Wednesday, June 29, 2016

Kelopak Mawar Putih dan Kancing Kemeja

Balas. Enggak. Balas. Enggak. Balas. Enggak. Balas... enggak... ba...las!

Kelopak terakhir bunga Mawar putih layu yang aku cabuti satu-satu ini membantu untuk menentukan pilihan. Aku senang kelopak terakhir dari bunga kesukaan yang menua di vas itu menunjukkan pilihan untuk "membalas". Meski, tentu saja sebenarnya aku malu dan agak ragu untuk melakukannya.

Adalah lima menit yang lalu sebuah notifikasi muncul di tepian atas layar ponselku. Status terbaru atas opiniku baru saja dikomentari seseorang. Dan, demi melihat siapa nama komentator beserta isi komentarnya itu, aku menutup mulut untuk menghindari pertanyaan yang mungkin akan muncul akibat senyuman yang tiba-tiba ini. Iya, lima menit yang lalu, dan kini aku sudah lebih bisa mengendalikan diri dan perasaan yang rasanya berlebihan, sekaligus, baru saja menentukan keputusan dari kelopak terakhir itu.

"Oke deh, dibalas saja, demi sopan santun," akhirnya aku mengetikkan kalimat dengan harap tidak harap ia kembali membalas dan kami bisa berdiskusi.

Ujung-ujung ibu jariku bertautan, saling bergesek menandakan kecemasan. Ketik, hapus, ketik, hapus, ketik. Ah, rasanya sudah cukup baik. Tapi, apa tidak apa-apa aku membalas komentarnya seperti ini? Duh, apa setelah ini ada yang mengira macam-macam, ya?

Dan sebuah bisikan menyentuh pendengaranku, "Ayolah, Zianna, ini bukan kontes menulis dengan EBI yang mesti sempurna. Dan, jangan jadikan ini sebagai lahan receh untukmu mencari perhatiannya!"

Err.. baiklah...

Dan komentarku pun terkirim.

Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh hingga tiga puluh menit. ternyata tidak ada komentar balasan. Ya, tentu saja, aku tidak jadi membalas komentarnya dengan kalimat panjang yang dapat menarik minat untuk dikomentari balik, jadi bagaimana mungkin ia akan kembali berkomentar kecuali, kalau dia memang ingin membuka topik obrolan?

---

Balas. Enggak. Balas. Enggak. Balas. Enggak. Ba...las... eng-gak!

"Yaah, kancingnya bilang enggak." Mungkin ini memang terdengar lucu, tapi seringkali keputusan-keputusan bijak dari seorang Dirga adalah melalui tahapan menghitung kancing. Dan karena kancing terakhir kemejaku mengatakan tidak, maka aku kehilangan kesempatan untuk membalas komentar gadis itu atas komentarku terhadap status di media sosialnya.

Sebenarnya bisa saja aku membalas, tapi sebuah bisikan muncul, bukan dengan menyentuh telingaku, tapi justru hati, "Sudahlah, Dirgantara, kalau memang ragu, untuk apa diteruskan? Toh bukan prioritasmu juga untuk membalas tiga patah kata darinya itu. Luruskan niatmu!"

Ah, baik sekali aku sudah diingatkan. Baiklah, kuurungkan saja niatku kali ini dan lebih baik melakukan yang lain.

Log out.

Aku menutup jendela browser-ku, mematikan internet dan beralih dengan menekan-nekan tuts keyboard. Aku menulis laporan. Iya, laporan perasaan.

Aku ingin mencintai dengan hitam, layaknya kuteguk sepi malam yang kelam...

---

"... Namun rinduku berujung putih, tak ingin ia mudah berubah seperti buih."

Puisi yang sederhana tapi bagiku sungguh bermakna. Untuk seorang wanita-kah? Rasanya iya, dan tentu saja orang itu terdengar bukanlah aku.

Pertemuan di kemarin sore, mungkin memang saat ini cukup dengan tulisan-tulisanmu itu aku menyandarkan-nya. Mungkin memang dengan melihat dari kejauhan, cukup ranselmu yang kupandang.

"Zianna."

"Dirga."

Sekali lagi aku mengingat, kalau bukan orang lain, tentu kamu. Kalau bukan dia, pasti kamu.

Dan atas nama keyakinan itu, maka cukuplah aku hanya, mencari perhatian-Nya...

"Zianna..."

"Eh? Iya, Bunda?" Aku terkejut, ibuku sudah tersenyum, memandangi helai demi helai kelopak Mawar putih di atas meja. Aku mengikuti arah pandangnya.

"Eh, i-iya, segera Zian benahi. Hehe."

"Bunda kira sudah selesai diganti." Kali ini ibuku memandangi ponsel yang aku pegangi.

"Aah..." aku nyengir, menggaruk kepalaku yang tidak gatal, "iyaa, Zian internetan sebentar tadi," dan segera membentuk huruf V pada kedua jari kananku.

Lagi-lagi beliau tersenyum dan beranjak pergi, tapi kemudian berhenti.

Ada apa?

"Anak gadis tidak baik melamun terus. Jaga pikiran kamu saat sendiri. Kalau bukan hari ini, ya nanti. Kalau bukan nanti, ya hari ini. Dan kalau bukan dia, pasti dia. Allah tahu yang terbaik, Sayang..." Aku memiringkan kepala, dengan jelas aku melihat kedipan menggoda di mata kanan ibuku.

Bunda?

Dan saat itu juga, aku rasakan wajahku memerah malu.

-Ri-
2906-2016
#GiveAwayEmud
#OneWeekOnePaper

Berdasar puisi "Hitam-Putih" karya Rizky Khotimah (http://kiki-diarysunflower.blogspot.co.id/2016/02/hitam-putih.html?m=1)

No comments:

Post a Comment