"Aaak... besok dia pulang, lho!" Aku terkejut, langkahku melambat.
"Dia siapa?" Kawannya yang berambut ikal bertanya.
"Ih, masa lo enggak tahu? The Hurricane Ada! Ingat sesuatu?" Gadis pertama masih sama rusuhnya.
Aku terus melambatkan langkahku, mencoba mencuri dengar setiap inci celoteh kawanan itu.
"Oh, em ji! Yang bener lo? Prince Charming? Gila!" Kali ini, si kuning langsat menghentikan gerakan melukis alisnya.
Aku hampir tiba pada mejaku.
"Wah, kapan dia datang? Gue mesti ke salon dulu, nih! Duh rambut lepek, muka berminyak, bibir pecah-pecah! Argh!" Si hidung mancung dengan kulit semulus sutera kini yang beraksi.
Hap! Aku sudah menduduki kursi tak jauh dari mereka. Mencoba tidak ambil pusing, kubuka buku catatanku. Hari ini akan ada tes, aku mesti jadi yang terbaik. Mesti! Karena, yang terbaik, yang dinanti. Seperti dia...
***
"Lo tahu? Terkadang, yang bersinar pun bisa tertutupi kegelapan." Ujarnya membuyarkan lamunanku.
Aku mengangkat wajah, mendapati senyuman tersungging di wajah teduhnya. Mata tajam yang menatap lurus-lurus ke depan, namun tiba-tiba tertuju padaku. Ia menoleh. Aku mengerutkan kening.
"Enggak selamanya bintang itu bersinar, Rei! Enggak selamanya mentari selalu terang benderang..." kali ini ia berucap sembari menatap langit. Sengak sekali tampangnya.
"Gue enggak ngerti. Bisa tolong jelaskan dengan bahasa yang lebih bisa gue pahami?" Tapi dia tertawa.
"Reina, lo tahu gerhana?"
Aku mengangguk sembari menatap sudut lain.
"Gerhana bulan atau matahari, apa lo pernah lihat?"
Mataku meraba-raba, menggelindingkan pandangan dari kanan ke kiri hingga tiba pada tatapannya.
"Maksud lo gimana, sih?"
Ia mengembuskan napas sembari memutar matanya ke kanan-atas-kiri.
"Gue yakin lo paham soal ini. Gerhana itu enggak ada di setiap hari, kan? Hahaha... tapi, kedatangannya yang jarang banget itu justru yang bikin---"
"Please, Der, to the point!" Potongku sudah bosan dengan teorinya itu.
Ia menarik napas.
"Oke, Rei, gue pasti kembali, kok. Gue pasti pulang,"
"Dan gue yakin lo pasti menantikan saat itu, sama seperti para astronom menantikan hadirnya gerhana. Hahahaa..."
kemudian tawanya membuncah.
Pipiku terasa panas. "Cih, pede lo!"
"Jadilah yang terbaik, Rei! Bukan berarti lo harus selalu terang-benderang setiap detik. Ada saatnya kok di mana akan ada kegelapan melingkupi. Tapi percaya deh, itu enggak akan lama. Yaa... palingan lima menit..." katanya bijak, mengulum bibir, mengangkat alis.
Aku termangu, menatapnya lekat-lekat. Lima menit?
***
Sebuah tangan berayun di hadapanku. Aku terkaget-kaget, buyar sudah lamunanku. A-ah... tergagap bodoh, hampir semua mata memandangku, terutama kawanan gadis-gadis salon itu. Mata mereka terlihat silau. Aku menyadari seseorang berada di dekatku. Kucoba menoleh, dan...
Deg!
Dia tersenyum. Ternyata kabar kepulangannya itu benar.
"Gimana? Lebih charming gue atau gerhana yang datang tadi pagi?" Setelah mengatakan itu, cengir khasnya merekah. Aku tertular.
Tak ingin dianggap bisu, aku menyapanya. "Ternyata lo pulang demi gerhana itu ya? Gue kira karena..."
Deg!
"Karena apa?"
'Sial, gue keceplosan!'
"Karena apa, woy?"
"E-eh.. Aa..."
"Kok tiba-tiba gagap, Rei? Karena apa?"
"Ka-karena..."
"Karena janji gue?"
Deg!
---
08032016 -Kenti Lestari-
#MalamNarasiOWOP
#ChallengeIOC
"Dia siapa?" Kawannya yang berambut ikal bertanya.
