Monday, May 23, 2016

Disebut Apa Ini?

"J-jadi... langitnya cerah, ya?" Bingung kalimat apa yang dirasa tepat untuk memulai percakapan, akhirnya kalimat super basa-basi itulah yang dipilih si lelaki berbaju batik biru, yang bernama Bayu.

Bukannya menjawab, yang ditanya justru tersenyum geli, terkesan kalimat barusan terdengar lucu.

"Eng..." Bayu kembali bingung. Hening selama beberapa saat.

"Acaranya enggak asyik, ya?" Kali ini suasana dipecahkan oleh si wanita, yang Bayu perhatikan selalu berpakaian kasual, bahkan di acara yang sewajarnya berpakaian seperti kebanyakan orang.

"Atau... enggak ada yang bisa diajak ngobrol?"

Bayu menunduk, menggaruk-garuk kepala yang entah gatal atau tidak.

"Enggak gitu..."

"Lalu? Daan, aniway, kok lo berani-beraninya, sih, duduk deket gue gini? Di 'tempat ini' pula." Kata 'tempat ini' ditekankan saat si wanita itu bicara. Tempat yang dimaksud adalah tepat di atas pasir berwarna kemerah-merahan, merah muda, yang menghadap langsung dengan bentangan air di depan mereka.

"Aa... anu..."

"Jadi, apa rasanya diajak bicara karena memang ia ingin bicara denganmu saja, bukan karena tidak ada yang lain?"* Si wanita menoleh, dengan sebelumnya mendongak ke langit.

"Eh?"

"Aah... enggak! G-gue beneran mau ngomong sama lo, Ri! I-ini bukan karena enggak ada yang lain. Eh, emm.. iya gitu..."

"Mau ngomong apa?"

Hening lagi.

"Aa.. anu... w-weekend ini... keluarga, ada?"**

Deg!

"G-gue tau ini konyol, dan... enggak etis. Eh tapi, enggak juga sih, eh, i-iya gitu..."

Si wanita justru tertawa.

"Maksud lo, ini sebuah tawaran untuk mengarungi samudera bersama? Cukup bikin deg-deg-an ya ngomongnya?" Mata wanita itu terlihat menerawang ke langit luas, pura-pura berpikir.

Jauh di hati Bayu, ia berkata, "Oh Tuhaan... kenapa pula aku harus menyukai gadis super nyebelin ini, dan berniat meminangnya pula?!"

"J-jadi...?"

"Jadi? Em... Kalau gue bilang gue lebih suka dengan pria yang lebih tegas, berani, enggak gugup, apalagi gagap, dan jauh dari karakter lo, apa lo tetep bakal maju?"

"Aah... apa ini sebuah pertanyaan?" Kembali Bayu menggumam.

"Jadi... weekend ini bisa, Ri…ra?" Dan Bayu mencoba setegas, selugas mungkin, mengabaikan tanggapan menyebalkan tadi.

Meski terlihat tenang dan cuek, wanita yang dipanggil Rira itu sebenarnya cukup gugup. Rasanya bahkan setiap wanita akan gugup bila diajukan pertanyaan 'menjurus' seperti itu, entah dari yang diharapkan, atau yang tidak, atau...

"Dan... kalau gue bilang, udah ada yang lebih dulu datang, lalu dite-ri...ma, apa lo masih bisa untuk maju?"

Deg!

Bayu menoleh pada Rira yang ternyata sudah menoleh lebih dulu ke arahnya, sembari tersenyum, setetes air mengaliri pipi wanita itu.

...

"J-jadi... i-ini penolakan? Bahkan, se-sebelum aku sempat berperang?"

---
2305-2016
#IOChallenge

*) Inspired by AFP
**) Inspired by dr

No comments:

Post a Comment