Sunday, June 12, 2016

Curhatan di Siang Bolong

Ainun--salah satu sahabat baik gue, semoga Allah merahmatinya--pernah bilang,

"Ponsel itu kalau rusak, harus diperbaiki ke tukang reparasi ponsel. Bukan ke tukang mesin cuci, teve, dan sebagainya. Dikembalikan/diperbaiki ke tempat asalnya, yang mengerti dia, yang merakit. Begitu juga dengan manusia, ketika ada yang rusak, ketika ada yang salah, seharusnya dikembalikan, diperbaiki kepada-Nya. Iya, Dia, yang menciptakan si manusia itu sendiri. Maka, kalau begitu, tidak perlu lagi yang lain, hanya cukup kembali pada-Nya... Allah azza wa jalla."

Lalu, nyesss... kayak penggorengan panas ditetesi air. Oiya, btw gue juga pernah posting itu di akun Line, jadi emang pagi ini enggak sengaja nemu tulisan itu, jadilah sekarang tergerak untuk menulis (yang emang gatel banget pengin dari kemarin-marin).

Dan karena semalem juga, entah kenapa jadi ngerasa aneh gitu, semacam ada perasaan takut, sakit, sedih, tapi juga hampa. Nah lho!

Semalam entah kenapa gue merasa seakan ada yang menegur gituu... mengatakan,

"Enggak begitu, Kenti... enggak, begitu..."
"Mau sampai kapan, Kenti... mau sampai kapan?"

Iya, gue enggak tahu, seperti ada sebuah kekuatan yang mengetuk pintu hati. Dan, mungkinkah itu Dia?

Awalnya gue mengingkari, tapi mungkin benar juga, lagipula memang seakan ada noda hitam yang baru di hati. Ah...

Lalu, dengan kutipan di atas, mungkin memang ...,

"Benarlah, hanya kepada-Nya, seluruh perasaan, dikembalikan..."

Dan rasanya nyaman banget! Mungkin memang selama ini terlalu jauh... mungkin memang selama ini, terlalu merasa sudah benar... ohiya, jadi ingat sebuah postingan di facebook, tentang cerita seseorang yang menjual kainnya ke ahli kain, tapi sang ahli kain mengatakan meski kainnya bagus, namun ada sedikit cacat.

lalu si penjual kain pun menangis dan menjawab respons sang ahli,

"Selama ini aku menyangka kain buatanku sudah sangat baik, sangat bagus, namun ternyata di tangan ahlinya, kain itu terlihat ada cacatnya. Begitulah aku menangis, saat aku menyangka ibadahku selama bertahun-tahun sudah sangat baik, namun di tangan Allah, yang adalah ahlinya, mungkin terdapat cacatnya."

Aah... makin ngejleblah baca itu.

Lalu gue juga teringat, akan kekhawatiran gue yang bisa dibilang berlebihan terhadap mata yang Allah titipkan ini. Setelah mengetahui ketidaknormalan mata, pikiran liar soal khawatir tidak bisa melihat lagi sempat dan selalu menerjang gue. Parno dan cukup bikin enggak pede. Tapi, kalau ditilik lagi, selain soal khawatir mata menjadi buta (na'udzubillah), seharusnya gue pun khawatir jikalau hati terlebih dahulu menjadi buta.

Na'udzubillah summa na'udzubillah...

--

Iya jadi begitulah curhatan gue di siang bolong ini. Semoga dengan Ramadhan, sedikit-banyak hati bisa lebih tercerahi, lebih bersih, lebih hangat. Yaa... sebenarnya ada banyak sekali yang ingin dituliskan, dan dikemas dengan lebih baik, semoga berkesempatan.

Akhirul kalam, semoga bermanfaat :)



PS. Tumben banget gue nulis begini dan dengan gaya begini, wkwk.

No comments:

Post a Comment