Saya kembali tersadarkan. Bahwa, betapa sombongnya saya. Bahwa, betapa dangkalnya pemahaman saya. Dengan membaca. Ya, dengan membaca, sedikit banyak saya tersadarkan. Sekalipun (sekadar) membaca pesan-pesan obrolan teman. Namun, seperti... ada anak panah melayang, dan tepat mengenai saya. Sakit.
Saya pikir saya sudah cukup baik, cukup berbudi, cukup shalihah, cukup terlihat cerdas dari apa yang saya kenakan. Berpakaian dengan merujuk pada ayat-ayat-Nya, lalu saya mulai mengangkat dagu.
"Oh, betapa shalihahnya!"
Melirik ke kanan dan kiri, "Siapa mereka? Pasti orang-orang akan lebih memandangku! Hahaha...."
Begitulah.
Namun nyatanya, saya tertampar. Lagi dan lagi. Sebenarnya sejak dulu. Ah, apalagi kini. Ibarat kedalaman lautan, semata kaki air di pantai saja rasanya jauh.
Apalah?
Ya, saya butuh sekali belajar. Bimbingan. Semua itu. Saya selalu ingin menjadi cerdas dan mencerdaskan. Itu, cita-cita saya.
Saya bersyukur sekali rasanya. Ah, bahkan saat menyadari itu, hampir selalu saya menahan napas. Beruntung sekali...
Beruntung sekali saya dipertemukan dengan orang-orang seperti mereka. Saya senang sekali berdiskusi, meski sebenarnya menjadi penonton saja. Ilmunya. Ilmu mereka itu. Seakan-akan ada asupan nutrisi menyusup dalam nadi. Hahaha...
Kenyang sekali rasanya. Seperti sedang menyantap makanan.
Otak saya. Hati saya. Ah, ruh saya. Kenyang. Lalu lapar lagi, dan lagi. Semakin diisi, semakin kenyang yang melaparkan.
Dan dari sana,
Saya masih tertampar!
Betapa...
Malunya seorang saya.
Sejauh ini saya sering berlindung dibalik angka sembilan belas. Berlindung dibalik "masih muda".
Tapi, hei!
Lama-lama saya bosan dengan pemakluman. Itu seperti mengajak pada zona nyaman yang lambat-laut akan melumpuhkan.
Lumpuh! Saya lumpuh! Akan lumpuh, atas kenyamanan dan pemakluman.
Aaaaaaaks...
Saya mesti memutar kemudi, memakai kacamata warna-warni.
Saya...
Saya...
Saya iri sekali dengan semangat mereka.
Saya...
Saya...
Saya ingin menjadi yang dipilih Sang Semangat!
Maka, Cahaya...
Tolong... bantulah saya... pilihlah saya...
Menjadi makhluk,
Dengan semangat lebih dari semangkuk!
---
17 Februari 2016
Kenti Lestari
No comments:
Post a Comment