"APA? Jadi kamu juga datang ke acara itu, Dir?"
Dirga tersenyum, mengangguk sembari menaikkan kedua alis tebalnya.
"Enggak nyangka, ya? Hahaha ..." kali ini aku yang tersenyum. Bagaimana tidak? Sebuah kenyataan yang sebenarnya biasa saja tapi cukup mengejutkan, terutama untukku.
"Mungkin saat itu kalau kita sudah lebih dulu kenal dan ketemu, kita bisa ngobrol-ngobrol kayak gini, ya ..." ada sedikit perubahan ekspresi di wajahku saat mendengar kalimatnya barusan.
Iya, seandainya saja.
Hari itu tepatnya hampir setengah tahun yang lalu aku bertugas menjaga stand produk kelompok bisnisku di sebuah acara festival amal. Acaranya sekitar satu minggu, namun aku dan temanku, Erine, kebagian jatah di dua hari terakhir.
Itu adalah bulan penghujung tahun. Acaranya ramai, dan di tengah keramaian itu, beberapa kali aku melenyapkan kebosanan dengan berjalan-jalan di area sekitar. Begitu juga dengan Erine, maka kami sepakat berjaga bergantian ketika perasaan itu muncul.
Sayangnya, ketika ada pertunjukkan membaca puisi di panggung, seingin apapun aku untuk menontonnya, Erine mengirimkan pesan dan memaksaku bergantian menjaga stand. Hanya sekilas melihat siapa yang naik ke panggung, aku segera menuju Erine.
"Oke, please, gue udah kebelet banget. Lo enggak keberatan, kan, El?"
Aku mengangkat bahu.
"Kalau aku keberatan, terus kamu kekurusan gitu?"
Erine melongo, nyengir.
"Gue akui itu garing, El, tapi gue akan ketawa, tentu setelah sakit perut gue hilang ya. Bye!" dan dengan seenaknya mengatakan leluconku ini receh, Erine melenggang pergi--lebih tepatnya berlari.
Baru saja kursi di belakangku aku duduki, ketika,
"...satu waktu, aku bertanya, 'haruskah aku selarut ini?'"
"Menyelam bersama mereka yang aku lebih memilih dia?"
Aku kembali mendengarkan dan mendengarkan.
"...aku mati, maka jejakku menghilang. Tanganku meraih namun peti ini tertutup! Rapat."
Aah ... ingin sekali aku melihat siapa yang membawakan puisi itu, ingin tahu seperti apa ekspresinya. Dan mungkin bisa belajar darinya. Tapi ...
Di mana sih, Erine?
Hingga puisi itu selesai pun aku tidak berhasil menyaksikan langsung di depan panggung, dan untuk kemudian tidak begitu tertarik soal siapa dan darimana pengisi panggung itu.
"Toiletnya ngantri, Bu? Cepet banget."
Erine tertawa.
"Kali ini lucu, El. Hahahaa. Maaf, ya, tadi mampir sebentar lihat jajanan, hehe."
"Mampir sampai satu jam?" Aku memutar bola mataku.
"Aduuh ... Elzianna yang gue kenal itu lembut dan enggak gampang marah. kok ini manyun-manyun, siih?" Erine mencubit pipiku, tapi aku yang gemas. Semakin memajukan bibir.
"Ini kan karena gabung sama kalian." Dengan serempak kami pun tertawa setelah sebelumnya aku kembali memutar bola mata.
---
Aku benar-benar tidak menyangka. Sebenarnya ini sederhana saja, tapi mengetahui ia pun sama datangnya di hari itu dan mendengar suaraku, maka senyum ini mati-matian aku sembunyikan.
Tuhan ... pertanda macam apa ini?
Bahkan sebelum pertemuan fisik, ruh kita sudah lebih dulu saling menyapa. Ternyata, pertemuan pertama kita bukan di kemarin sore, tapi jauh sebelumnya.
"Zianna."
"Dirga."
Sekitar dua bulan yang lalu, Bayu, setelah selesai penampilan segera mengenalkanku dengan beberapa temannya. Ah, tentu saja ternyata temanku juga, namun kami baru saling mengenal di hari itu karena satu dan lain hal.
"Apa artinya?" Aku mencoba berbasa-basi.
Ia mengangkat bahu, tersenyum.
"Enggak tahu?" Aku kembali menyelidik karena teman-teman yang lain asyik berbincang satu sama lain yang tidak begitu aku pahami. Dan dia sama hanya menyimaknya denganku.
"Aah ... lebih tepatnya enggak mau tahu." Kembali ia tersenyum. Aku hanya ber-ooh pelan.
"Tapi ..."
Ya?
"Raja."
"Raja?"
"Emm ... pemenang. Kalau kamu ketikkan namaku di mesin pencari, Zianna atau lengkapnya Elzianna, maka kamu akan mendapatkan nama yang lainnya."
"... Zianka, Ziandra, atau Zivana. Zivana sendiri bermaksud pemenang. Kalau dipotong-potong jadi Zia dan Anna. Zia itu kemegahan, Anna itu saya."
