Aku tidak ada di barisan itu. Sejak awal memang aku tidak mau ada. Dan kini, aku merengut. Betapa... aku kembali iri!
Momen itu. Momen yang mereka banggakan. Dan aku hanya diam. Termenung, kesepian.
Aku kembali iri.
Aku kembali cemburu.
Aku kembali cemburu.
Sejatinya aku memang hanyalah makhluk sekadar. Tak pernah benar-benar. Kujalani saja dan kubuang. Lalu aku terdiam, merenung. Betapa bodohnya. Aku berlalu begitu saja.
Tidak. Tidak. Tidak sebenar begitu.
Hanya saja,
Aku terlambat. Menyadari. Betapa pentingnya.
Aku terlambat. Menyadari. Betapa pentingnya.
Hanya saja,
Aku terlalu asyik hinggap. Tanpa tahu bagaimana menetap.
Aku terlalu asyik hinggap. Tanpa tahu bagaimana menetap.
Lagi, ku hanya diam. Memerhatikan.
Betapa bahagianya mereka. Betapa asyiknya. Betapa menyenangkannya.
Sedang aku hanya yang datang di kemudian hari. Mencoba membuat satu-dua kisah dalam hati. Berusaha mengejar, namun, kusadar diri. Aku bukan siapa-siapa... tak seberapa berarti.
Aku hanyalah yang baru, mencoba mengimbangi. Tapi nyatanya, berlari itu cukup melelahkan. Terlalu banyak sandungan.
Dan lalu aku hanya bisa menatap. Setiap ingatan yang begitu lekat. Nyatanya di sana tanpaku. Tanpaku. Maka aku hanya menjadi bayangan...
Di sebuah sudut, dengan tersenyum senang. Cukup di sini posisiku.
Perih, namun sepertinya mereka bahagia sekali.
Ya, semoga kelak, akan ada satu-dua yang bisa aku buat. Bersama kamu, dan hujan.
Kenangan.
---
Ini lebay sumfeh -,-
Ini lebay sumfeh -,-
No comments:
Post a Comment