Thursday, February 25, 2016

Gerimis Cokelat


"Happy Valentine!" ujar seorang gadis sembari mengeluarkan benda berbentuk hati yang dibungkus kertas berwarna merah muda dari dalam tasnya.

Sedang lelaki itu. Sebaya dengan si gadis, hanya melirik sebentar untuk kemudian kembali menatap lurus ke depan. Tanpa ekspresi.

"Ini, cokelat untuk kamu, Kev," malu-malu ia menjulurkan cokelat itu ke hadapan sang pria. Namun, kembali hanya sebentar dilirik.

"Kev, ini!" Bibir bawahnya mulai digigit, takut-takut. Kevin-nya seperti enggan.

"Valentine? Cokelat?"

Gadis itu mengangguk, mulai berpikir untuk memasukkan cokelatnya kembali ke dalam tas.

"Sorry dan thanks, Vania, tapi gue enggak merayakan valentine, dan gue enggak suka cokelat!"

Setelah mengatakan itu, si lelaki berlalu dengan menghentikan mini-bus yang sedari tadi ditunggunya. Meninggalkan gadis tadi yang hanya ditemani cokelat di tangan, dan hati yang tak lagi ringan.

Gadis itu kecewa, kentara sekali terlukis dari garis wajahnya.

"Tapi, Kev, baru kali ini aku berani bicara dengan kamu. Baru kali ini aku berani untuk menyerahkan cokelat untuk kamu. Setelah... setelah tiga tahun ini..." lirihnya pilu, tetap terdengar olehku.
Cokelat dengan bungkus merah muda itu pun, tampaknya sama pilu dengan si empunya.

Dan aku ikut termenung. Cokelat. Co-ke-lat.

Langit mulai gelap, angin berembus semakin kencang. Kembali sepertinya hujan akan turun. Gadis cokelat itu beranjak pergi, setelah sejumlah air menetes dari pelupuk matanya. Ia berlari, menjauh dariku.

Kembali kutatap langit, ternyata benar.

Satu tetes. Dua tetes. Tiga, empat, dan seterusnya. Rintik hujan mulai turun. Gerimis. 'Mobil jemputan'-ku tiba, namun aku menolaknya. Tidak jadi aku pulang bersama dia, kuputuskan untuk melangkah beberapa kaki. Keluar dari kanopi halte, aku mulai menyusuri sisi jalan.

Hujan. Dan aku merasakan diriku mulai kebasahan.

Kembali kuingat adegan dua remaja tadi. Cokelat. Co-ke-lat.

***

"Coba tebak, Teteh bawa apa, hayoo?" Kakakku tiba, kepulangannya selalu menjadi momen yang menyenangkan bagiku.

"Wah, Teteh udah pulang! Teteh bawa apa emangnya?" Aku segera memburunya. Sebenarnya ia hanya pulang dari tempat kerja, yang mana hanya setiap dua minggu sekali.

"Taraaaa!" Sebuah benda berbentuk bulat seperti toples pipih, dengan bungkus berwarna hitam, tak lupa sebaris judul tampil dengan elegan, menandakan nama si benda tersebut.

"Aaaak... cokelat!" Maka, dengan segera, badai serotonin menghadangku.

"Tiga untuk Ibu, tiga untuk Ayah, tiga untuk Teh Rea, tiga lagi untuk Bang Rei, satu untuk aku, satu untuk aku, satu lagi untuk aku. Aha! Oh masih sisa dua, untuk siapa ya? Ah untuk aku juga!" Aku mulai membagi-bagi bongkah demi bongkah cokelat itu.

"Teteh enggak perlu. Kan Teteh beli untuk kamu..."

Sekejap rasa girang kembali membuncah.

"Kalau begitu, bagian Teteh untuk Ayah, ajaa..." tapi tiba-tiba Ayah berceletuk.

Aku manyun. Semua tertawa.

Lalu malam dihabiskan dengan memakan cokelat dan mendengarkan kakakku bercerita.

Aku tidak terlalu ambil pusing. Padahal, sesekali kakak perempuanku itu mengusap matanya. Kini fokusku adalah tujuh bongkah cokelat lagi yang belum habis dilumat. Ayah dan Ibu masing-masing mengunyah satu bongkah, Bang Rei dua. Teh Rea seperti katanya, tidak menaruh minat sedikit pun pada cokelat itu.

Aku mulai mabuk. Rasa manis ini berlebihan untukku. Tiba-tiba aku takut justru pahit yang kemudian akan aku rasakan.

Teh Rea menyudahi ceritanya, kembali mengusap air-mata. Mungkin ia hanya terlalu bahagia bisa kembali pulang.

"Sudah habis?" Tanyanya.

"Belum... hehehe... masih ada tiga. Teteh mau?"

Teh Rea mengangguk, mengambil satu dengan warna yang tergelap.

"Jangan hanya yang manis, sesekali kamu mesti rasakan yang pahit." Giginya terlihat cokelat dengan kunyahan itu.

"Kenapa?"

"Karena, tidak selamanya hidup itu manis, Sayang... kamu harus merasakan pahit juga, agar bisa menghargai yang manis..." itu Ibu yang menjawab. Dan aku bingung.

Fokusku hanya cokelat saat itu. Tidak lebih. Tidak muluk-muluk. Tapi, nasihat itu... begitu berarti dan selalu aku ingat.

***

Hujan ternyata hanya gerimis sepanjang kususuri jalan. Aku tiba di rumah.

"Coba, tebak, Anteh bawa apa, hayoo!" Dalam keadaan basah, aku segera memburu monster-monster kecilku.

"Anteeeeeeh.... bawa apaaaa?" Salma, tujuh tahun, segera memeluk kakiku, diikuti adiknya Ilma yang masih berusia empat tahun.

"Mau tahu?" Mereka mengangguk.

"Nih," aku menyodorkan pipi kananku, sebagai syarat sekaligus ritual yang biasa kami lakukan saat aku pulang. Kedua keponakan manisku segera tahu apa maksudku.

"Taraaaaaa! Ini dia! Satu untuk Salma, satu lagi untuk Ilma!" 

"Aaak... cokelat!"

"Cokelaat!"

Tidak sampai lima detik, cokelat di tanganku segera berpindah kepemilikan.

"Tapi ingat, kan, syarat makan cokelat?"

"Ingat, Anteh! Dua-dua-duaa..."

Aku tersenyum. Mereka ingat takarannya.

"Kalau ada yang pahit juga tetap dimakan, ya, Anteh?" 

"Iya, Ilma... Salma tahu kenapa?"

Salma mengangguk, "Karena hidup tidak selalu manis, kan, Anteh?"

"Seratus! Dan kita mesti terus melewatinya..." mereka kembali mengangguk. Senang sekali aku berhasil mendoktrin mereka. Hahaha.

Semoga kamu senang, ya, Teh... Semoga aku bisa menjaga mereka...

Bersama cokelat.



---
24 Februari 2016,
Di sebuah tempat, di mana cokelat masih menjadi primadona.

#IOCWP #cokelat

PS.
Duh, moga enggak begini ya di kehidupan nyata mah :'D ngeri, wkwk.
Dan, ehiya, bukan berarti tulisan ini mendukung sebuah tanggal yang 'itu' untuk 'itu' yaa.. *wkwk, auk amat*




No comments:

Post a Comment