Aku kembali duduk. Menjilati es krim cokelat yang kini hanya menyisakan sebilah gagang. Tapi aku tidak peduli, dan aku tetap menatap.
Di seberang sana, kulihat sepasang muda-mudi tengah berbincang-bincang. Terlihat asyik sekali dengan sesekali tertawa. Tapi aku tahu, itu palsu.
Aku kembali menjilati gagang es krim cokelatku, untuk kemudian menoleh ke kanan. Tidak jauh dari tempatku duduk, seorang pria tengah menempelkan ponsel di telinga kiri. Wajahnya serius, dengan sesekali terlihat matanya memutar-mutar tanda kesal. Aku tidak peduli, lalu aku kembali mengecap gagang es krimku.
Sedang di sisi lain, di sebelah kiri. Adalah seorang anak kecil, yang asyik berjalan jinjit-jinjit di dekat garis kuning. Ibunya mengomeli, dengan lebih sering melihat layar monitor tanggung. Jemarinya, lincah sekali dibawa berdansa bersama tuts-tuts aksara.
Hingga kemudian ia dan orang-orang di sekitarnya lupa.
Ngooooooong....
Si anak kecil itu melewati garis kuning, yang menjadi pembatas aman. Ia masih melangkah hati-hati, ketika justru datang Angin Maut menariknya lebih maju. Dengan telinga mereka yang saling tersumpal, aku justru menimpal.
Tik! Jariku menjentik.
Angin Maut pun berhenti, ia menoleh padaku.
"Ada urusan apa kau menghentikan skenario ini?"
Lalu apa jawabku? Aku bahkan lebih memilih mengemut sisa-sisa cokelat terakhir di gagang es krim. Lagi.
"Anak ini sudah waktunya. Kau tidak berhak mencampuri urusan yang satu ini!"
Lagi-lagi aku terdiam, mencoba memainkan suasana dengan berfokus pada gagang es krim. Aku mengernyit.
"Aah... iklan itu bohong! Katanya, ketika aku menggigit sekali, es krimnya akan tumbuh lagi," gerutuku.
"Hey, bocah! Maksudmu apa? Kau tertipu dengan sebuah omong kosong? Hahaha... naif sekali kau!" Tapi entah mengapa si Angin Maut menimpali.
Aku menghentikan gerakan mengemut gagang. Mataku terbelalak, dan aku melihat ke sisi anak tadi. Oh, ya, ampun! Kasihan sekali, kakinya terangkat satu. Tubuhnya condong menuju rel di permukaan tanah. Telat satu detik saja, remuk sudah terhantam keras.
"Cepat kembalikan waktu!"
"Kalau aku tidak mau?"
"Apa? Hei, kalau kau tidak mau, aku akan melapor pada Ketua!"
"Ah, terserah kau saja!" Aku menggesekan tiga ujung jemari kiriku, dan, voila! Es krim cokelatku kembali! Aku girang bukan kepalang.
"Kau ini! Dasar bocah tengik! Di mana otakmu kau pakai! Ini bukan tugasmu! Cepat, kembalikan waktu!"
Aku masih tersenyum dengan es krimku.
"Bodoh! Aku tidak memiliki kekuatan itu! Hei, aku harus segera menarik anak ini! Klan kita membutuhkannya!"
Aku meliriknya sebentar.
"Bohong! Tidak seluas itu! Bukan untuk klan kita, tapi kau! Hanya kau! Demi sebuah wajah dari dua wajah! Dasar pencari muka!" Jawabku muak sembari terus menjilat es krim.
Ia menggeram.
"Aku tidak akan mengembalikan waktu, sama seperti klan mereka tidak sanggup melakukannya!"
"Lalu kau mau apa? Membiarkan mereka abadi di antara detik ini? Hei, mereka akan menua setelah satu detik! Lucu sekali, bocah!"
"Berhenti memanggilku bocah!"
"Kau bocah!"
"Aku bukan bocah!"
"Benar-benar bocah! Tak ada bocah yang ingin dipanggil bocah, bodoh!"
"Sialan, kau!" Aku pun menjentikkan jemariku kembali.
Anak kecil itu terlempar ke belakang, dan si Angin Maut jatuh terjerembab dengan sebelumnya berteriak pasrah. Tubuhnya tergilas oleh ular besi yang ganas.
Apa, kau khawatir? Tenang saja, ia tidak akan mati apalagi hancur seperti manusia. Mungkin setelah ini, ia akan segera memanggil tukang pijat kami.
Dan... sembari menunggu ia membalas kekesalannya, aku pun kembali duduk manis dengan es krim coke... Hei! Ternyata ini rasa kopi! Pantas saja sejak tadi aku tidak mengantuk. Wow!
---
Cilebut, 29 Maret 2016
Kenti Lestari #MalamNarasiOWOP
No comments:
Post a Comment