[Share Last Book You Read]
Hei teman-teman! Gue, Kenti Lestari mau share nih buku terakhir yang gue baca.
Judul : SUPERNOVA (1) Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh.
Penulis : Dewi Lestari a.k.a Dee
Genre : Fiksi Ilmiah (kali yes)
Jumlah halaman : 322 hlm.
Terakhir dibaca tanggal : Emm.. Oktober lalu, lupa tepatnya, hahaha.
Penerbit : Bentang Pustaka
Review singkat :
Gue ditawari baca buku ini pas jaman masih SMU (kesannya udah jaman dulu banget yak hahaha). Ditawari seorang temen nekat bareng, dan respon gue apa? "Cih, buku apaan nih?!" dengan nada sombong ngeremehin, wkwk. Tapi yang biasanya gue remehin, justeru bikin gue malu. Bener juga ya? Benci awal cinta *eaa*. Kagak benci juga sih. Ah pokoknya buku ini adalah salah satu buku yang gue tuh judge by the cover and the author banget deh. Sampai akhirnya gue disuguhi buku ini lagi dengan kawan yang sama hahaha, karena gue udah pernah mencium bau tak wajar dari buku ini, jadilah gue baca,
Jeng jeng!
Bab 1. Gila! Ini buku apaan?
Bab 2. Parah! Kudu kursus fisika dulu ini mah
Bab 3. Waduh! Mereka itu antonimnya hetero?
Bab 4. Tapi ini buku kok keren yak?!
Bab 5. Nagih.
Bab 6. Gue kecanduan, Oy!
Bab 7. It's what I need!
Bab 8, 9, 10 sampai cover belakang gue lumat habis-habis itu naskah.
Waw, ternyata Dee keren banget! Jadi teringat baca Golden Bird-nya Luna Torashingu.
Jadi cerita singkatnya sih, ada cerita di dalam cerita gitu. Soal dua lelaki yang saling 'mengasihi' merencanakan sebuah misi besar. Setelah sepuluh tahun sejak badai serotonin melanda otak mereka, akhirnya diputuskan untuk membuat cerita fiksi dengan kerangka ilmiah(?)
Ini kisah soal hidup. Bagaimana ternyata hidup itu amat lucu. Penuh paradoks. Di mana yang ada hanyalah ADA. Di mana yang pasti adalah ketidakpastian. Di mana Tuhan amat tidak romantis! Di mana bukan, "aku berpikir maka aku ada!" Melainkan, "aku memilih maka aku ada!".
Re dan Rana saling menyukai. Namun ada tembok tebal yang memisahkan mereka. Urusan "apa kata orang nanti?" dan demi nilai kehormatan cukup mengungkung mereka dalam sangkar tanpa pintu.
Adalah Supernova, (yang sok-sok-an menjadi) sang penjawab (beneran) pertanyaan-pertanyaan konyol manusia. Teman bermain di sebuah 'taman kanak-kanak' maya.
Dimas beserta Reuben yang diiringi ampas kopi pahitnya, berhasil menjadikan sang bintang jatuh, tak sejahat dalam dongeng Re. Bintang jatuh itu bukan musuh ksatria dalam mendapatkan putri, melainkan sebuah lukisan indah yang bersahabat. Ia adalah salah satu fenomena dalam kehidupan yang penuh paradoks ini.
Gue pikir novel ini jauh dari bau-bau nilai rohani. Tanpa selipan agenda beribadah harian. Tapi ternyata ngga. Emang ngga rohani banget sih, tapi seengganya ada (halah apa sih).
Novel ini padat banget oleh teori yang belum gue paham. Tapi juga ngena banget! Berhasil membuat gue berminggu-minggu dihantui oleh kutipan-kutipan tersiratnya. Semisal,
"Tak ada cara untuk percaya selain dengan belajar percaya."
"Saat kau mencintai orang lain, sebenarnya itu adalah wujud dari mencintai diri sendiri."
"Apa artinya ini semua? Apa artinya aku di sini?"
Dan segudang lainnya, yang terkadang beda rasa tiap hati. Meski ada beberapa adegan yang mesti disensor kalau difilmkan (kayak di novel 5 cm tuh) tapi dari situ gue belajar, soal menulis dan soal hidup.
Apik banget kan si Mba Dee ini? Kayak Kang Abik dalam Bumi Cinta-nya. Mereka sama-sama oke banget dalam menggambarkan tokoh yang kesannya tabu kalau diceritain (gue bingung sih asli ini jelasinnya). Intinya Dee ngga takut dapat citra negatif dari hasil tulisannya yang penuh sensor itu. Justeru dengan begitu, ia berhasil membuat tulisan menjadi hidup sehidup-hidupnya (oke gue mulai lebay). Dee juga seperti yang sudah ke sana ke mari, ketahuan banget serius nulisnya, menjadikan sekali lempar, langsung dimakan umpannya. Kerenlah Dee! Jadi nagih untuk baca karyanya yang lain. Emang begini seharus nya penulis dan menulis!
Kalau soal hidup, bersama sang Supernova bukan soal solusi, melainkan ini diskusi. Mengantarkan pada keputusan tervalid hati. Menyelami untuk apa aku di sini *eaa*
Minus dari buku ini sih satu yang gue rasa, gue belum cukup paham dengan apa itu teori relativitas, fisika kuantum, chaos, momentum, bifurkasi, dan kerabatnya. Tapi gue berusaha janji, gue akan coba memelajarinya demi hidup yang lebih oke :)
Pesan dari buku secara keseluruhan :
Sejatinya kehidupan hanyalah soal potongan-potongan keramik. Terkadang kita kelimpungan mencari sesuatu yang terasa hilang dalam hati dan diri. Tapi nyatanya, segalanya ada pada dirimu. Kau hanya perlu melihat lebih dalam. Memakai kacamata, dan mulai menentukan ke arah mana kenop akan diputar.
Kita adalah pengamat dan penikmat dalam hidup, bukan hakim!
Maka lepaskanlah demi sang keutuhan!
---
Nah itu, buku yang terakhir gue baca. Sorry kebanyakan mujinya. Habis, kalau gue udah suka, ya udah, gitu aja, entar juga bosen sendiri sih hahaha. Maaf juga reviewnya sok gawl, wkwk.
Kalau kamu?
No comments:
Post a Comment