Konon, rumah yang baru dibeli ayah ini berhantu. Entah, ada hawa tidak menyenangkan saat masuk pertama kali. Ada suara menggema pada dinding-dindingnya. Sebait nada yang diulang-ulang, menggema halus. Diiring isak penuh rindu.
Lingsir.. wengii..
Tiba-tiba bulu kudukku berdiri mendengar nyanyian itu. Orangtua dan tujuh adikku mengaku tak mendengar apapun. Bagaimana bisa?
Tiba-tiba nampak olehku boneka cantik berwarna pink. Tanpa tedeng aling-aling, ia melolot padaku. Aku tergeragap bangun dengan peluh di sekujur tubuh.
Lingsir... wengiii...
Lagu itu lagi. Kali ini terdengar sangat nyata. Kali ini dari gudang. Aku pun bergegas ke sana. Di gudang itu pun, aku melihat boneka pink yang sama. Kali ini ada garis merah yang menghiasi kedua pipinya.
"Aaah!" Sontak aku menjerit keras, melihat garis itu mengalir merah.
Aku berlari. Tiba-tiba kulihat adikku bermain dengan seorang anak. Siapa?
Kudekati mereka. "Kak. Ini Sita," Tampak olehku, Sita memeluk boneka pink. Aku mengernyit, dan tersenyum...
Sita, mendongak ketika namanya disebut, namun tak sepatah kata terucap. Saat membuka kelopak mata, bola matanya tak ada. Kosong!
Aku lalu menarik Tania; adikku; menjauh. Si pink terjatuh. Kepalanya mengangkat, dan ia menyeringai. Aku bergidik. Namun, aku tak mampu bergerak. Langkahku terasa berat, bibirku kelu.
Mereka bergerak mendekati kami, pelan tapi pasti.
Lingsir... wengiii...
Lagu itu. Kembali menyayat. Dan, munculah sesosok putih. Ibu? Tapi tatapannya sangat mengerikan.
"Ibu, ada apa?" tanyaku khawatir. Dia mencekik leherku. Makin kencang. Tanganku bergerak menarik rambutnya. Secara mengejutkan, ada sejumput rambut Ibu yang tersangkut di tanganku.
Rasanya aku seperti mimpi, mimpi yang bahkan benar-benar nyata.
"Ibu..."
Sadarku menguat, aku tak ingin menyakiti ibu.
Lingsir... wengiii...
Tapi itu benar Ibu, dan ia menyanyikan itu. Tiba-tiba Ibu melengking mengerikan. Giginya menajam. Matanya memerah.
Tiba-tiba Sita datang. Dia melempar boneka pink ke kepala Ibu.
Ibu pun membelalak. Ibu menyeringai, lagi. "Anakku sayang..." katanya.
Aku semakin bingung. Hatiku merintih, aku tak ingin sedikitpun menyakitinya.
Maka aku menoleh pada Tania, "Hei, temanmu!"
Tania mematung, Ibu menanggalkan tangannya dari leherku. Aku pun berlari. Dan Ibu langsung menghadangku dengan mata melotot. Aku semakin tak tahu harus berbuat apa. Kakiku membeku.
Selongsong peluru tiba-tiba menghantam udara. Dor! Begitu bunyinya.
"Kacaukah hatimu, Nak, seperti saat balon-balonmu meledak?" tanya Ibu.
"Ibu, kenapa seperti ini?" tanyaku sembari meneteskan air mata.
Ibu pun sama menangis denganku. "Anakku... maafkan Ibu, Sayang..." ujarnya.
"Kita panggil ustadz, Ibu," ujarku. "Untuk meruqyah tempat ini."
"Jangan begitu, Sayang. Rumah ini memberikan Ibu kekuatan dan energi."
"Tapi, Bu. Ini keterlaluan," isakku pada Ibu.
