Tring!
Bunyi notifikasi sebuah ponsel di atas meja. Ah, aku tahu itu ponsel siapa, segera kuraih dan kubuka kuncinya.
'Hai, Nia... lagi apa, nich? Udah makan beyoom?'
Sesorang bernama Bahrul mengirimiku pesan. Dih, chat macam apa itu? Aku hanya membacanya. Lalu kemudian...
Tring!
Masih dari nomor yang sama.
'Yah, Niaa... kok cuma di-read aja? Eh, betewe, tadi aku abis makan picang goyeng dan bubul cumcum, lho! Enyak deh! Kamu suka gak? Makan bareng, yuk! Di taman deket rumah kamu ada yang jual tuch!'
"Iih... apa banget ini orang! Zie, lihat deh, geli banget gue, hiiy!" Aku meneriaki temanku yang sedang asyik membaca majalah dan melemparinya dengan ponselku. Di sana chat dari Bahrul masih terbuka, Zie membacanya lalu tertawa bagai kuda.
"Agresif banget nih orang! Hahaha... Eh bener kan istilah gue?" komentarnya meneruskan membaca sembari bingung sendiri dengan makna agresifnya.
"Itu sih bukan agresif. Emang sakit aja tuh orang. Hih!" Aku bergidik ngeri.
"Lu bales ajaa.. tanya, nilai bahasa Indonesia lu berape sih, Bang? Banyak amat typo-nya. Pisang kok jadi picang. Hahahaa..."
"Dih, ogah. Ikutan sakit entar gue."
"Sok-sok-an waras, lu. Jahat banget lagi ngatain orang begitu. Hahaha... mending lu bales deh daripada tahu-tahu dia nelepon. Hahaha.." dan dugaan Zie benar.
Tulalit... tulalit... tulalit...
Ponselku berdering tanda ada telepon masuk.
"Zie! Asli rese, nih orang beneran nelepon!" Zie tertawa melambaikan tangan menjawab kepanikanku.
"Angkat ajaa..."
"Ogah! Emangnya jemuran!"
"Yaudah matiin..."
"Enggak mau juga, entar gua malah dosa mati-matiin gitu."
Zie mendelik.
Tring!
Setelah nyanyian ponsel itu berhenti, dua buah pesan kembali masuk. Aku sempat enggan membacanya. Tapi, entah angin darimana, aku tetap saja rajin membuat centang dua biru di chat yang dikirim orang itu terhadapku.
'Niaa.. kok cuma di-read? Angkat teleponku juga doong...'
'Niaa... aku udah nunggu balasan chat kamu, tapi kamu cuma nge-read aja...'
Setelah itu dia mengirimkan satu gambar yang bertuliskan, "THE RAID DUA emang sadis, tapi, lebih sadis DI-READ doang!"
Aku mengerutkan kening, antara geli dan iba. Akhirnya kubalas juga, 'Sorry, Rul. Gue lagi sibuk.'
Lalu gambar selanjutnya dikirim, berbunyi, "Whats App itu bukan koran! Dibaca doang tapi enggak dibales :("
Aku kembali mengerutkan kening, memijit-mijitnya.
"Oh, tolonglah... Suka sama gue enggak gini-gini juga. Ngajak makan pisang goreng atau bubur sum-sum yang elegan dikitlaah..." dan lagi-lagi Zie hanya tertawa.
"Gue rasa, perasaan dia saat ini tuh sama kayak perasaan lu ke orang itu deh. Ngebales cepet tapi dibalesnya berabad-abad. Entah dia emang lagi sibuk, atau enggak mau kentara ada apa-apa dengan lekas ngebales chat lu, atau..."
"Atau apa?"
"Atau lu enggak cukup penting untuk dibales cepet. Hahaha..."
Aku langsung melempar Zie dengan bantal yang ada di sampingku. Rese juga tuh orang. Tapi... Jangan-jangan iya juga...
:(
---
1503-2016
Kenti Lestari
Oke maaf ini alay ✌
#malamNarasiOWOP
No comments:
Post a Comment