Duar!
Dor!
Untuk yang ke sekian kalinya, suara itu terdengar. Sekilas mungkin orang-orang akan mengira kalau itu adalah suara letusan kembang api menjelang malam takbiran. Namun nyatanya tidak. Suara itu bukan letusan kembang api atau petasan yang biasa dimainkan anak-anak di malam hari--apalagi saat ini hari masih terbilang sore, ditandai dengan langit yang masih berwarna jingga. Tapi itu adalah...
Suara-letusan-yang-lain.
Duar!
Aku kembali bersembunyi di balik gerobak tukang sop buah yang membuatku tidak henti-hentinya memandang ke arah bebuahan dan segala komponen produk itu. Ah, kalau saja situasinya tidak begini, sudah sedari tadi aku memboyong satu bungkus untuk kusantap nanti.
Dor!
Kembali terdengar suara itu. Kali ini jaraknya tidak terlalu jauh dari tempatku bersembunyi. Seseorang di sana, berpakaian serba gelap dengan senapan di tangannya. Rambut dikuncir kuda, mata menatap tajam lurus ke arah seberang, sang rival.
"Serahkan itu, atau kau akan mati!" Aku mendengar wanita itu bersuara. Yang ditanya hanya tersenyum sinis, mengangkat satu alisnya. Terlihat sekali ia mencoba meledek.
"Argh, cepat serahkan!"
Dor!
Kembali si wanita berkuncir kuda itu melepaskan tembakannya. Dan si wanita yang di seberang, dengan gerakan slow motion ala-ala film aksi yang sering kutonton sigap menghindar, telat beberapa detik saja, peluru itu menembus jantungnya. Dan aku menahan napas untuk itu.
"Sial! Ini seru sekali, bukan?!" Di samping tiba-tiba saja ada kepala pimpinan timku. Aku meliriknya heran.
"Ini seperti adegan di film-film! Argh, sayang sekali kalau dilewatkan!" Kali ini jari-jari kanannya mengepal dan dipukulkan ke telapak tangan kiri.
Aku kembali heran, namun mengiyakan. Ah, benar sekali, mereka seperti Charlie's Angels kesukaanku. Keren sekali!
"Lihat, wanita yang di seberang itu, meski lawannya membawa senapan, ia sama sekali tidak gentar hanya dengan busur dan panah yang ia bawa. Benar-benar menakjubkan, Rudi!"
"Tapi, Pak!"
"Mm?"
"Apa kita dikirim ke sini hanya untuk menonton saja?"
"Ah, Rudi... haruskah kita menjadi pemain? Untuk saat ini, duduk diam saja dulu, dan nikmati tontonannya."
"Tapi, Pak!"
"Apa lagi, Rudi?"
"Sebenarnya apa yang mereka rebutkan?"
"Ah, kau! Sudah kubilang jangan tertidur saat rapat!"
"Aku tidak--"
"Hey, lihat, masing-masing dari mereka ternyata punya teman!" Pak Kepala menunjuk ke tontonan kami, dua wanita yang saling beradu dengan masing-masing dua teman mereka.
"Hahahaa... kalian tidak mungkin bisa mengalahkan kecanggihan alat-alat kami!" celetuk si teman wanita berkuncir kuda.
"Cih, jangan sombong dulu, Nenek ompong!"
"Apa kau bilang?"
"Nenek ompong!"
"ARGH!" Hampir saja salah satu wanita di pihak senapan, melayangkan pelurunya kalau saja tidak ditahan oleh wanita yang lain.
"Tahan, Ningsih! Biar aku yang maju." Wanita yang menahan seseorang bernama Ningsih itu dengan senyum mantap, melangkah.
"Sekar, kumohon, berikanlah pada kami..."
"Kakak, kau--"
"Ningsih, diam!"
Yang disebut Sekar tidak lain adalah teman si wanita yang di seberang tadi. Kedua matanya menatap lurus-lurus, lalu berpaling pada benda di genggamannya.
"Tidak, Sekar, jangan!"
"Sekar, kumohon, kami membutuhkan itu. Di tempat kami, sulit mencari seseorang yang bisa melakukannya..." si wanita tadi kembali memohon.
"Kakak, aku tidak sudi kau mengemis seperti ini!" Sang adik, yang merupakan wanita berkuncir, membuang senjatanya dengan mata menyala-nyala.
Sedangkan di pihak wanita panahan, seseorang bernama Sekar kembali diminta untuk tidak menuruti keinginan rival mereka.
"Tapi..."
"Sekar, kubilang jangan!"
"Tapi bahkan kita sudah punya lima belas buah, Kakak!"
"Itu tidak cukup, Sekar!"
"Sekar, kumohon... kami bahkan tidak punya satu pun..."
"Hey, itu salahmu sendiri, jangan menyusahkan kami!"