Ia menarik napas pelan.
"Sebenarnya ini asumsi pribadi, setelah ayah selalu bilang soal raja. Maka mungkin arti namaku merujuk ke arah sana. Raja, kerajaan dengan segala kemegahannya. Juga tentu, kemampuan memimpin. Zivana sang pemenang."
Ia tersenyum.
"Gagasan yang bagus, meski terkesan dipaksakan menyambung," aku menerawang. "Tapi ... sebutan raja itu kan untuk lelaki. Kenapa bukan ratu?"
Kali ini bukan tersenyum, ia ikut menerawang dengan kepuasan.
"Itu ... Hahaha. Itu pertanyaan yang pernah aku ajukan juga. Tapi untuk diriku.
Karena?
"Karena aku terlambat mengajukannya. Jadi, lagi-lagi aku berspekulasi, deh." Sekilas wajahnya tampak murung, tapi dengan cepat ia kembali bersemangat.
"Ratu. Kabarnya, ada dua macam pengertian ratu dalam kerajaan. Ratu yang menjabat sebagai isteri raja, atau, ratu yang memang benar-benar memegang peranan sebagai ratu atau raja, dalam artian ia sebagai pemimpin. Posisi nomor satu. Tapi kebanyakan orang, memandang ratu seperti pengertian pertama, sebagai isteri raja. Padahal aku berharap mereka menyebutnya "permaisuri". Jadi, daripada mengecohkan dan menjadi posisi kedua, aku lebih suka menyebut diriku sebagai raja dan akan menjadi raja. Entah secara harfiah, atau apapun itu."
Hening sesaat. Aku mencoba mencerna.
"Jadi, kamu enggak suka di posisi kedua?"
Ia tertawa, "Sebenarnya aku rasa semua orang juga begitu. Tapi maksudku lebih kepada, dengan menjadi raja, adalah aku mesti menjadi seorang pemimpin. Meski aku perempuan, kewajiban memimpin itu mesti, setidaknya terhadap diriku, segala ego, nafsu, hasrat. Kebayang enggak kalau seorang wanita sulit memimpin perasaannya?"
"Bukannya wanita memang lebih ke perasaan?"
"Itu ... " Ia berhenti, memandangi segelas es teh kedua yang baru tiba. Tertawa, "Sebentar aku minum dulu." Aku mengangguk, menyetujui.
"Iya. Sudah lumrah wanita disebut makhluk perasa. Aku agak bingung mesti setuju atau bagaimana. Tapi poinku adalah, kalau si wanita sulit memimpin perasaannya, kayaknya ia hanya akan menjadi makhluk perasa yang ..." kalimatnya terdengar sengaja digantung, mungkin ia agak bingung dengan lanjutannya.
"Emm ... apa ya sebutannya? Enggak masuk akal, mungkin? Bodoh, atau ..."
"Enggak punya arah?" Aku mencoba menimpali.
"Aah ... bisa! Emm ... irasional juga kali ya?"
"Tapi, perasaan memang enggak rasional, kan?" Aku mulai bingung.
"Iya, makanya perlu dipimpin. Jadi, kamu bukan hanya sekadar punya perasaan yang kuat, tapi, perasaanmu itu mesti dipercaya dan enggak terkesan irasional ..."
Gadis yang duduk di kursi seberangku ini mulai tertawa lagi.
"Maaf ya, mungkin ini penjelasan yang aneh dan bikin bingung."
Tapi aku menggeleng, bukan karena ingin menghiburnya.
"Enggak. Justru aku mulai melihat korelasinya."
"Dan, satu lagi. Kalau wanita enggak bisa memimpin, minimal diri dan perasaannya. Wah, mungkin si perasaan itu sendiri sudah berceceran di mana-mana dan ... kurang terkesan berharga untuk dijaga."
Kembali aku menerawang, mulai mencerna, sedangkan Zianna atau lengkapnya Elzianna menyeruput habis es tehnya.
Aku mencoba memandangnya. Meja yang memisahkan kita ini, untungnya tidak berjarak terlalu dekat, jadi, ketika menyadari aku mulai memandangnya dengan berbeda dan jantungku pun berdegup dengan cara yang beda, semua itu tidak terlalu kentara dan rasanya ... aku perlu air untuk membasuh merah mukaku.
---
"Hei, kalian kok bengong?" Sebuah suara memecah lamunanku. Itu suara Erine.
Eh? Tadi aku melamun, ya?
"Lo, ngelamunin apa, Dir?" Suara yang lain terdengar.
Dirga? Melamun? Juga?
-Ri-
0907-2016
Seharusnya kemarin udah selese, tapi kepotong gara-gara hape error dan liburan^^ dan buat yang udah baca part sebelumnya, yes, ini lanjutan tulisan buat GA kemarin, wkwk. Rada geli deh rasanya gue bikin tulisan begini. Dan aneh juga ya wkwk, CMIIW.
Arti nama nemu di carinamabayi.com :D
No comments:
Post a Comment