Wednesday, March 09, 2016

Sang Penepuk Nyamuk

Ini adalah kisah. Tentang cinta. Sebuah perasaan yang umum dirasakan setiap orang. Tapi, ini bukan kisah, di mana aku akan bercerita tentang aku dan kamu, atau aku dan dia. Ini adalah… tentang aku, dan seseorang itu.

Tepatnya belasan tahun yang lalu, ia bergegas menemuiku ketika aku telah berhasil menghirup udara dan meneriakan dunia. Dengan mulutnya, dilantunkanlah seruan itu. Betapa indah suaranya, meski tak kuingat betul bagaimana.

Dengannya, kudapati kursi untuk ditempatkan, berkenalan dengan teman, dan memulai pelajaran.

“Mulai sekarang, kau sudah besar. Jangan menangis meski kau ditinggal,” ucapnya kubalas dengan sebuah anggukan.

Hujan turun menderas, mengeroyoki sesiapa yang tengah bermain-main di bawahnya. Tanpa sebuah penghalang, ia datang.

“Pakai ini!” Ia mengatakan itu sembari memberikan pakaian anti-hujan kesayangannya.

“Tapi, bagaimana denganmu?” Tanyaku khawatir.

“Aku tak perlu.” Ia tersenyum.

“Tapi, kau akan kehujanan…” Aku meringis.

“Aku lebih takut jika kau yang kehujanan...” Ia mengakhiri perdebatan itu dengan kembali menaiki kuda besinya, memboyongku.

Hujan masih menderas, aku kehangatan, ia kebasahan.

“Suatu hari nanti, kau mesti pandai menggunakan ini,” ia menepuk pegangan benda itu ketika aku hendak berpamit.

Aku tersenyum, “Tentu, jika kau mau mengajariku.”


***

Kau tak pernah lelah…
Sebagai penopang dalam hidupku…

“Kumohon, bertahanlah…” gumamku terkaget mendengar nyanyian itu.

Kau berikan aku semua yang terindah…

“Kumohon, aku berjanji aku akan lebih…” nyanyian itu masih terdengar, aku tahu benar bagaimana kelanjutannya.

Aku hanya memanggilmu…

Dan telapak tanganku sempurna menutup telinga, meski tetap saja senandung itu terdengar nyata.

“Aku segera pulang,” begitu bunyi yang dihasilkan saat hubungan berseberangan berhasil tersambungkan.

Aku pun tiba, dan kudapati sebuah pukulan pahit! Belum pernah aku merasakan tancapan sekeras itu. Aku terlambat. Bendera di sana... menusuk sekali warnanya! Kubuka penutup di atas wajah itu, terpatrilah sebuah senyuman.

“Ah, ternyata kau bahagia…” lirihku menghibur banyak diri.

Mengiringinya hingga akhir, lalu meninggalkan.

“Kuharap kau benar bahagia… Maafkan aku…” 

Yang lain menangis, semua menangis. Haruskah aku mengikuti? Lalu, siapakah yang akan mengusap air-mata itu jika aku pun sibuk dengan air-mataku? Maka kuputuskan untuk tidak, dan kuingat ia, “Meski anak perempuan, ku tahu kau kuat! Tidak apa menangis, tapi jangan terlalu! Kau adalah seorang putri yang kuat!”

 ***

Aku memarkir rapi sepedaku, sembari menggendong tas ransel, ada sebuah jalan yang penuh dedaunan kering. Aku melangkahinya ringan saja, Mentari sebenarnya bersinar terang, namun, seperti ada yang mendung di suatu sudut, di kedalaman hati.
"Lakukan selalu yang terbaik, Sayang..." 

Entah mengapa aku teringat sesuatu.


"Apa cita-citamu? Kau mau ke mana nanti? Aku selalu untukmu, Sayangku..." 

Kini mataku mulai panas.


"Kau, selalu begitu! Selalu berkata, 'Aku tahu! Aku tahu! Aku bisa! Aku bisa!' Dan kau memang bukan anak yang manja, Sayang..."

Kurasakan seperti ada setetes-dua tetes.

"Mengapa tidak boleh? Kau jahat!"  kataku suatu ketika di sebuah momen penolakan.

"Itu karena aku menyangimu," Tapi aku menolak jawaban itu. Sebenarnya ia pasti benar menyayangiku, sekali pun tanpa sebuah pengakuan.

"Kau lihat aku bekerja keras, kan? Tiada yang lebih berarti selain dari senyuman dan yang terbaik untukmu, Sayang..."

Lambat laun seperti ada hujan yang turun, tapi tidak dari langit. Aku segera menghapus tiap butir itu. Cukup rindu itu di sini saja, tanpa perlu pengakuan dari tangisan yang terlalu. Cukup sesalku tak sempat ucapkan rasa sayang, kupikir biar doa yang menyampaikan.

Tapi saat aku hendak melupakan rasa itu, entah mengapa, sayup-sayup terdengar sebuah nada. Aku sulit mengelak, dan perlahan, kueja beberapa kata.

"Mungkin hanya… lewat lagu ini… 

Akan kunyatakan rasa...

Cintaku padamu… rinduku padamu...  

Tak bertepi…
  
Mungkin hanya… sebuah lagu ini, yang akan selalu kunyanyikan..."

Aku benar merindu. Sulit dienyahkan. Tak apalah kali ini hujan turun. Saat di mana perlahan aku bisa membuktikan celotehnya itu, "Kau pasti bisa melakukan yang terbaik, Sayang..." 

Ah, ya.. sebenarnya bukan melalui lagu harus kuungkapkan. Apalah artinya untukmu? Dibanding lagu, aku ingat sebuah senjata terkuat itu, dan biarlah kasihku mengalir pada tiap bait sang senjata, sembari meniti satu demi satu yang terbaik yang bisa aku jalankan. 

Semoga saja dengan begitu, kau benar bahagia di sana.


---
Tulisan ini aku dedikasikan untuk kamu, sang penepuk nyamuk di tiap malam, selain sebagai pemenuh tantangan menulis dalam sebuah wadah, yaitu, "Islamic Otaku Community Writing Project" namanya. Dengan tema "Cinta Musik Indonesia", maka aku memilih dua buah lagu setelah cukup berpusing ria. Judul pertama adalah "Ayah"-nya Seventeen, dan judul kedua adalah "Laguku" oleh Ungu.

Hehehe, maaf karena ada dua lagu. Daan.. setelah menulis ini, sepertinya aku baru tahu kalau "Ayah" itu dirilis di atas tahun 2010 deh xD yang mana di bawah tahun 2010 rilisnya menjadi sebuah syarat, hehe. Jadi, anggap saja lagu yang aku pilih itu cukup "Laguku" yang kalau enggak salah muncul di tahun 2002, wkwk.

Oiyak, ini bukan sempurna kisah nyata, yaa.. Bukan juga bermaksud melo-melo-an, tapi iya kalau lebay-lebay-an. Hehew xD

Salam Hebat dan Menghebatkan!



No comments:

Post a Comment