Aku ingin pergi...
Melanglangbuana entah ke mana. Ke suatu tempat di dasar sana. Mungkin, seperti Alice yang memasuki lubang kelinci. Tiba di ujung bumi di belahan lain. Ah! Ternyata aku berada di negeri kiwi!
Dan aku berjalan... terus berjalan...
Melewati selongsong kehidupan...
Mencari cara agar kutetap bisa makan...
Aku bermimpi!
Menyusuri tiap tanah bermandikan daun mapple kering. Duduk di bawah guguran sakura kuning.
Dan aku bermimpi!
Membuat sebuah boneka bernama Olaf, si salju berbentuk, berhidung wortel.
Mengarungi ombak bersama kapal laut Laksamana Cheng Ho.
Memasuki pulau tak berpenghuni. Menemukan sembilan pedang bertumpuk rapi.
Dan aku kembali!
Pada sebuah tempat dengan segala keindahan..
Menyelami lautan, mengunjungi ikan.
Dan ada karang. Pun bintang laut yang memang tak bersinar. Buaya-buaya putih itu! Perlahan mereka menjelma menjadi dedayang cantik! Menarik mereka yang berbaju hijau.
"Tak kubiarkan seseorang menyamaiku!" Begitu kata sang ratu. Selendang suteranya ia kibaskan. Dan jadilah mereka jelmaan.
Kini kuberlari di atas Sahara. Menemui unta yang tengah meminum airnya. Menyaksikan kaktus yang katanya bisa berbunga. Dan, pasir di padang pasir... takkan ada yang mencari saat satu dari mereka menghilang.. ini hasil kutipan...
Hingga tiba pada tengah malam. Jam dinding berdentang dua belas kali. Aku terhempas pada sebuah bangku empuk. Ada berbagai gorengan di atas piring beling. Seteko teh hangat dan gelas-gelas yang kurasa terbuat dari keramik. Diiringi lautan itu!
Mereka berbaris gagah! Menjulang tinggi. Melebar ke kanan dan kiri Menutupi pandangan ini.
Tersusun rapi berdasar abjad, warna, ukuran, pembuat, pencetak, dan... ah, pengedar!
Maka aku memilih satu, dari mereka. Kusenyum-senyum sendiri tiap melewati. Kutiup debu yang terparkir rapi. Dan aku bahagia. Ini nyataku!
Dan bila ternyata itu adalah kamu...
Maka, biar tak sembarang kuberi kau. Cukup satu pelabuhanmu. Cukup aku yang membacamu. Karena kamu... bahagiaku.
Hey, ini nyataku!
---
06012016, Kenti Lestari
Masih di tempat yang sama,
Di mana perlahan, aku takut akan impian..
Mungkinkah itu berarti benar? Tunggu waktu sebagai jawaban...
No comments:
Post a Comment