Tuesday, May 17, 2016

Festival Musim Semi

Aku sudah berkata, "Mungkin aku akan menangis ketika melihat pohon sakura." Dan, entah memang itu menjadi sebuah sugesti atau apa, maka akhirnya aku benar menangis. Kembali menangis. Aah... sebenarnya tidak pantas disebut sebuah tangisan, karena memang kristal itu hanya menetes satu hingga dua, tiga hingga empat, itu saja. Di dalam sebuah minibus, di malam hari, dengan angin dingin yang menerpa wajah, mata dan hatiku justeru amat menghangat, resah.

"Kenapa?" Aku bahkan tidak benar tahu untuk apa mereka menyembul dari pelupuk mataku.

Lalu sekelebat ingatan memunculkan momen ketika pesta kembang api dimulai. Aku tidak menyaksikannya sedari awal, lagi-lagi aku terlambat. Maka aku hanya menyaksikan sisa dengan sebelumnya suara gemuruh menggetarkan diri. Yaa... suara ledakannya... mungkin saja sama dengan di tempat-tempat itu, di tempat yang belum pernah aku jejaki dan rasakan. Memang indah sekali percikan api yang menari-nari di langit yang gelap. Aku menyukainya, namun aku juga bingung atasnya. Aku kira bahkan aku bisa tertawa girang, namun wajahku justru merengut.

"Tuhan... kenapa? Apakah aku sudah cukup tersentuh? Oleh suara itu atau pemandangan itu?"

Dan, dengan banyaknya penumpang di minibus, aku harus bertahan. Maka hanya debu dan angin jalanan yang menemaniku, kurasa. Juga sebagai saksi. Lalu aku kembali teringat dengan pohon sakura rekaan itu. Warnanya, bentuknya, dengan lampu-lampu di sekeliling. Indah. Manis. Bisa saja sebenarnya aku tidak bisa melihatnya, namun ternyata salah jalan membawaku kepadanya.

Bunga sakura yang manis...

Aku selalu takjub sejak dulu. Kamuselain mawar putihadalah yang terbaik, setidaknya untukku. Kamu, adalah simbol atas apa yang aku harapkan. Kamu indah, namun entah apa bisa kuraih. Dinantikan selama berbulan-bulan, namun hanya merekah dalam sepekan.

Lalu, apa benar aku meneteskan cairan itu atasmu? Atau, kembang api itu? Atau, sesuatu yang lain, semacam lampu-lampu kendaraan dari atap gedung di kegelapan malam?

Apa benar atas mereka itu?

Untuk bahkan akhirnya hujan pun tiba dan menemani. Sepertinya ia tahu betul apa yang aku rasakan.

Iyaa... sebuah festival yang selalu aku rindukan, harapkan, inginkan.

Sebuah festival yang bahkan saat pertama kali kaki menjejak pun mata ini ingin basah.

Aku memang tidak begitu suka soal keramaian, namun...

Sensasi itu...

Iya, sensasi itu...

Perasaan yang selalu aku harapkan...

Sebuah kesyukuran...

Maka, Tuhan...
Izinkan aku kembali merasakan sensasi itu, lagi, dan lebih...
Izinkan aku menjejak tanah yang selalu ingin aku jejaki...
Izinkan aku kembali menata dan melangkah dalam kemantapan harapan...
Izinkan aku kembali mengejar...
Sakura dan momiji-ku yang telah lama terbengkalai...
Izinkan aku...

Dan suara deru minibus mengambil alih peran suara yang lain, aku melihat wajah teman-temanku, teringat ketika aku lelah melangkah mencari mereka. Mereka yang rela menungguku, membimbing, menemui dan begitu menjaga.

Lalu, apa aku pun menangis atas itu?

Air mata yang selama ini memang hanya muncul satu-satu. Aku ingin menangis lagi... dengan sebuah tangisan yang lebih pasti dan lepas.

Aku rindu...

Terima kasih sekali, Tuhan, telah Engkau hadirkan malam itu, untuk aku kembali sadar dalam diamku. Bahwa, siapa aku dan untuk apa aku. Dan, bahwa ternyata...

Ternyata...

Ternyata aku masih memiliki mimpi. Mimpi empat musim masa kecilku.

Juga bahwa, aku masih memiliki apa yang mereka sebut dengan,

"Pe-ra-sa-an".

Maka semoga, 'batu' itu telah berlubang. 'Gunung es' pun mulai mencair...

No comments:

Post a Comment