Pertama kali aku melihatnya adalah ketika kali pertama kami dipertemukan. Hahaha, tentu saja bodoh!
Saat itu angin musim gugur meliuk-liuk begitu menyayat hati, ada seseorang yang begitu sering mendekati kediaman kami, sebuah istana megah yang dibangun dengan arsitektur tiada tandingan. Ia datang, setiap dua hingga tiga kali selama sepekan. Selalu dengan ritual dan ekspresi yang sama. Duduk lalu menulis di bawah pohon, untuk kemudian pergi lagi sembari mengembangkan payung hitamnya, meski langit tidak hujan atau tidak begitu terik. Itu saja, dan... wajahnya selalu menunduk, membuat siapa saja ingin mengetahui apa maksudnya, dan apa yang ia tulis.
Maka, akhirnya di sebuah hari, ketika untuk ke sekian kalinya aku mendekati, aku berjalan dan berjalan, mengintipnya dari tempat semudah mungkin. Aku amat dekat dengannya. Selalu... wajah itu, mata birunya, dan, saat aku semakin mendekat, ia tersenyum! Entah apa penyebabnya, itu adalah pertama kalinya aku melihat ia mengangkat wajahnya, memandang langit di atas sana. Juga, warna pelangi pada payungnya yang begitu berbeda dari sebelumnya. Dan aku, aku merasakan pipiku memerah. Saat itu, aku benci sekali pada diriku karena telah mengira akulah penyebabnya. Maka seusai dari pertemuan hari itu...
"Ayah, aku, aku..." aku ingin mengatakan selugas mungkin, tapi ternyata kata-kataku tersangkut di tenggorokan.
"Ada apa, Nak?" Ayah memiringkan kepalanya, menyelidik.
"A-a-aku... aku..."
"Tenangkan dirimu dulu, Sayang..." kali ini Ibu.
"Aku ingin menikah, Bu, Yah..." akhirnya aku berhasil mengatakan itu. Aku menunduk, mengintip ke arah dua kebanggaan hidupku.
"Benarkah?" Ayah terkejut, kentara sekali wajahnya amat senang.
"Oh, Putriku, pangeran mana yang telah berhasil merenggut tempat di hatimu, Nak?" Kali ini Ibu, sama senangnya.
Mukaku panas, pasti pipiku kembali memerah menahan malu, juga takut.
"Oh, Dewi Kebahagiaan, akhirnya anakku akan menikah! Aku akan segera memiliki cucu, hahahaha..." Ayah berlebihan, Ibu tersenyum menyentuh punggung tangan suaminya.
Sedangkan aku, hatiku kebat-kebit.
"Katakan pada Ibu, Nak, siapa pangeran yang beruntung itu?" Ibu tersenyum, hangat sekali tatapannya.
Tapi aku hanya diam, perlahan mataku mulai basah, tubuhku gemetar.
"Iya, siapa, Sayang? Akan segera aku kirimkan utusan untuk menjemput lelaki itu. Oh, tidak-tidak, seharusnya dia bisa datang sendiri, hmm.. kira-kira putri kita tertarik pada pangeran dari mana ya? Penduduk daun, atau rumah, atau tanah seperti kita? Hmm.." Ayah mulai menebak-nebak.
Tidak bisa, sebelum semakin berlanjut, aku harus segera mengatakannya!
"A-aku... aku... aku menyukai seorang manusia, Wahai Ibu! Ayah!" Dan jelas sudah mataku basah oleh cairan bening dari mata. Aku rasakan keheningan selama beberapa detik, kurasa mereka bingung.
"Oh, Putri manisku, kamu lucu sekali, Sayang..."
"Aku berkata jujur, Bu!"
"Anak kita ini rupanya sangat malu untuk mengatakannya, Ratuku."
"Aku serius, Ayah. Bahkan jika seluruh takhta adalah jaminannya, aku rela melepas semuanya."
"Eh?"
"Ayah, Ibu, aku begitu menyukainya! Mata biru itu, selalu, dan selalu. Aku menginginkannya, Bu." Aku mulai menangis deras.
"Tianna..."
