Friday, May 13, 2016

Teras Opung

"Kalau setan saja berlomba-lomba mengajak pada kesesatan, mengapa kita sebagai manusia tidak mau mencoba untuk berlomba-lomba dalam kebenaran?"

"Kalau di luar sana ada sekelompok yang senang saling menjatuhkan, apa salahnya kita saling menghebatkan?"

Itu kata Opung. Seorang 'pemuda' yang segera menyandang status kepala tujuh. Putih-putih melati pada kepalanya sudah mengalahkan ketenaran si warna tergelap. Tak hanya di kepala, wajahnya pun mulai dihiasi warna putih pada kumis, janggut, dan alis... aah, tidak-tidak, bulu mata tidak termasuk.

Adalah Opung, yang kulit sekujur badannya mulai terlipat-lipat tetap itu senang berceramah sore, di sebuah dipan di teras rumahnya. Anak-anak lelaki yang biasa bermain sepak bola di lapangan samping rumah Opung, sering mampir untuk sekadar meminta air minum dan sedikit kerupuk gendar yang dengan baik hati disiapkan oleh isteri si Opung. Kerupuk gendar itu bermacam rasa, ada rasa original, barbeque, sayuran, pedas, rasa full of terasi pun dijabani oleh sang isteri yang memang jago membuatnya itu sejak jaman perawan.

Sore ini seperti biasa, bermain sepak bola di tengah gerimis aduhai, selepas bermain dalam hujan, mereka menjamahi teras Opung, di sana berbeda, kali ini tersedia teh hangat dalam teko plastik dan selusin gelas, ditambah pisang goreng hasil ditebang tadi siang. Opung mulai bersuara...

"Kalian masih muda. Teruslah berbuat kebaikan... nanti akan ada saatnya kalian berbahagia atas masa lalu."

"Selembar kertas kosong, kelak akan selalu punya rasa. Entah dalam bentuk beramai kata atau gambar, coretan atau tumpahan, ia kelak bercerita. Bahkan sekalipun kosong, ia tetap bercerita, setidaknya soal kekosongan itu sendiri...," sambungnya sembari menyeruput teh hangat dengan gula pasir yang tidak diaduk, sengaja, baginya pahit di awal itu sudah biasa.

"Tapi, Opung, apa menariknya kertas kosong?" Sekelebat tanya langsung muncul dari mulut kepanasan Andi, bocah empat belas tahun yang sembari memasukan pisang goreng panas pada mulutnya.

Opung tersenyum,

"Itulah spesialnya. Kalian sendiri yang akan tahu tentang itu..."

"Opung, mana yang lebih baik, kertas kosong atau kertas penuh coretan omong kosong?" Kali ini Banyu, lima belas tahun, sembari menyisir rambutnya yang kebasahan ke belakang.

Opung tersenyum lagi.

"Lagi-lagi kalian yang akan menentukkan jawabannya... tapi pertama-tama, jangan pernah biarkan hati kalian kosong," Opung menyentuh hatinya, tentu dibalik tulang rusuk dan segumpal daging menyelimuti.

"Akan selalu ada, sampah-sampah itu, tapi kabar baiknya, ia bisa perlahan kita ubah menjadi banyak hal yang berguna!"

Opung mengatakan itu dengan matanya yang berbinar-binar, sementara anak-anak tadi masih bingung. Opung selalu begitu, perlahan mereka mulai mencerna. Ada yang bilang, kosong itu penting, ada juga yang merasa, benang kusut rasanya lebih menarik. Tapi satu hal yang sama, biar bagaimanapun, walau apapun, mereka harus tetap berguna.


---
030116, Kenti Lestari.
Buka tombol beraksara, jawab tantangannya, ikuti hati bicara, dan kan kau temukan jawabannya.
Entah kumenulis apa, cukup saja kau baca.

No comments:

Post a Comment