Mataku sudah rapuh. Tanganku sudah bergemuruh.
Baiklah, aku hanya mencoba mencari padanan kata yang pas agar terkesan berima.
Dan benar, mata ini tak sekuat tak setajam mereka. Tangan ini pun mulai bergetar, resah. Jangan tanyakan soal hati, ini lebih sering terasa sakit.
Seharusnya aku segera tidur, menyiapkan untuk esok hari. Namun, aku butuh menulis. Selain menangis dan berdoa, aku butuh menulis.
Lelah sekali, Tuhaan..
Rasanya aku hanya ingin menghebatkan diriku sendiri saja. Berhenti dan maju hanya untuk sendiri di sini.
Aku jahat, Tuhaan..
Aku jahat sekali beberapa hari ini. Tak terhitung berapa kilogram bangkai saudaraku yang aku makan sendiri.
Maka aku hanya bisa menangis sembari bingung. Sisi mana yang sebenarnya aku pegang?
Mengapa sulit kuungkapkan? Mengapa lagi-lagi aku berada di tengah-tengah?
Dan, ah! Rasanya aku mulai enggan dengan tanggung jawab yang akan segera kupikul ini. Aku ingin jadi yang biasa saja. Aku hanya ingin jujur mengungkapkan tanpa takut.
Apakah memang aku telah sejahat itu? Tak sepaham itu?
Oh, Tuhan..
Maka, lagi-lagi aku hanya merindu-Mu. Rindu setiap pelukkan-Mu.
Maafkan aku, Tuhaan..
---
19012016
No comments:
Post a Comment