"Sebaiknya kita mati saja!" Lalu Ibu menoyor kepalanya dengan pistol. Aku tertawa, "Ibu, itu kan pistol mainan punya Haidar."
Ibu mengernyit dan memandang pistol itu. Kemudian ia membantingnya. Lantas, Ibu marah dan kembali mencengkeram lenganku.
"Dasar, kau! Kau pikir aku bercanda, ha?" Ibu melepas topengnya. Terbukalah identitasnya, Ratu Merah dari Wonderland.
"Enyahlah, Alice!" ujarnya mengancamku.
Kusembunyikan wajahku di balik kedua tanganku, Ibu kekeh hendak menghunuskan pistolnya padaku.
"Ibu... Pistolku mana?" Teriakan Haidar membuatku membuka tangan.
Sambil berlari, Haidar merengek. Ditariknya gamis Ibu yang hampir menyentuh lantai.
Lalu Ibu terjatuh, dan bernyanyi, "Aku terjatuh dan tak bisa..."
Saat Ratu Merah terjatuh, seketika kelinci bersayap datang menyambarku.
"Ci. Kamu mau bawa aku kemana?" Teriakku sambil memukulnya.
"Di ujung air terjun itu, kamu akan tahu, "jawabnya.
Dan ternyata aku dibawa olehnya ke rumah kosong.
Di dalam rumah itu, terdapat sebuah lubang, lalu aku memasukinya. Tetapi makin lama, lorong semakin sempit hingga seukuran separuh tubuhku.
"Oh! Selamat datang, Alice!" tikus ungu muncul dari dalam lorong.
Aku semakin tertegun, bingung dibuatnya. Mengapa seperti ini? Kenapa bisa?
"Alice, aku utusan Ratu Putih! Cepat, sebelum Ratu Merah mengejar!"
Sebuah permadani menggelinding dari dalam lorong, kemudian membuka. Kami berangkat. Permadani terbang menembus awan.
"A whole new world!" seruku.
Mimpiku selama ini benar-benar terwujud. Batinku bersorak gembira. Tapi... Ratu Putih terkulai lemah di atas sebuah batu besar.
"Ratu Putih, ada apa?" tanyaku panik setelah turun dari permadani.
"Kekuatanku tiba-tiba saja hilang, Alice." ucapnya dengan terbata.
"Tidak apa. Masih ada kekuatanku," ucapku mencoba menenangkannya.
"K...ita...harus segera...." suaranya kian parau.
Tikus Ungu menarik gaunku.
"Ratu Putih kau tak perlu buang tenaga untuk berbicara," ucapku.
"A-Alice, aku teringat sesuatu yang penting. Terkait hilangnya kekuatanku."
"Tenang saja. Kekuatanku masih kuat untuk kita berdua," sahutku.
"Bukan itu. Tanpa kekuatanku, aku harus mencuci piring dengan tanganku."
"Hentikan bualan ini!" seru Ratu Merah dari belakang kami.
Tikus Ungu memberikan sebuah pedang padaku dari samping. Kemudian aku menghunuskan pedang ke perut Ratu Merah. Dia terkapar begitu saja.
Kukira ia sudah mati, ternyata itu adalah jurus seribu bayangannya. Ratu Merah tiba-tiba bangun dan melayang. Dia menyemburkan api, tapi dilawan hembusan angin salju Ratu Putih.
Lalu Haidar muncul, entah dari mana, menyemprotkan madu dengan selang. Tikus Ungu juga menyerang Ratu Merah dengan kerlingnya yang menghipnotis.
Ratu Merah pun mati. Kali ini benar-benar mati.
TAMAT
---
#CanberaIWIP
Namanya Canbera, ya pasti aneh ceritanya, hihi. Tapi satu yang beda dari Canbera-canbera sebelumnya, kali ini masing-masing peserta hanya dibolehkan melanjutkan cerita dengan maksimal sepuluh kata, lhoo! Kalau lebih, akan ada hukumannya ;D
No comments:
Post a Comment