Sunday, November 08, 2015

Bersama Hujan, Malam, dan Kenangan

Sore ini hujan. Sangat lebat. Di kotaku memang sudah mulai memasuki musim hujan. Irama rintikannya begitu menyenangkan dan membawaku pada aroma tanah basah yang menyegarkan. Kata orang, hujan itu hanya berisikan satu persen air. Lalu bagaimana dengan yang sembilan puluh sembilan persen lagi?

Mereka bilang, itu berisi kenangan.

Maka dengan asumsi seperti itu, aku beranikan diri untuk duduk di samping jendela ruang tamuku. Menyiapkan secangkir teh hangat dan makanan ringan yang sama hangatnya. Tak lupa sebuah buku aku genggam, hanya sebagai pegangan saja. Setelah menyeruput teh dan menggigit camilan, aku memandang ke luar jendela, melihat tetes demi tetes itu jatuh, dan benarlah, tanpa perlu mesin waktu, aku berhasil kembali ke saat yang lalu.

***

Saat itu sedang hujan. Sama derasnya seperti sore ini. Tapi di sana malam. Dingin dan menyayat hati. Atas nama tanggung jawab, aku putuskan ke luar kamar kosku di tengah udara yang menggigilkan itu. Kuraih payung di tempat penyimpanan, kurapatkan jaket dan aku berlalu menuju kedai makanan.

Seharian itu aku cukup sibuk di kamar mengerjakan ini dan itu. Tak sempat memikirkan cacing-cacing dalam perut yang sudah kepayahan dalam konser mereka. Maka saat hampir tengah malam, ketika beranjak untuk tidur, rasa lapar dan dingin cukup membuatku menjauh dari ranjang. Meninggalkan dan mulai menyisir sisi jalan raya.

Adalah sebuah kedai sederhana dengan nuansa spanduk berwarna jingga yang kulihat masih siap sedia melayani. Sebenarnya wajar saja sudah tengah malam dan hujan begini mereka masih membuka. Karena biasanya di jam seperti ini kedai mereka laris-manis. Menyajikan kopi atau teh hangat bersama kudapan, juga mie instan siap saji dan sejenisnya. Tapi kali ini aku hanya melihat dua orang lelaki di sana yang asyik tenggelam dalam dunia masing-masing. Satu tertawa-tawa dengan ponsel canggihnya, dan yang lain tengah tertidur sambil duduk dengan kepala di atas meja.

"Pak, pesan teh hangat dan mie instan kuah, ya!" Aku mulai memesan dan duduk di kursi yang menghadap ke jalan raya.

Sambil menunggu, kucoba meraih ponsel dalam saku celana. Tapi, ah! Aku tidak membawanya. Baiklah, aku melihat-lihat sekeliling saja. Kuperhatikan lelaki yang tadi asyik dengan ponselnya itu sudah bersiap-siap untuk pergi. Hujan sudah tak sederas sebelumnya memang. Setelah membayar makanan yang tadi dipesan, ia membangunkan lelaki yang tertidur di sampingnya. Ah, rupanya itu rekannya. Jelas sekali wajah terganggu lelaki itu ketika terbangun. Setelah beberapa menit, mereka pun pergi. Kini tinggal aku ditemani seorang bapak-bapak pelayan yang sedang memasak mieku dan seorang pemuda yang sudah selesai mengaduk gula dalam teh pesananku.

Kualihkan pandangan ke luar kedai. Kendaraan masih lalu-lalang. Satu-dua orang asyik menyusuri jalan. Mungkin baru saja pulang bekerja, atau sama sepertiku yang kelaparan. Aku alihkan pandangan ke sisi lain. Sepi. Tapi, eh? Aku menangkap seorang gadis tengah duduk memeluk lutut mengenyampingkan jalan raya di sebuah halte bus di seberang jalan, sendirian. Pandangannya kosong ke depan. Rambut dan bajunya terlihat basah. Mungkinkah ia baru pulang bekerja atau apalah tanpa membawa payung? Lalu menunggu angkutan umum? Tapi caranya yang menunggu angkutan umum dwngan posisi seperti itu amat ganjil. Aku tidak tahu mengapa, dan aku terus memerhatikannya.

Hujan memang belum reda. Tetes-tetes langit itu masih setia jatuh pada tanah, bersama angin yang dingin, mereka melecut siapa saja untuk menggigil. Termasuk aku, dan... gadis itu. Ia kedinginan, menggigil. Mendadak ia melepas pelukan lututnya, mulai berdiri dan melangkah. Perlahan tangan kanannya dijulurkan ke depan, melewati batas kering yang diciptakan atap. Satu-dua tetes mulai menyentuh telapak tangan. Semburat senyum tipis lalu menghiasi wajahnya, manis. Ia masih asyik disentuh tetes-tetes langit itu, kini dengan kedua telapak tangannya.

Kemudian ia mendongakkan kepalanya menghadap langit, seperti tengah bercakap-cakap penuh harap pada sang pemilik langit, dan senyum manisnya, senyum itu menular padaku.

"Mas? Mas?"

Aku masih memandang sosok itu.

"Mas? Mas!" Aku terkejut, bahuku ditepuk.

"Eh iya kenapa, Pak?" Ternyata si bapak pelayan, ah mengejutkan saja.

"Itu mienya sudah jadi, tapi saya lupa bertanya, mau pakai keju atau tidak?"

"Keju? Eh, iya iya boleh, silahkan." Aku buru-buru menjawab, si bapak itu pun mengangguk dan berlalu.

Saat aku menolehkan pandangan ke arah sosok gadis tadi, hanya halte bus yang sepi dengan sisa botol kemasan di kursi tunggunya.

"Ah, kemana gadis itu?" Aku bingung, dan mencari-cari sosok itu beberapa saat. Baru sebentar saja, bagaimana bisa ia menghilang?

"Pak, apa tadi kau melihat gadis di seberang sana?" Aku bertanya penasaran dengan si bapak pelayan yang kini mengantar mie instanku dengan taburan keju.

"Gadis? Di seberang sana? Ah, aku tidak lihat," dengan senyum dikembangkan, Pak pelayan beranjak kembali

"Benar kau tidak lihat?" Aku masih penasaran dan menghentikan langkahnya.

Ia kembali tersenyum, "sebenarnya, bukan hanya kau yang pernah bertanya begitu, Nak! Lupakan saja, itu sudah biasa. Silahkan dimakan mie instanmu, nanti dingin" dan ia benar-benar berlalu.

Sudah biasa? Maksudnya?

Seperti ada angin lewat, lalu aku mengusap tengkukku, merinding.

Yang benar saja? Memang ganjil sekali ada seorang gadis ditengah malam seperti ini sendirian di halte. Apalagi dengan sikap ganjilnya itu. Sebenarnya aku tidak sepenakut itu, tapi entah mengapa aku bergidik, dan memutuskan memakan mieku saja. Tapi kemudian secara tiba-tiba..

"Pak, aku pesan yang sama dengan orang ini!"

Suara datar seorang gadis mengejutkan. Dengan mie yang masih terjulur, aku mendongakkan kepala.

Gadis itu!

***

Hujan sudah reda, meredakan kenangan yang aneh itu. Aku hanya tersenyum kala mengingatnya. Kini teh hangatku sudah habis, makanan ringanku tak sehangat tadi.

---

08/11/2015
Kebalikan dari tanggal lahirku. Ah, aku bingung dengan cerita ini xD mengapa jadi seperti ini x'D sepertinya terinspirasi dari cerpen Julia Puji dalam blognya yang aku baca tadi pagi :D

Selamat menikmati hujan dengan kudapan :)

No comments:

Post a Comment