"Bagaimana kalau dibagi dua saja? Kenapa permasalahan ini harus sampai serumit ini?" Dengan mata berbinar-binar, wanita yang disebut Sekar mengusulkan.
"Sekar..."
"SEKAR!"
"Kakak, benar apa yang dibilang Kak Sekar... kita bahkan bisa... membuat..." kali ini wanita terakhir di pihak panahan membuka suara.
"Membuat apa?"
"Membuat... lontong sayur! Iya, kalau tidak bisa membuat ketupat, kenapa tidak dengan lontong sayur? Hampir sama, bukan?" Ujung-ujung jari telunjuknya saling menyentuh saat si wanita itu berpendapat.
Kening wanita berkuncir kuda mengerut.
"Simpan usulmu itu untuk mereka saja, Tuti!"
"Ah, tapi... kami bahkan tidak bisa membuatnya. Maka dari itu kami membutuhkan cangkang itu untuk membuat ketupat sayur. Daan..."
"Dan lagi ibu kami amat menyukainya..." kali ini si wanita berkuncir kuda menambahkan kalimat kakaknya.
Langit masih jingga, satu-persatu dari mereka menurunkan senjata masing-masing. Terlihat lelah, apalagi sebentar lagi suara bedug akan terdengar.
"Kau lihat itu, Rudi--"
"Aku bahkan mendengar apa yang mereka rebutkan, Pak."
"Jangan memotongku! Tapi, ah, lucu sekali, ternyata mereka hanya merebutkan kulit ketupat! Argh!" Pak Kepala membuang pistolnya dan memegangi kepala. Aku tersenyum geli, menertawakannya dan kejadian di depan mata. Dasar wanita!
"Hey, siapa itu?" Tiba-tiba saja para wanita itu sudah tiba di depan gerobak sop buah tempat kami bersembunyi.
"Hey, Pak Tua, siapa mereka?" Tanya si wanita berkuncir kuda kepada bapak penjual sop buah yang sedang melayani pembeli. Aku heran, sedari tadi si bapak itu sama sekali tidak terganggu dengan kejadian baku tembak barusan, bahkan pembelinya pun begitu. Ah, dunia memang sudah gila!
"Ooh, mereka sedari tadi menguping kalian. Maksudku, mereka menonton perdebatan kalian."
Kening semua wanita itu mengerut. Aku dan Pak Kepala hanya bisa memberikan senyum kikuk tertangkap basah. Hatiku bahkan berdebar-debar. Ah!
Namun, ketimbang menembak kami, salah satu dari mereka bertanya, "Kalian," menunjuk kami dan melanjutkan, "apa kalian bisa membuat kulit ketupat?"
"Aah... cerdas sekali! Kalian ingin kami berhenti perang, bukan?" Kali ini wanita bernama Ningsih mengacungkan senjata dan meniup-niup ujungnya. Iya, meniup-niup. Apa dia mengira itu lilin?!
"Ah, aku... Pak Kepala, kau?"
Aku dan Pak Kepala saling berpandangan, mata kami berdiskusi, lalu melihat kembali ke arah para wanita itu, kompak kami mengangguk pelan. Terlihat setelah itu mata berbinar-binar mereka. Bahkan bapak penjual sop buah dan pembelinya pun ikut girang.
"Yaa... hebat sekali, perang dihentikan tanpa pertumpahan darah! Baiklah, ini untuk kalian!" Pak penjual sop buah menyerahkan bungkusan.
Ini...
"Ya, itu adalah sebuah mahakarya. Sop buah legendaris, dengan resep rahasia turun-temurun di keluargaku. Ini hadiah dariku untuk tim hebat seperti kalian!"
"Tapi kami bahkan belum melakukan apa-apa..."
"Sudah, tak apa..." Dengan mata berkaca-kaca, aku menerima plastik yang berisi (hanya) dua bungkus sop buah itu. Pak Kepala pun sama senangnya. Kami mengangguk berterima-kasih.
"Ah, baiklah, ayo cepat bantu mereka!" Kami kembali mengangguk dan menuju para wanita itu, terdengar oleh telinga kami mereka sedang meributkan di mana harus mencari daun kelapa untuk membuat kulit ketupat. Aah, aku tahu tempatnya, tidak perlu dipusingkan. Yang terpenting sekarang adalah, bagaimana aku bisa menahan hawa nafsu terhadap sop buah ini di detik-detik menjelang berbuka.
Aku menoleh ke arah penjual sop buah tadi dan mendapatinya tersenyum penuh arti padaku. Ah, dasar Pak Tua menyebalkan! Ia mencoba mengujiku!
#MalamNarasiOWOP spesial Ramadhan genre aksi
0106-2016 Kenti Lestari
---
Astaghfirullah, ini cerita apaaa??! Wakakak
No comments:
Post a Comment