Aku ingin mati!
Tali panjang nan tebal itu sudah tergantung dengan kuat di salah satu dahan pohon ini. Ujung melingkarnya siap kugunakan. Maka aku segera meraih kursi plastik hijau di sebelahku, dan menempatkannya persis di bawah tali melingkar itu.
Deg!
Aku menghela napas. Akhirnya!
Kunaiki kursi plastik sembari berpegangan pada badan pohon. Hap! Aku sudah berdiri kokoh di atas kursi, lalu kupegang tali itu, tidak langsung dikenakan, karena selembar daun, melintas lembut di depan wajahku.
Kenangan itu...
Beberapa tahun yang lalu, dia masih sama polosnya denganku. Berlarian adalah hobinya. Dengan masih berseragam sekolah, biasanya ia akan segera mengeluarkan buku sketsanya di bawah pohon yang rindang ini. Angin di musim seperti itu sangat mendukung berbagai perasaan untuk bangkit, dan bermetamorfosa menjadi sketsa-sketsa menakjubkan.
Pensil hijau.
Biasanya ia selalu membawa pensil dengan warna itu. Pensil kegemarannya. Dari jauh, aku hanya bisa memandangi, betapa seriusnya ia perlahan menggoreskan tiap ujung pensil di atas lembaran kertas. Pandangannya sesekali memandang objek yang ia pilih, untuk kemudian dengan mantap mulai menuangkannya dengan baik.
Ia tersenyum. Aku pun demikian.
Meski, betapa tersiksanya aku hanya mampu memandangnya dari balik pohon.
Suatu ketika, ia datang membawa berbagai macam benda. Aku bisa lihat itu adalah tali, papan, dan lain-lain. Perlahan ia mengikat tali pada dahan pohon, lalu menghubungkannya dengan sebilah papan. Kutahu pada akhirnya ia berhasil membuat sebuah ayunan.
Ia tersenyum. Aku pun demikian.
Pernah pula, ia datang lagi-lagi dengan buku sketsanya. Namun, sore itu ia meninggalkan buku sketsanya begitu saja di papan ayunan. Langkahnya cepat-cepat. Maka dengan gugup, kuraih buku bersampul gambar hitam-putih itu, dan kubuka lembar demi lembarnya. Aku terkejut.
Sejauh ini aku selalu merasa ia membuat sketsa pemandangan di sekitar sini. Namun sore itu, hatiku patah. Gambar itu telah menjawab semuanya.
Selembar daun kembali melintas. Aku terbangun.
Tali panjang itu kucoba tarik, ternyata sudah kuat.
Aku harap setelah ini aku kembali seperti dulu. Cukuplah aku sebagai pengintipnya dari balik pohon. Tak sejauh ini.
Ramuan itu, ritual itu.
Seandainya saja tidak pernah kujalani.
Kini aku hanya ingin kembali, seperti dulu. Cukup menyimpannya saja dalam laci di dalam hati, maka aku akan bahagia.
Aku ingin mati!
Maka, biarlah tali melingkar ini yang akan mengantarkanku. Kembali hidup. Pada dunia sebenarku.
Angin musim semi. Aku kembali. Menjadi si putih, yang sering menggantung diri.
-TAMAT-
---
16012016, Kenti Lestari
16012016, Kenti Lestari
No comments:
Post a Comment