Friday, May 13, 2016

Tempat Itu

"Bu, Dila mau nanya!" Aku menghentikan gerakan tanganku, menoleh pada ibu, dan berkata begitu.

"Nanya apa, Dil?" Sedangkan ibu, menjawab dengan tetap setia pada gerakan tangannya pada tanaman hijau yang sering diinjak-injak itu.

"Em.. Bu, apa Dila menangis sewaktu Dila dilahirkan?"

"Eh? Kenapa tiba-tiba nanya begitu? Jelas menangislah, Dil.. memang kenapa?"

"Ah, ngga apa-apa. Tapi, Dila rasanya baru sadar, baru tahu, kenapa Dila menangis sewaktu lahir..."

"Gimana, sih, Dil? Kok ibu ngga ngerti, ya?"

"Emm.. begini maksud Dila..." lalu aku mulai menyampaikan gagasanku soal pernyataan tadi, sembari kembali membantu ibu mencabuti tanaman yang sebenarnya tidak sengaja ditanam.

Bu, benar aku baru tahu, benar aku baru tersadarkan, tentang mengapa aku bisa menangis saat dilahirkan.
Ternyata benar, Bu, bayi-bayi itu, termasuk aku, menangis karena saat melihat dunia untuk pertama kali, segera ada yang menyambut menakuti.

Bu, pantas saja aku menangis, ternyata memang aku sudah tahu, rasanya tiada tempat sehangat tempat itu. Tempat di mana aku merasa aman, nyaman, dan tenang. Tempat di mana aku sedekat-dekatnya denganmu, meski memang belum bisa banyak ini-itu. Tempat di mana, aku jadikan sebagai hidupku, namun harus menyulitkanmu.

Bu, dan aku merindukan tempat itu. Ternyata, tempat yang kini aku singgahi benar-benar membuatku menangis, seperti dulu pertama aku hadir. Tempat ini menakutkan, Bu. Tak sepenuhnya hangat, aman, nyaman, tenang seperti pada tempat itu.

Bu, rasanya aku benar-benar ingin kembali, setidaknya aku amat ingin hanya di pelukan hangatmu saja. Tak perlulah kaki susah-susah melangkah, panas berpeluh, aku hanya ingin denganmu saja, Bu.

Tapi,
Yang ingin berlari harus belajar berjalan dahulu, ya, Bu? Berjalan dengan sebelumnya mesti pandai berdiri? Dan tentu, sebelum berdiri, aku harus belajar merangkak, duduk, dan sebagainya.

Jadi, Bu, benarlah katamu aku harus menikmati setiap episode ini dengan baik, dengan senikmat-nikmatnya. Karena memang, tak ada cara lain selain dihadapi dan dinikmati, bukan?

Dan, Bu...
Benar pula aku mesti merendah seperti rerumputan ini, dan tinggi, seperti jembatan penyeberangan itu di depan sana, bahkan langit.

Bu, pada akhirnya, aku harus kembali berdiri, benar-benar berdiri setelah sebelumnya bersusah payah merangkak.
 
Kini aku harus menggapai, Bu! Aku berjalan dan berlari, bahkan terbang! Akan kuhadapi tiap-tiap yang membuatku tersedu. Ah ya, tentu dengan sebaik-baiknya... :)

Aku akan belajar berjanji, Bu..

Dan ibu hanya tersenyum melihat putri satu-satunya ini berceloteh aneh lagi, untuk kemudian melanjutkan pekerjaan kami, mencabuti tanaman yang tak sengaja ditanam. Ah, lain kali, aku mesti menanam apa yang benar-benar harus kutanam.


---
23122015, Kenti Lestari.
Kayaknya ini hasil #MalamNarasiOWOP deh :D dengan dua gambar~

No comments:

Post a Comment