"Happy Valentine!" ujar seorang gadis sembari mengeluarkan
benda berbentuk hati yang dibungkus kertas berwarna merah muda dari dalam tasnya.
Sedang lelaki itu. Sebaya dengan
si gadis, hanya melirik sebentar untuk kemudian kembali menatap lurus ke depan.
Tanpa ekspresi.
"Ini, cokelat untuk kamu,
Kev," malu-malu ia menjulurkan cokelat itu ke hadapan sang pria. Namun,
kembali hanya sebentar dilirik.
"Kev, ini!" Bibir
bawahnya mulai digigit, takut-takut. Kevin-nya seperti enggan.
"Valentine? Cokelat?"
Gadis itu mengangguk, mulai
berpikir untuk memasukkan cokelatnya kembali ke dalam tas.
"Sorry dan thanks, Vania,
tapi gue enggak merayakan valentine,
dan gue enggak suka cokelat!"
Setelah mengatakan itu, si lelaki
berlalu dengan menghentikan mini-bus yang sedari tadi ditunggunya. Meninggalkan
gadis tadi yang hanya ditemani cokelat di tangan, dan hati yang tak lagi
ringan.
Gadis itu kecewa, kentara sekali terlukis
dari garis wajahnya.
"Tapi, Kev, baru kali ini aku berani bicara dengan kamu. Baru kali
ini aku berani untuk menyerahkan cokelat untuk kamu. Setelah... setelah tiga
tahun ini..." lirihnya pilu, tetap terdengar olehku.
Cokelat dengan bungkus merah muda
itu pun, tampaknya sama pilu dengan si empunya.
Dan aku ikut termenung. Cokelat.
Co-ke-lat.
Langit mulai gelap, angin
berembus semakin kencang. Kembali sepertinya hujan akan turun. Gadis cokelat
itu beranjak pergi, setelah sejumlah air menetes dari pelupuk matanya. Ia berlari,
menjauh dariku.
Kembali kutatap langit, ternyata
benar.
Satu tetes. Dua tetes. Tiga,
empat, dan seterusnya. Rintik hujan mulai turun. Gerimis. 'Mobil jemputan'-ku
tiba, namun aku menolaknya. Tidak jadi aku pulang bersama dia, kuputuskan untuk
melangkah beberapa kaki. Keluar dari kanopi halte, aku mulai menyusuri sisi
jalan.
Hujan. Dan aku merasakan diriku
mulai kebasahan.
Kembali kuingat adegan dua remaja
tadi. Cokelat. Co-ke-lat.
***
"Coba tebak, Teteh bawa apa, hayoo?" Kakakku tiba,
kepulangannya selalu menjadi momen yang menyenangkan bagiku.
"Wah, Teteh udah pulang! Teteh bawa apa emangnya?" Aku segera
memburunya. Sebenarnya ia hanya pulang dari tempat kerja, yang mana hanya
setiap dua minggu sekali.
"Taraaaa!" Sebuah benda berbentuk bulat seperti toples pipih,
dengan bungkus berwarna hitam, tak lupa sebaris judul tampil dengan elegan,
menandakan nama si benda tersebut.
"Aaaak... cokelat!" Maka, dengan segera, badai serotonin menghadangku.
"Tiga untuk Ibu, tiga untuk Ayah, tiga untuk Teh Rea, tiga lagi
untuk Bang Rei, satu untuk aku, satu untuk aku, satu lagi untuk aku. Aha! Oh
masih sisa dua, untuk siapa ya? Ah untuk aku juga!" Aku mulai membagi-bagi
bongkah demi bongkah cokelat itu.
"Teteh enggak perlu. Kan Teteh beli untuk kamu..."
Sekejap rasa girang kembali membuncah.
"Kalau begitu, bagian Teteh untuk Ayah, ajaa..." tapi
tiba-tiba Ayah berceletuk.
Aku manyun. Semua tertawa.
Lalu malam dihabiskan dengan memakan cokelat dan mendengarkan kakakku
bercerita.
Aku tidak terlalu ambil pusing. Padahal, sesekali kakak perempuanku itu
mengusap matanya. Kini fokusku adalah tujuh bongkah cokelat lagi yang belum
habis dilumat. Ayah dan Ibu masing-masing mengunyah satu bongkah, Bang Rei dua.
Teh Rea seperti katanya, tidak menaruh minat sedikit pun pada cokelat itu.
Aku mulai mabuk. Rasa manis ini berlebihan untukku. Tiba-tiba aku takut
justru pahit yang kemudian akan aku rasakan.
Teh Rea menyudahi ceritanya, kembali mengusap air-mata. Mungkin ia hanya
terlalu bahagia bisa kembali pulang.
"Sudah habis?" Tanyanya.
"Belum... hehehe... masih ada tiga. Teteh mau?"
Teh Rea mengangguk, mengambil satu dengan warna yang tergelap.
"Jangan hanya yang manis, sesekali kamu mesti rasakan yang
pahit." Giginya terlihat cokelat dengan kunyahan itu.
"Kenapa?"
"Karena, tidak selamanya hidup itu manis, Sayang... kamu harus
merasakan pahit juga, agar bisa menghargai yang manis..." itu Ibu yang
menjawab. Dan aku bingung.
Fokusku hanya cokelat saat itu. Tidak lebih. Tidak muluk-muluk. Tapi,
nasihat itu... begitu berarti dan selalu aku ingat.
***
Hujan ternyata hanya gerimis
sepanjang kususuri jalan. Aku tiba di rumah.
"Coba, tebak, Anteh bawa
apa, hayoo!" Dalam keadaan basah, aku segera memburu monster-monster
kecilku.
"Anteeeeeeh.... bawa
apaaaa?" Salma, tujuh tahun, segera memeluk kakiku, diikuti adiknya Ilma
yang masih berusia empat tahun.
"Mau tahu?" Mereka
mengangguk.
"Nih," aku menyodorkan
pipi kananku, sebagai syarat sekaligus ritual yang biasa kami lakukan saat aku
pulang. Kedua keponakan manisku segera tahu apa maksudku.
"Taraaaaaa! Ini dia! Satu
untuk Salma, satu lagi untuk Ilma!"
"Aaak... cokelat!"
"Cokelaat!"
Tidak sampai lima detik, cokelat
di tanganku segera berpindah kepemilikan.
"Tapi ingat, kan, syarat
makan cokelat?"
"Ingat, Anteh!
Dua-dua-duaa..."
Aku tersenyum. Mereka ingat
takarannya.
"Kalau ada yang pahit juga
tetap dimakan, ya, Anteh?"
"Iya, Ilma... Salma tahu
kenapa?"
Salma mengangguk, "Karena
hidup tidak selalu manis, kan, Anteh?"
"Seratus! Dan kita mesti
terus melewatinya..." mereka kembali mengangguk. Senang sekali aku berhasil
mendoktrin mereka. Hahaha.
Semoga kamu senang, ya, Teh...
Semoga aku bisa menjaga mereka...
Bersama cokelat.
---
24 Februari 2016,
Di sebuah tempat, di mana cokelat
masih menjadi primadona.
#IOCWP #cokelat
PS.
Duh, moga enggak begini ya di kehidupan nyata mah :'D ngeri, wkwk.
Dan, ehiya, bukan berarti tulisan ini mendukung sebuah tanggal yang 'itu' untuk 'itu' yaa.. *wkwk, auk amat*
No comments:
Post a Comment