Saturday, February 27, 2016

40, 80 atau 95?


Di suatu malam, di keheningan pagi.

“Kereta ini akan terus berjalan. Ada dan tidak adanya kamu, ia tetap akan bergerak. Lalu, mengapa kamu tidak memilih menaikinya? Berada di barisan itu? Dan bersama saling memegang obor  kebenaran?” sebuah suara muncul mengejutkan.

Aku tercengang, “Hei, siapa kamu?”

“Sesombong itukah kamu? Menginginkan keistimewaan hanya untuk kamu? Lalu, di mana letak berharganya mereka itu?:

Aku termangu. Hatiku mencelos. Hei, apa-apaan ini? Darimana datangnya suara itu? Bulu romaku pun berdiri.

“Aku, adalah yang engkau cari, Sobat. Aku adalah apa yang kau yakini hilang. Aku adalah sekeping hati yang kau tanyakan. Aku, adalah kamu.”

Deg!

***
Puncaknya adalah sebelum tidur, aku ‘berjalan-jalan’ di sebuah wadah menulis seorang teman. Maka ketika aku dapatkan beberapa tulisan, hati ini menghangat. “Cahaya… inikah setetes air yang Kau janjikan, yang bergerak mengaliri dahagaku?” Kembali aku berselancar, mencari dan mencari, dan kutemukan yang lain.

Selagi hati, jiwa, dan pikiran itu masih hangat, ajaklah!
Selagi hati, jiwa, dan pikiran itu tak kemana, terus bawalah!

Aku mendengar itu, Cahaya…

Maka, lalu, aku bahkan dapati panggilan terbaik untukmu. Maafkan aku. Kumohon ampuni kesombonganku. Bagaimana mungkin kutelah bersaksi tentang-Mu dan utusan-Mu, namun tak kujalani benar apa yang menjadi seruan-Mu.

Bagaimana mungkin, aku hanya ingin tiba di sebuah taman yang indah, namun sendiri saja. Betapa egoisnya aku, Cahaya…

Bagaimana mungkin, kulebih memilih kaca-mata kuda, untuk kemudian aku hanya berjalan lurus tanpa peduli mereka.

Bagaimana mungkin, aku hinakan semua, kuremehkan semua, aku memilih di tengah saja, namun nyatanya aku tidak lebih berguna.

Bagaimana mungkin aku bisa sebodoh itu, Cahaya?

Sudikah kiranya Engkau selalu membimbingku? Lagi dan lagi. Selalu. Maka, tak ada yang lebih nikmat daripada itu. Tak ada yang lebih sengsara selain kehilangan pegangan-Mu.

Maka, sebenarnya,
Sungguh beruntunglah seorang aku, Cahaya…

Namun aku sombong, namun aku egois. Kalau begitu, tak ada bedanya aku dengan mereka yang kukeluhkan.

Kembali, aku ingin dapati semangat tinggi itu, Cahaya…

Bukan lagi hanya sekadar. Namun akulah salah-satunya. Salah satu pejuang pemegang obor kebenaran itu, maju bersama tuntaskan kebiadaban. Dan, kumohon restui aku, Cahaya…

Tiadalah berarti diriku tanpa-Mu.
Tiadalah nikmat semua ini tanpa kuberjuang atas-Mu.

Sebenarnya Kau tak dapatkan apapun, bukan?

Tapi, itulah. Empat puluh, delapan puluh, atau Sembilan puluh lima. Kau berikan pilihan itu, 

Maka, semoga tiket ini tak hanya kukantungi saja. Namun kubawa berjalan, berlari, atau sesekali merangkak. Mengejar kereta itu, menaikinya dan bersama-sama membangun barisan kukuh. Menyusuri tiap ladang. Tak peduli dengan seluruh kerikil tajam. Hingga tiba saatnya. Hingga kereta itu tepat tujuannya. Selesailah sudah.

Saat Kau bilang, “Cukup,” maka cukup sudah.

Tersenyum bersama, dan rasakan, “Ini indah,” dan memanglah indah. Jalannya para pejuang. Ah, ya, agung sekali gelar itu.

“Pejuang”.

Keretamu akan bergerak, sedang bergerak, terus bergerak, segera sampai. Ada tidaknya kamu, pasti begitu. Ini hanya soal pilihan,

Ingin membeli tiket lalu berjalan bersama, kah?

Atau,

Hanya membeli tiket, bahkan tidak sama sekali...

Empat puluh, delapan puluh, atau Sembilan puluh lima. 

---
27 Februari 2016
Masih di bumi yang sama, tempat Kau curahkan segala nikmat.

(Terinspirasi dari berbagai sumber)

No comments:

Post a Comment