Hey, mungkin sebenarnya aku bukanlah seorang manusia!
Bisa jadi aku adalah... yaa sesuatu yang lain yang sedang menyamar menjadi makhluk itu. Aku mungkin adalah makhluk dari planet di luar galaksi Bima Sakti, yang berhasil melewati serangkaian hambatan di luar
angkasa untuk menemukan sebuah planet lain yang berpenghuni seperti asalnya. Dan planet yang diincar itu adalah Bumi!
Bukan soal betapa indahnya Bumi, hanya saja... tempat itu menyediakan obyek yang dapat dipelajari oleh makhluk asing sepertiku---kalau memang aku adalah salah-satunya.
Atau, kalau tidak dari planet di galaksi lain, mungkin bahkan aku adalah sesuatu dari dimensi lain. Tahukah? Bisa saja, di sebuah lapangan besar, sebenarnya ada banyak cabang olahraga yang tengah dimainkan. Namun ketika kita terlalu asyik, sibuk dan fokus hanya di cabang yang kita geluti, sepak bola misalnya, kita tidak sadar, bahwa ternyata di lapangan yang sama yang kita pakai, ada pula sekelompok orang yang tengah memainkan bulu tangkis!
Mungkin seperti itu analoginya. Tidak terlihat bukan berarti tidak ada, hanya saja kau belum cukup membuka lebar celah intipanmu itu.
Dan ketika aku sampai di Bumi dengan meminjam sejarah dilahirkannya seorang anak perempuan, aku mulai menjalani misi penyamaranku. Memulai menjadi bayi, anak-anak lalu remaja, aku sebenarnya adalah seorang putri dari kerajaan di dimensi lain, siap menjalani studi pola hidup manusia dan makhluk lain di Planet Bumi ini. Mencoba ikut mengambil peran namun sebenarnya aku hanyalah penonton. Untuk kemudian, "Ternyata manusia itu seperti ini...," itu pikirku.
Dan aku akan terus melalui kehidupan bersama manusia, bahkan mungkin menikahi seorang pria dan memiliki keturunan. Untuk kemudian mati, dan aku kembali menjadi putri di kerajaanku itu.
Ternyata ini semua hanyalah mimpi! Atau khayalanku saja. Ternyata makhluk bernama manusia dan Planet Bumi pun hanyalah mimpi akibat seringnya menonton televisi.
Ah, atau yang lebih kerennya, mungkin semua kisahku di Bumi, memang benar terjadi, oleh sukma yang terlepas dari ragaku. Sebagai sebuah pencapaian atas kekuatanku, setelah sebelumnya aku mampu pula melakukannya dengan cara memasuki sebuah almari, atau cincin emas di jari.
Dan Bumi bagaikan dunia di luar batas nalar. Tanpa pernah kutahu apa itu benar. Namun, setiap suksesku belajar atas manusia, adalah ilmu untuk aku memimpin rakyatku kelak. Bagaimana harus bersikap, bagaimana harus berpikir, bagaimana cara berbicara, bagaimana bersistem, bagaimana saling mengenali, entah diri sendiri pun di luar diri.
Dan itu amat penting!
Karena memang rakyatku, hanyalah batu-batu yang tak mampu saling berucap. Mereka perlu dipoles, untuk kemudian dapat menjadi para makhluk, dengan kemampuan di atas manusia!
Dan aku dapati, bahwa, betapa dangkal sekali seseorang yang selalu ingin diterima di semua tempat.
Entah, tapi aku setuju.
Begitulah manusia....
No comments:
Post a Comment