Thursday, June 09, 2016

Dua Pilihan

"Malaaaa...." tanpa mengetuk terlebih dahulu, seseorang langsung membuka pintu kamarku dengan rusuh. Aku tahu itu siapa.

"Duh, gue haus bangeet! Eh, itu, bagi dong!" Detik berikutnya, Putri, yang adalah orang paling menyebalkan sedunia itu merebut minumanku dan meneguknya.

Tapi baru satu teguk... "Aaarrgh! Minuman apaan nih! Pahit banget! Lu ngerjain gue ya, Mal? Mana panas lagi! Hah!"

Dan aku tidak bisa menahan mulutku untuk tidak tertawa.

"Kok gue? Makanya kalau masuk itu ketuk pintu dulu, terus salam... ini dateng-dateng malah rusuh, ngembat minuman orang lagi. Sukurin! Hahahaha..."

Putri memajukan mulutnya dan tidak terelakan lagi, sebuah boneka Pikachu melayang ke wajahku.

"Gue tuh ke sini sengaja panas-panasan bawa kabar buat lu, tahu!"

Aku tersenyum, "Ooh kepanasan... tuh, gue tadi dikasih es buah, ambil aja."

Putri melongo.

"Why?"

"Gila ini bener-bener gila!"

"Lu kenapa, Put? Lu lagi gila?"

"Duh, Malaaa... lu tuh yang enggak waras. Tadi itu teh, kan? Pahit? Teh hijau? Sejak kapaan? Mana panas! Terus, es buah? Dan lu ngasih itu ke gue? Sejak kapaaan?" Saat Mala mengatakan itu, matanya bulat-bulat melotot seperti ingin keluar, aku rasa bahkan hausnya pun terlupakan.

"Sejak negara api menyerang! Emang kenapa?" Dengan cuek aku kembali membaca novel yang baru aku beli. Desain sampulnya sederhana sekali, tapi cukup memikat, dan aku baru pertama kali membaca buku si penulis yang banyak direkomendasikan orang-orang ini.

"Hih! Malaa..." Putri mengembuskan napas dan menjelaskan dengan lebih lemah lembut, "yang gue tahu, lu itu anti teh dan es buah addict. Jadi, ya sejak kapaaan?" Ternyata Putri belum sepenuhnya melupakan rasa haus yang mendera, ia bangkit dari pinggiran tempat tidurku dan menuju meja dengan dispenser di sudut ruangan.

Aku masih serius membaca.

"Mana teh hijau pula! Lu mau diet, hah?"

Dan kini dahiku mengerut, mataku menerawang. Aku sulit berkonsentrasi membaca.

"Lu bilang dateng ke sini bawa kabar buat gue. Apaan?" Novel yang baru seperempatnya aku baca itu dengan terpaksa kututup akibat rusuhnya Putri.

Sedangkan di samping tempat tidur yang tidak berkaki ini, ada sebuah plastik hitam dengan satu bungkus es buah yang tadi sempat aku tawarkan pada Putri, aku segera membuka dan menuangkan isinya ke dalam mangkuk kaca yang disodorkan sahabatku itu.

"Sendoknya juga, dua."

"Aah... itu," setelah menyerahkan dua buah sendok, dari tas ransel kumalnya, Putri mengeluarkan dua lembar tiket.

"Tadaaa! Gue habis menang kuis, dan lu tahu apa? Sahabat lu yang baik hati, tidak sombong daan.. enggak rajin menabung sih... ini mau ngajakin kamuu nonton lhoo..."

"Apaan?" Tanyaku tidak memerhatikan dengan baik. Es buah yang sudah kutuang ini, sesaat hanya aku pandangi. Aduh, surgaa!

"Drama musikal, Malaaaa! Nonton drama musikal! Ya ampuun.. seneng banget guee!" Dan entah angin dari mana, Putri memeluk dan membuyarkan lamunanku akan keindahan sosok es buah.

"Duh, gue masih lurus, jangan peluk-peluk nista gitu, ah!"

"Hahahahaa, dodol!" Putri menoyor kepalaku.

"Eh, gue udah difitrahin, jangan noyor kepala gue!"

"Hah?"

"Enggak... ada gajah terbang tadi," aku masih memandangi es buah kesayangan, lalu pandanganku beralih pada segelas hangat teh hijau di kejauhan. Aduh...

"Bentar deh, lu girang banget pasti ada apa-apanya tuh ya di drama itu? Waah gue tau! Pasti ada si 'itu' kaan? Dan, bohong banget kalau lu menang kuis. Hayo ngaku!"

"Dih, sok tau lu kayak--"

"Dukun? Cih, sorry, gue mah Sherlockian!"

"Lebay lu, palingan juga itu teh hijau supaya lu kurusan kaan? Pasti juga lu ada inceran, kaan? Hayo sini ngaku sama gue!"

"Kok jadi bawa-bawa teh hijau? Sekarang lu yang kayak dukun. Hahaha..."

"Ah, enggak penting deh sejarah gimana gue dapetin ini tiket dan apa tujuan gue. Tapi, satu hal, gue anti bohong ye, enak aja! Camkan itu!"

Aku nyengir. Lalu membentuk huruf V pada dua jari kananku.

"Pokoknya besok sore, jam tujuh malam, lu jangan dandan cantik-cantik!"

Aku mengerutkan kening, lalu tertawa, "Kenapa? Lu takut kalah pamor?"

Dan lagi-lagi boneka Pikachu melayang ke wajahku.

"Duh Putri! Lempar-lempar mulu. Nama doang yang kayak cewek. Tuh, makan dulu esnya!"

Daripada mengerutkan kening, Putri meraih es buah dan menatap penuh selidik ke arahku.

"Jadi bener?"

"Apaan?"

"Lu ninggalin es buah demi teh hijau?"

Aku tertawa mendengar pertanyaan dan melihat ekspresinya itu.

"Gue cuma mau lebih sehat ajaa..."

"Sejak kapan es buah tidak menyehatkan?"

"Sejak kapan gue bilang gitu?"

"Yaa, enggak tersurat, sih... Jadi... bener?"

"Apaan, sih?"

"Apa selain teh hijau, teh biasa juga lu minum? Waah... lelaki mana sih yang bikin lu kayak gini?"

Lagi-lagi aku tertawa, "Ngaco! Apa hubungannya, Neneek?"

"Mata lu menjawab semuanya, Mal."

"Sumpah, lu ngaco banget. Udah ah makan tuh!"

"Terus itu apa di balik dispenser? Ada banyak teh dengan berbagai merk. Apa Pikachu yang minum semua itu? Hmm... kalau gitu, inceran Pikachu ini pasti suka banget teh, sampai rela nyobain semua itu."

Skakmat. Pukulan telak.

"Ngelihat aja sih, tuh, anak!"

Dan sembari menyeruput es buah, Putri memberikan senyuman liciknya, sekan puas dengan pikiranku barusan.

Aduh, sahabat baik memang lebih pintar menebak dari dukun atau detektif mana pun.

#MalamNarasiOWOP
#I_MustWriteSomethingIOCWP

0806-2016 Kenti Lestari

No comments:

Post a Comment