Di kalimat kedua, jelas terdengar suaranya lebih rendah. Sepertinya ia tulus.
"Baiklah, Hefa, eh? Istos? Kau harus kupanggil apa? Dan, apa maumu? Sejujurnya aku tidak terlalu suka bercakap-cakap dengan orang asing."
"Heavy. Hahaha, mereka biasa menyebutku Heavy. Tentu kau tahu apa artinya itu." Aku tidak perlu memandangnya lebih lamat lagi untuk mengerti kalimatnya.
"Err ... Adikku ... adikku penggemarmu. M-maksudku Athena Parthenos. Ia ingin sekali melihat sang dewi dalam wujud nyata--"
"Tapi itu hanya sebuah dongeng!"
"Maaf, aku belum selesai. Ia selalu mencari orang-orang dengan nama-nama seperti kita ini. Zeus, Metis, Poseidon, Hermes, dan semacamnya. Ah ya, aku tahu itu berlebihan. Entahlah."
"Ada begitu banyak nama seperti itu di dunia ini."
"Tentu, Ath, jika ia mampu menelusuri seluruh dunia. Sayangnya ia tidak bisa. Sebenarnya ia sudah menemukan beberapa, termasuk seseorang bernama Athena, namun itu tidak sesuai harapannya."
"Memang ia berharap apa? Dan kalau sudah bertemu, akan ia apakan orang-orang itu?"
"Ia ... ia ingin membangun dunia menjadi lebih baik."
Sampai di situ aku tercenung. Apa maksudnya?
"Dengar, Hefa, maksudku Heavy. Aku tidak mengenalmu, dan aku tidak tahu apa maksudmu dan adikmu itu. Membangun dunia? Bersama orang-orang dari Olimpus? Sepertinya adikmu--"
"Benar sekali. Jiwanya rapuh, kesadarannya surut. Ia sudah tidak waras lagi. Aku tidak begitu paham apa yang dimaksud dengan 'membangun dunia'. Mungkin dunia musik atau dengan musik seperti ketertarikannya. Dan mungkin memang ini terdengar kekanakkan, karena ia memang seorang anak-anak."
Terkejut. Aku cukup terkejut.
"Maksudmu ia sakit jiwa? Dan, anak-anak?"
Hefaistos mengangguk.
"Dan di masa kritisnya ini, ia ingin sekali mendengar sebuah dentingan piano. Tentu kau mampu, Ath. Aku mendapat kabar itu dari selebaran ini." Hefaistos mengeluarkan selembar kertas yang dilipat dari balik kantung kemejanya.
Ah, di sana tertera satu bulan lagi jadwalku untuk bermain.
"Aku ... aku ingin menghadiahinya seorang dewi yang bermain piano, Ath. Aku mohon. Dulu ia pandai sekali bermain musik. Sebelum akhirnya seekor 'anjing biadab' memotong jari-jarinya cantiknya."
Hefaistos menggeram. Aku sendiri hanya terkejut sebentar.
Bagus sekali, Athena! Seorang anak yang kabarnya tengah sakit jiwa namun pandai bermain musik itu bahkan lebih peduli pada dunia. Dan, kau?
"Besok tepat sekali ia berulang-tahun. Aku mohon ..." Hefaistos berlutut di hadapanku, seperti Hefaistos yang itu begitu takjub pada sang dewi kebijaksanaan.
"Datang saja di acaraku satu bulan lagi."
Hefaistos menunduk.
"Sayangnya aku selalu khawatir nyawanya akan pergi saat aku tidak di sisinya. Aku khawatir ia bahkan tidak bisa bertahan untuk sekadar satu minggu lagi. Ingin sekali aku berharap setelah mendengar permainanmu, nafasnya kembali menderu dan semangatnya pulih."
Baiklah ...
---
Aku memejamkan mata. Terasa seperti kelilingku adalah hutan dengan penuh bunga dan air terjun yang damai. Rusa bertanduk yang memakan rumput, dedaunan di sungai, dan semilir angin yang membawa nyanyian harpa.
Harpa.
Bukan dentingan piano, aku lebih memilih senar-senar dalam bingkai segitiga ini untuk kumainkan sebagai seorang dewi. Sang perawan yang bijaksana.
Dan anak itu, sayup-sayup celotehnya soal dunia mulai mengabur. Tubuhnya sudah terbaring sejak aku datang, dan matanya setengah menutup.
"Saat kau mengatakan anak-anak, aku pikir ia memang benar masih anak-anak."
Hefaistos hanya tersenyum. Bukan anak-anak dalam wujud sebenarnya ternyata. Dan, jari-jari tangan itu. Tiga belas jari, terpotong yang berlebihan, untuk akhirnya tak berfungsi sama sekali. Maka dengan mengalihkan pandangan adalah yang terbaik untukku saat ini.
Kembali aku berfokus pada senar harpa. Satu petik, dua petik. Nada-nada mulai mengalir. Seperti aku, semua menikmati. Dan di permainan yang ketiga, aku menyebutnya dengan 'lagu kebebasan'. Sebuah lagu yang aku buat dan nyanyikan untuk mereka yang ingin bebas atau 'bebas' seperti yang diharapkan. Dan Minerva, adik dari Hefaistos sepertinya menikmati 'kebebasan' itu.
Aku bahkan bisa melihat sekelebat bayang hitam menarik sebuah benang dari diri Minerva. Dan 'anak' itu sempurna menutup mata sembari tersenyum lega.
"Hefaistos! Adikmu!" Untuk kemudian semua suara itu memecah permainanku.
Ah, aku benci permainan setengah kebebasan (seperti ini).
-Ri-
1307-2016
I Must Write Something, dude!
Referensi dari Google dan ingatan lama.
No comments:
Post a Comment