Hari ini, sebuah hari dengan tujuh belas sebagai hitungan. Bulan satu, di tahun yang berbeda, dua ribu enam belas.
Kau sudah satu tahun.
Pergi.
Berpindah.
Oh, ya ampun, aku tak ingin mengatakan kau "pergi," kau hanya berpindah.
Di hari itu. Pertama kalinya sebuah bendera kepastian pertamaku. Di mana selama ini hanya aku bayangkan dalam berbagai acara malam sebuah seminar atau pelatihan. Sebelumnya memang pernah, sebelum berbagai seminar itu. Maka di hari itu, aku rasakan seluruhnya. Sebuah perasaan, di mana air dari mata tak lagi sanggup menderas. Di mana seluruh tulang seakan melunak. Di mana hati, seakan tercabik-cabik.
Maka, hanya Tuhan, tempat aku kembali. Atas seluruh perasaan ini.
Hanya delapan belas tahun kebersamaan kita. Kau tak sempat meneruskan apa yang menjadi cita-cita.
Kau bermimpi. Kau bermimpi.
Kau inginkan aku menjadi seorang raja, di suatu hari nanti. Setidaknya itulah hiburan padaku yang kau beri, atas arti nama ini.
Maka, bila memang posisi raja adalah yang pertama, yang utama, yang berkuasa. Meski perempuan, raja tetaplah raja. Bukan ratu.
Aku dapatkan arti soal ini dari sebuah buku, kau tahu? Bila memang posisi ratu adalah yang kedua, baiklah, biar aku menjadi raja. Seperti harapmu itu.
Entah kelak bagaimana. Entah raja yang seperti apa. Kucoba tangguhkan diri ini atas mahkota itu.
Bukan. Sebenarnya bukan. Jabatan? Takhta? Siapa mereka?
Kemarin mereka bilang, ditilik dari tanggal lahir yang mengacu pada sidik jari, aku adalah tipikal yang mengelu-elukan takhta. Ah bukan hanya aku, tapi satu golongan bersamaku.
Maka takhta, bila memang dengan itu bisa kurengkuh dunia, baiklah takhta. Tak hanya dunia, namun juga surga. Baiklah, bukan soal surga, tapi ridho-Nya.
Bukan. Sekali lagi bukan. Kucoba tenangkan, aku bukanlah si pemuja posisi. Meski ada yang bilang, dengan posisi bisa mengisi.
Mengisi? Tentulah mengisi spasi dengan banyak kebaikan hati.
Kata mereka, masuk dan kuasai! Maka dengan begitu, perlahan biji kebaikan akan menjalari.
Karena memang, yang berkuasa yang membuat sejarah.
Karena memang, yang bertakhta yang disapa.
Kalau memang dengan kekuasaan bisa menyebar kebaikan.
Sekali lagi, kalau memang dengan kekuasaan bisa menyebar kebaikan.
Jadilah raja! Jadilah seorang pemimpin yang tak jumawa! Sejati.
Majulah atas nama kebenaran. Kejujuran. Kebaikan. Enyahkan seluruh impian setan.
Majulah. Ambil seperlunya. Bagi sebanyaknya. Maka kau akan menang. Tersenyum, dan pulang dengan tenang.
Itulah, mungkin isi nasihat seorang ayah pada anaknya, yang ia titip pada sebuah nama.
Maka, Ayah. Tenanglah dirimu di sana..
Kan kucoba raih segala cita.
Dengan cintamu, cinta mereka, tentu juga cinta-Nya.
Kan kucoba raih segala cita.
Dengan cintamu, cinta mereka, tentu juga cinta-Nya.
Maka, Ayah. Kucoba 'kan menjadi raja.
Setidaknya, bagi diriku, dan di sebuah tempat,
Di dasar hatinya. Dia yang entah siapa. Yang tak sempat kau sapa dan tanya.
Maka, Ayah...
Tersenyumlah kau di sana...
---
Depok, 17 Januari 2016
Di sebuah tempat, sebagai bahan untuk bercerita,
Depok, 17 Januari 2016
Di sebuah tempat, sebagai bahan untuk bercerita,
Kenti Lestari.
No comments:
Post a Comment