Hidup memang penuh lika-liku. Ada suka, ada duka. Tapi kali ini sepertinya hidupku akan melulu suka. Bagaimana tidak? Akhir pekan ini aku akan bertemu kawan-kawanku! Ah, ini bukan sekadar kawan, bukan sekadar pertemuan. Biasanya, kami hanya 'bertemu' via media sosial. Mengobrol ini dan itu melalui sebuah aplikasi pada ponsel pintar. Tapi akhir pekan nanti, akhirnya semua akan jadi nyata.
Ya, aku sudah tidak sabar bertemu dengan mereka. Terutama.. terutama.. dengan dia..
***
H-2
Tring!
Ponselku berbunyi, sebuah notifikasi muncul di layarnya. Aku ogah-ogahan meraih ponsel yang tengah diisi daya itu. Namun saat kulihat siapa yang mengirim pesan, kurasakan sepertinya bibirku melengkung ke atas.
Zul, lu ikut gath, kan?
--21:33
Kalo ikut, konfirmasi, ya, biar jelas berapa boks yang mesti gue pesen, thanks.
--21:33
Aku menahan napas saat hendak membaca pesan itu.
Ooh, Rima menanyakan itu ternyata.
Iya, Rim. Gue dateng, kok
--21:34
Send. Centang dua biru.
Satu menit. Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit. Dia tidak membalas lagi.
"Yaah.. bales lagi kek, Rim! Nanya apa gitu ke gue basa-basi," gumamku berlalu meninggalkan ponsel sendiri.
Tring!
Oke, sampe ketemu. Janlup pesenan anime gue, ya, hahaha..
--23:13
***
Hari H.
Aku deg-deg-an. Setidaknya begitulah kata orang saat hari H.
Hari H?
Aku tergesa-gesa menuju sebuah tempat, yang kuyakini menjadi tempat pertemuan kami para anggota komunitas.
"Sialan! Gara-gara lupa nyimpen hape, gue jadi telat, deh!"
Akhirnya aku tiba. Di tempat ini ada beberapa kelompok, aku bingung yang mana kelompokku.
Tiba-tiba sebuah tangan melambai.
Aku memiringkan kepala sembari mata disipitkan. Seperti kenal.
Dan ia yang mendatangiku,
"Zul, kan?" Itu suara pria aku tahu.
"Eh, hahaha, lu Boim, ya?" Aku tersenyum ramah.
"Yuk ke sana!" Aku mengangguk, mengekori Boim.
Dari tujuh-puluhan anggota, hanya ada lima belas yang hadir, dan itu masih di satu region. Grup di komunitas kami memang baru terbentuk tiga bulan yang lalu, dan ini adalah pertemuan pertama. Beberapa teman, sudah aku kenal wajahnya, namun ada juga yang tidak, sekalipun sudah beberapa yang jadi korban penguntitan, aku tak dapatkan hasil seperti apa wajah beberapa orang itu.
Termasuk Rima.
Di mana-mana ia hanya memasang gambar bunga mawar hitam. Setidaknya di berbagai media sosial yang aku tahu. Dan sayangnya, ia tidak memiliki akun yang khusus sebagai album foto. Alhasil, selama tiga bulan aku hanya dapat menerka-nerka, tapi kali ini, aku akan temukan jawabannya.
Aku rasa ia memiliki wajah yang cantik. Sebanding dengan sikap dan suaranya selama ini. Yang lagi-lagi hanya aku tahu melalui aplikasi mengobrol gratis.
"Rima udah dateng, Im?" Entah kenapa perjalanan menuju kawanan itu seakan lama.
"Udah, tapi dia lagi urus konsumsi dulu," jawab Boim singkat diiringi "oh" pelanku.
Dan ramailah pertemuan itu. Tujuh wanita, dan lima pria. Beberapa sangat terlihat cerewet. Apalagi si dua serangkai Rina-Rini, yang di dunia maya pun memang begitu.
"Rim, ternyata lu seperti ini, hahaha," aku mencubit pipi tembemnya, gemas.
Rima tertawa, "Lu pikir gue kayak gimana, ha? Artis Korea? Gue lebih mirip OSD kali, apalagi cantiknya! Hahaha," aku rasakan iris mataku mengarah ke atas dengan bibir tertarik ke sisi kiri, kemudian ikutan tergelak.
"Jadi, menurut lu, gimana?"
"Apanya?"
"Ya dialah.. yang sering kita gosipin.. hahaha,"
Aku tersenyum. Melirik ke seberang. Memperhatikan. Di sana ada dia, tengah tertawa berbincang dengan yang lain. Wajahnya bagai pohon beringin di tengah cuaca terik, bikin teduh.
"Udah ngobrol apa aja?" Rima kembali iseng, mencolek lenganku.
"Cuma sedikit," aku buru-buru memindahkan pandanganku ke bawah dari orang di seberang itu. Sepertinya ia sadar tengah aku perhatikan, buktinya...
"Eh, Zul..." Aku mengangkat wajahku, gelagalapan, dan Rima mulai cekikikan.
"Entar gue mau ngomong, ya!" Oh Tuhan, detik itu juga deg-deg-an-ku semakin menjadi-jadi.
"Ngomong apa, Im?"
"Masa depan kitalah!"
Jantungku seakan mau copot.
"Maksud gue, komunitas ini..." sebelum jantung ini beneran copot, Boim segera memperjelas ucapannya sembari nyengir kuda. Rasanya ia tahu apa yang sedang aku pikirkan.
"Ciee Zulaikha.. ge-er, niee.." dan si jahil Rima langsung menutup mulutnya yang penuh tawa itu, badannya refleks menjauh saat kutoyor.
"Rese, dasar!" Aku kembali menunduk, aku benci melihat cermin saat ini, pasti mukaku merah memalukan.
---
#MalamNarasiOWOP
No comments:
Post a Comment