"Kamu kenapa?" Seseorang bertanya pada seseorang di sebelahnya.
"Eh? Kenapa apanya? Aku enggak kenapa-kenapa, kok!" Seseorang yang ditanya menjawab ramah, tersenyum.
"Tapi, wajahmu?" Seseorang tadi kembali bertanya.
"Apakah aku harus kenapa-kenapa?" Yang ditanya lagi-lagi mengelak. Sudah jelas wajahnya pucat.
"Aku hanya tidak memakai riasan hari ini." Ia kembali tersenyum, sembari melempar kerikil ke dalam danau kampus.
"Tapi..."
"Ray!" Orang pertama ingin bertanya, namun segera dipotong.
"Kamu ingat? Dulu, dengan seragam putih-putih, kita bersembunyi di semak-semak sana." Ia menunjuk semak-semak di sisi lain danau. Agak jauh dari tempat mereka duduk.
Orang pertama mengangguk. Tersenyum.
"Dulu.. kita kabur dari senior! Hahahaa.. lucu, ya? Anak-anak baru seperti kita berani-beraninya kabur..." ujar si orang kedua, lagi.
Orang pertama hanya mengangguk, mulai menapaki jalan berdebu menuju masa lalu.
"Kita juga pernah memanjat pohon mangga di pinggiran sana, ya, Ray?!"
"Pernah juga meminjam perahu bapak petugas kebersihan... ah, hahahaa... hanya untuk mencari buaya di sekitar danau..."
"Yang sebenarnya hanya sebuah isu... hahahaa..." orang kedua masih berceloteh, yang hanya ditanggapi anggukan kecil si orang pertama. Sesekali tersenyum.
Entah mengapa ada sebutir bening yang muncul di pelupuk mata.
"Air mata?" Gumam si orang pertama.
"Tapi, kenapa?" Tambahnya, kini diiringi dengan tolehan ke kiri, ke arah sahabatnya.
Sahabatnya yang tak lain si orang kedua pun ikut menoleh, ke kanan.
"Bahagia banget, ya, kita di masa-masa itu... padahal udah gede. Hehehee..." ia tersenyum, matanya berbinar-binar. Tapi, sahabatnya tahu, ada sesuatu yang dipendamnya.
"Shin..."
"Ya?"
"Terus tersenyum seperti ini, yaa! Aku senang melihatnya."
Orang yang dipanggil itu tertawa.
"Raya... kamu bilang begitu seakan-akan aku ada apa-apa. Seakan-akan aku akan lupa tersenyum itu bagaimana. Hey! Come on! Aku ada di sini..."
"Tapi, Shin..."
"Raya, please! Aku baik-baik aja! Aku akan selalu tersenyum, kok!" Ia kembali tersenyum, menatap burung-burung yang berterbangan di atas danau.
"Aku enggak akan pernah lupa, Ray! Apalagi tersenyum kepada orang-orang yang aku sayang. Dulu, saat aku datang, aku memang menangis. Tapi, kali ini, ah.. ya, belum pasti, sih! Tapi aku berencana aku akan tersenyum saat aku pulang..." napasnya menderu, ia mengucapkan itu dengan penuh penghayatan.
"Tapi mungkin... tapi mungkin orang-orang yang akan menangis, Shiin... Aku tahu kamu enggak baik-baik aja..." jawab si orang pertama di dalam hati, mengalihkan pandangan dari mata cokelat sahabatnya menuju kerikil di tangan putihnya.
Pluk!
Kerikil itu menyentuh permukaan air danau yang tenang di sore hari.
Pluk! Kali ini dilempar oleh orang yang satunya lagi, lebih jauh.
Pluk!
Mereka saling tertawa.
"Aku bisa lebih jauh!"
"Oke, aku akan mengejarmu!"
Pluk!
Entah kerikil ke berapa, dan langit beranjak jingga.
"Aku enggak akan pernah lupa untuk tersenyum juga, Shin. Apalagi bersamamu." Si orang kedua berhenti sejenak, menatap sahabatnya. Wajah itu, wajah yang teduh, lembut, namun ada banyak yang harus diembannya. Tidak akan ada yang menyangka, apalagi sekilas soal garis pada wajah manisnya itu.
Si orang pertama kembali pada kerikil. Menatap jauh masa depan. Dan, langit.
Pluk!
---
00:00, 10 Jan 2016
00:00, 10 Jan 2016
Kenti Lestari
No comments:
Post a Comment