Wednesday, April 06, 2016

Kerikil Bintang

Kamu tahu?

Aku lelah sekali. Mataku sudah berat. Mulutku berkali-kali menguap. Ini sudah malam, ingin sekali kuterpejam. Namun sayangnya aku justru tak berdaya. Ketimbang tidur dalam diam, aku lebih memilih untuk kembali mengingat kenangan.

Iya, kenangan.

Kenangan yang sebenarnya belum pernah terjadi di antara kita. Aku ingin sekali bisa mengingatnya.

Tapi... bagaimana?

Aah... lalu kamu tahu?

Sering sekali aku diejek oleh sepinya malam. Dengan bualannya, ia mengusik setiap celah dalam hati. Mengingatkan aku tentang kamu... dan lagi-lagi kenangan bodoh itu.

Bagiku kamu adalah salah satu bintang yang bersinar paling terang dalam kelamnya langit malam. Semakin gelap, maka kamu semakin bersinar. Dan, cukup di sini posisiku. Sebagai kerikil dekil, aku hanya cukup tersenyum. Jangankan untuk bersama, sebenarnya... bisa memandangmu dari kejauhan saja sudah menjadi sebuah kemewahan bagiku

Aku tidak bermata, aku tidak memiliki tangan apalagi kaki. Dan aku seringkali diinjak, oleh sepatu-sepatu penuh lumpur, yang semakin menjadi-jadi buat aku terus mendekil.

Maka...

Bagaimana mungkin kumalku dapat membersamai kamu? Wahai, bintang yang penuh sinar, yang terlihat kecil namun sebenarnya besar, yang menerangi kegelapan, yang begitu dipuja berbagai nyawa.


Bagaimana mungkin?

Seingin apapun aku untuk pantas, sekeras apapun aku berjuang, kalau memang tidak diperuntukan, jelas akan tidak, bukan?

Yaa... kecuali kalau memang takdir berkata lain. Si kerikil yang terus terinjak ini, semakin sakit justru semakin baik. Entah bagaimana teorinya, aku perlahan berubah dan terus berubah. Dengan setelah menunggu seribu tahun lamanya, menjelmalah aku menjadi sebuah batu yang disanjung mulia. Layaknya pasir dalam cerita di lidah kerang, ternyata bisa pula nenjadi mutiara.

Tapi... hampir saja aku merasa cukup, kalau aku tidak kembali diingatkan,

"Hey, ia di langit, sedang kamu itu di Bumi!"

Untuk kemudian, aku hanya bisa memasrahkan, merelakan segala peruntukan. Dan... mengembalikan, seluruh perasaan.

Namun lalu pertanyaannya, akankah aku hanya akan memantaskan, karena kamu? Pantaskah aku berusaha pantas, hanya demi membersamaimu?

Lalu, kemana harus kuhadapkan wajah ketika aku berhadapan dengan yang menciptakanku? Yang sebenarnya, akan mudah sekali bila aku memang perlu diubah dari kerikil menjadi permata mulia.

Cukup katakan, "Jadilah!" Maka akan jadi, tidak peduli bagaimana teori ketidakmungkinan kerikil dengan bintang.

Mungkin memang itulah...
Sebuah keputusasaan akan terjadi,
Saat aku lebih memilih kamu,
Bahkan ketimbang yang menciptakanmu...

No comments:

Post a Comment