"Ih, masa lo enggak tahu? The Hurricane Ada! Ingat sesuatu?" Gadis pertama masih sama rusuhnya.
Aku terus melambatkan langkahku, mencoba mencuri dengar setiap inci celoteh kawanan itu.
"Oh, em ji! Yang bener lo? Prince Charming? Gila!" Kali ini, si kuning langsat menghentikan gerakan melukis alisnya.
Aku hampir tiba pada mejaku.
"Wah, kapan dia datang? Gue mesti ke salon dulu, nih! Duh rambut lepek, muka berminyak, bibir pecah-pecah! Argh!" Si hidung mancung dengan kulit semulus sutera kini yang beraksi.
Hap! Aku sudah menduduki kursi tak jauh dari mereka. Mencoba tidak ambil pusing, kubuka buku catatanku. Hari ini akan ada tes, aku mesti jadi yang terbaik. Mesti! Karena, yang terbaik, yang dinanti. Seperti dia...
***
"Lo tahu? Terkadang, yang bersinar pun bisa tertutupi kegelapan." Ujarnya membuyarkan lamunanku.
Aku mengangkat wajah, mendapati senyuman tersungging di wajah teduhnya. Mata tajam yang menatap lurus-lurus ke depan, namun tiba-tiba tertuju padaku. Ia menoleh. Aku mengerutkan kening.
"Enggak selamanya bintang itu bersinar, Rei! Enggak selamanya mentari selalu terang benderang..." kali ini ia berucap sembari menatap langit. Sengak sekali tampangnya.
"Gue enggak ngerti. Bisa tolong jelaskan dengan bahasa yang lebih bisa gue pahami?" Tapi dia tertawa.
"Reina, lo tahu gerhana?"
Aku mengangguk sembari menatap sudut lain.
"Gerhana bulan atau matahari, apa lo pernah lihat?"
Mataku meraba-raba, menggelindingkan pandangan dari kanan ke kiri hingga tiba pada tatapannya.
"Maksud lo gimana, sih?"
Ia mengembuskan napas sembari memutar matanya ke kanan-atas-kiri.
"Gue yakin lo paham soal ini. Gerhana itu enggak ada di setiap hari, kan? Hahaha... tapi, kedatangannya yang jarang banget itu justru yang bikin---"
"Please, Der, to the point!" Potongku sudah bosan dengan teorinya itu.
Ia menarik napas.
"Oke, Rei, gue pasti kembali, kok. Gue pasti pulang,"
"Dan gue yakin lo pasti menantikan saat itu, sama seperti para astronom menantikan hadirnya gerhana. Hahahaa..."
kemudian tawanya membuncah.
Pipiku terasa panas. "Cih, pede lo!"
"Jadilah yang terbaik, Rei! Bukan berarti lo harus selalu terang-benderang setiap detik. Ada saatnya kok di mana akan ada kegelapan melingkupi. Tapi percaya deh, itu enggak akan lama. Yaa... palingan lima menit..." katanya bijak, mengulum bibir, mengangkat alis.
Aku termangu, menatapnya lekat-lekat. Lima menit?
***
Sebuah tangan berayun di hadapanku. Aku terkaget-kaget, buyar sudah lamunanku. A-ah... tergagap bodoh, hampir semua mata memandangku, terutama kawanan gadis-gadis salon itu. Mata mereka terlihat silau. Aku menyadari seseorang berada di dekatku. Kucoba menoleh, dan...
Deg!
Dia tersenyum. Ternyata kabar kepulangannya itu benar.
"Gimana? Lebih charming gue atau gerhana yang datang tadi pagi?" Setelah mengatakan itu, cengir khasnya merekah. Aku tertular.
Tak ingin dianggap bisu, aku menyapanya. "Ternyata lo pulang demi gerhana itu ya? Gue kira karena..."
Deg!
"Karena apa?"
'Sial, gue keceplosan!'
"Karena apa, woy?"
"E-eh.. Aa..."
"Kok tiba-tiba gagap, Rei? Karena apa?"
"Ka-karena..."
"Karena janji gue?"
Deg!
---
08032016 -Kenti Lestari-
#MalamNarasiOWOP
#ChallengeIOC
#GerhanaMatahari
Maap alay xD
Maap alay xD
No comments:
Post a Comment