Sunday, January 17, 2016

Iya dan Tidak

Sudah terlalu sering aku dibohongi. Sudah terlalu banyak aku dipermainkan. Mungkin baginya, aku hanyalah seorang yang dikenal, untuk kemudian dimanfaatkan.

Dimanfaatkan? Apa yang salah?

Pertemanan. Bukankah memang sebagai ladang manfaat?

Untuk apa berteman bila hanya membawa mudharat?
Maka, hanya sebuah kata yang pada akhirnya aku luncurkan. "Iya". Sulit sekali rasanya sebuah "tidak" bisa meluncur deras.

Maka, bukan hanya dalam pertemanan. Pun soal atas dan bawahan. "Iya," ucapku lagi.
Berkali-kali kulatih diri untuk "tidak". Namun akhirnya aku tak enak. Tak biasa.

Omong kosong! Kau menyiksa dirimu sendiri.

Kau pandai untuk "tidak" pada mereka, namun, selalu "iya" pada yang lain.
Kau berhak mengatakan. Kau berhak memutuskan. Ini hidupmu!

Maka pada akhirnya, hanya sebuah tangislah atas seluruh rasa omong kosongmu itu.
Tidak selamanya. Tidak selamanya "iya".

Terkadang, akan ada "tidak" untuk yang lebih baik. Akan ada "tidak" untuk kebenaran. Akan ada "tidak" untuk kebaikan. Akan ada "tidak". Untuk sebuah jawaban.


---

17012016, Kenti Lestari

No comments:

Post a Comment