Di suatu malam, di keheningan pagi.
“Kereta ini akan terus berjalan. Ada
dan tidak adanya kamu, ia tetap akan bergerak. Lalu, mengapa kamu tidak memilih menaikinya? Berada di barisan itu? Dan bersama saling memegang obor kebenaran?” sebuah suara muncul mengejutkan.
Aku tercengang, “Hei, siapa kamu?”
“Sesombong itukah kamu? Menginginkan
keistimewaan hanya untuk kamu? Lalu, di mana letak berharganya mereka itu?:
Aku termangu. Hatiku mencelos. Hei, apa-apaan ini? Darimana datangnya suara itu? Bulu
romaku pun berdiri.
“Aku, adalah yang engkau cari,
Sobat. Aku adalah apa yang kau yakini hilang. Aku adalah sekeping hati yang kau
tanyakan. Aku, adalah kamu.”
Deg!
***
Puncaknya adalah sebelum tidur,
aku ‘berjalan-jalan’ di sebuah wadah menulis seorang teman. Maka ketika aku
dapatkan beberapa tulisan, hati ini menghangat. “Cahaya… inikah setetes air yang
Kau janjikan, yang bergerak mengaliri dahagaku?” Kembali aku berselancar,
mencari dan mencari, dan kutemukan yang lain.
Selagi hati, jiwa, dan pikiran itu masih hangat, ajaklah!
Selagi hati, jiwa, dan pikiran itu tak kemana, terus bawalah!
Aku mendengar itu, Cahaya…
Maka, lalu, aku bahkan dapati
panggilan terbaik untukmu. Maafkan aku. Kumohon ampuni kesombonganku. Bagaimana
mungkin kutelah bersaksi tentang-Mu dan utusan-Mu, namun tak kujalani benar apa
yang menjadi seruan-Mu.
Bagaimana mungkin, aku hanya
ingin tiba di sebuah taman yang indah, namun sendiri saja. Betapa egoisnya aku,
Cahaya…
Bagaimana mungkin, kulebih
memilih kaca-mata kuda, untuk kemudian aku hanya berjalan lurus tanpa peduli
mereka.
Bagaimana mungkin, aku hinakan
semua, kuremehkan semua, aku memilih di tengah saja, namun nyatanya aku tidak lebih berguna.
Bagaimana mungkin aku bisa
sebodoh itu, Cahaya?
Sudikah kiranya Engkau selalu
membimbingku? Lagi dan lagi. Selalu. Maka, tak ada yang lebih nikmat daripada
itu. Tak ada yang lebih sengsara selain kehilangan pegangan-Mu.
Maka, sebenarnya,
Sungguh beruntunglah seorang aku,
Cahaya…
Namun aku sombong, namun aku
egois. Kalau begitu, tak ada bedanya aku dengan mereka yang kukeluhkan.
Kembali, aku ingin dapati
semangat tinggi itu, Cahaya…
Bukan lagi hanya sekadar. Namun akulah
salah-satunya. Salah satu pejuang pemegang obor kebenaran itu, maju bersama tuntaskan
kebiadaban. Dan, kumohon restui aku, Cahaya…
Tiadalah berarti diriku tanpa-Mu.
Tiadalah nikmat semua ini tanpa
kuberjuang atas-Mu.
Sebenarnya Kau tak dapatkan
apapun, bukan?
Tapi, itulah. Empat puluh,
delapan puluh, atau Sembilan puluh lima. Kau berikan pilihan itu,
Maka, semoga tiket ini tak hanya
kukantungi saja. Namun kubawa berjalan, berlari, atau sesekali merangkak. Mengejar
kereta itu, menaikinya dan bersama-sama membangun barisan kukuh. Menyusuri tiap ladang. Tak peduli
dengan seluruh kerikil tajam. Hingga tiba saatnya. Hingga kereta itu tepat
tujuannya. Selesailah sudah.
Saat Kau bilang, “Cukup,” maka
cukup sudah.
Tersenyum bersama, dan rasakan, “Ini
indah,” dan memanglah indah. Jalannya para pejuang. Ah, ya, agung sekali gelar itu.
“Pejuang”.
Keretamu akan bergerak, sedang
bergerak, terus bergerak, segera sampai. Ada tidaknya kamu, pasti begitu. Ini hanya
soal pilihan,
Ingin membeli tiket lalu berjalan
bersama, kah?
Atau,
Hanya membeli tiket, bahkan tidak
sama sekali...
Empat puluh, delapan puluh, atau Sembilan
puluh lima.
---
27 Februari 2016
Masih di bumi yang sama, tempat Kau curahkan segala nikmat.
(Terinspirasi dari berbagai sumber)
No comments:
Post a Comment