Thursday, February 25, 2016

Aku, Kamu, dan Jamu

Jamu. Selama sembilan belas tahun aku menempati dunia ini, jarang sekali aku meminum satu jenis itu. Bisa dihitung dengan jari. Termasuk si "buyung upik", jamu paling hits di sektor anak-anak. Tapi, kini, biar aku berbagi kata berbagi rasa. Biarkan aku bercerita, tentang jamu, hidupku, dan kamu.

"Jamu itu pahit!" Setidaknya mereka umum mengatakan itu. Termasuk aku.

"Tapi, jamu itu banyak khasiatnya!" ujar seorang aktris unjuk kebolehan dalam iklan.

Lalu aku berpikir, betapa miripnya. Betapa miripnya.

Hidupku, dan kamu.
Seperti jamu.
Pahit. Namun baik.

"Kamu ke mana saja?" aku bertanya.

"Bukan urusanmu!" kamu menjawab, ketus.

Kamu dingin. Dingin sekali.

"Apa kamu tidak sadar? Aku hanya ingin peduli padamu.. aku hanya.. aku hanya.. ingin membuat kamu kembali merasa..."

Tapi kamu dingin. Dingin sekali.

"Tapi aku bisa apa, Kasih? Jahatkah aku saat aku dingin? Bukankah lebih jahat saat kucoba hangat? Kau hanya akan semakin meleleh.."

"Tapi.."

"Ada saat di mana rasa pahit itu tak selamanya buruk. Ada saat di mana kamu harus terus mengecapnya dengan lidah tak bertulangmu itu. Ada saat di mana kamu harus berakit dahulu untuk kemudian berenang ke tepian. Ada saat di mana, kamu harus berlari bolak-balik untuk kemudian air memancar dengan mudah."

"Lalu jamu?"

"Lalu jamu adalah salah satunya."

"Lalu kamu?"

"Lalu aku adalah jawabannya."

"Dan hidupku?"

"Dan hidupmu... biar Ia yang menunjukannya.."


---

I Tag You: Ken from Nisrul, "Jamu"

No comments:

Post a Comment