"Aku berkata benar, Bu..."
"Tianna, bercandamu sungguh tidak lucu! Ratuku, bawa anakmu menuju tabib istana, mungkin dia sedang tidak sehat!" Ayah berdiri, menatap lurus ke depan.
"Ayah..." aku menangis, menjatuhkan diri, bertumpu pada lutut kaki. Iya, aku tahu meski aku adalah seekor semut, namun aku dan bangsaku sebenarnya bisa berdiri seperti manusia.
"Aku berkata sebenarnya. Ku mohon mengertilah..."
"TIANNA!" Ayah kelihatannya mulai mengerti dengan jelas apa maksudku, tubuhnya terguncang.
"Ah, anakku, kamu, tidak berkata yang sebenarnya, bukan? Bangun, Nak, jelaskan pada ayahmu," ibu mendekatiku.
"A-a-aku, benar-benar menyukainya, Bu. Aku... aku, aku ingin menjadi manusia!"
"TIANNA!"
Plak!
Aku sudah mengira, kukira itu tangan besar ayah, namun nyatanya tangan itu hanya terangkat ragu. Dan, itu tamparan dari ibu, halus, namun cukup menjelaskan.
"Tianna, untuk pertama kalinya Ibu menamparmu. Dan, hanya tamparan kecil, kau tahu?"
Aku mengangguk, jelas, Ibu tak ingin anaknya mendapat tamparan panas dari tangan besar ayahku.
"Sejarah tidak akan terulang untuk yang kedua kalinya, Nak!"
Aku masih menangis, Ayah terlihat sekali marah, dan mata Ibu begitu sendu. Aku sudah cukup mengecewakan mereka, seorang calon Ratu dalam kerajaan semut tanah, seorang pemegang takhta yang menolak seluruh pangeran, justru ingin menikahi manusia bermata biru itu. Maka, pada akhirnya...
"Kamu akan kehilangan segalanya, Nak. Bahkan mungkin kami, Ayah-Ibumu..." Ibu berkata sendu, memberikan ramuan yang harus kuminum itu.
Aku sudah siap segalanya, aku rela, aku sangat ingin menjadi manusia.
Dan, ramuan itu segera aku minum, berbagai ritual kujalani. Ah, aku bahagia sekali, tunggu aku, Pangeran senduku. Tunggu aku...
Wussss...
Angin bergerak deras. Seperti ada sebuah kipas besar dari langit, ia meniupi sesiapa pun di tempat kami. Semua sudah tahu, sudah paham, ini pernah terjadi, dan kami bangsa semut, tidak tergoyahkan.
Akhirnya aku menjadi seorang manusia! Hahaha...
Keputusan terbodoh yang pernah aku jalani. Contoh ketidakpuasan hidup dalam diri.
Dan, semuanya aku tinggalkan.
Tempatku bukan lagi di lubang-lubang tanah taman kota.
Aku telah menjelma.
Menjadi seorang manusia berparas jelita.
Kurasakan cintaku sudah di depan mata.
Namun nyatanya,
Ternyata...
Pria itu tidak sekali pun, sampai kapan pun, seberjuang apa pun,
Ia-tidak-menyukai-seorang—
wa-ni-ta...
...
Aku terhenyak, patah, dan, akhirnya musnah...
"Kamu, akan kehilangan segalanya, Nak. Bahkan mungkin termasuk kami, ayah-ibumu. Juga..."
"Juga apa, Bu?"
"Juga mungkin dirimu sendiri, kamu akan musnah, menjadi serbuk tanah, jika yang kau rindukan itu... justru bukan seorang pria sejati, yang bahkan melirikmu saja tidak."
Termenung. "Tidak, Bu, aku tahu ia tidak begitu..."
-Kenti Lestari-
#MalamNarasiOWOP
#MalamNarasiOWOP
Terinspirasi dari cerita The Little Mermaid (bisa sekalian buat bedtime story remake challenging juga, nih, wkwk) juga kayaknya Rico de Coro-nya Dee deh :D
![]() |
| Ini diaa gambar #MalamNarasi semalam, hehehe |

No comments:
Post a Comment