Lagi-lagi aku membuka aplikasi mengobrolku untuk melihat nama itu dan tampilan fotonya. Ada yang aneh. Seperti senang melakukannya.
Lama kupandangi, aku mulai memuji.
Ah, setan! Kau pandai sekali menggoda hati.
Kututup tampilan foto itu, lalu beranjak pada obrolan kelompok.
"Dia ada di sana!" Batinku melonjak girang. Entahlah, meski ia mengajak bicara yang lain, senang saja melihatnya muncul ketimbang hanya sebagai bayangan. Mulailah aku memainkan peran, mencoba mengarungi arus percakapan.
Berhasil! Ia 'melihatku' dan berkomentar atas argumenku.
Esoknya aku disibukkan dengan berbagai hal, dan..
Tring!
Ponselku melonceng. Memberi tanda ada pesan masuk melalui aplikasi obrolan.
Saat kulihat siapa dalangnya,
WAW!
"Ini darinya!"
Aku tahu aku tersenyum manis sekali.
Lama kubaca pesan itu, diulang-ulang, dinalar lagi, memilah kalimat terbaik lalu,
Send.
Pesan balasan itu terkirim.
Namun tahukah? Terkadang aku merasa bodoh. Amat bodoh! Yang benar saja, aku bisa membalas pesannya dalam hitungan detik, menunggu dengan sabar kapan ia akan membalas pesanku yang memang sepertinya butuh waktu berjam-berjam untuknya membalas. Berkali-kali menghentikan pekerjaan penting, hanya untuk melihat ponsel, "hei, mengapa tak langsung kau balas pesanku? Sesibuk itukah?"
Kesal. Sedih. Bingung. Mengutuk diri. Ya, aku tahu aku tak berhak marah.
Dan aku tetap saja berteriak girang saat namanya muncul sebagai pemberitahuan di ponsel. Meski begitu, aku tak langsung membalas. Kutunggu satu hingga tiga menit, ah ya lima menit terasa satu abad bagiku. Aku membalasnya dengan menahan senyumku, agar tak tercetak dalam tulisan itu, berusaha normal, namun aku tahu itu tetap aneh.
Dan suatu waktu, berlanjutlah obrolan itu hingga larut. Membahas apa saja dengan topeng prinsip "ini bahasan penting, ini ilmu."
Ah, dusta! Aku hanya berpura-pura.
Bohong! Itu hanya alat modus.
Setanpun semakin girang. Berhasillah ia. Entah dengan obrolan sepanjang malam itu, atau atas harapan bodoh pesan yang ingin dibalas. Sama saja. Entah terhadap seseorang yang sama ingin 'bermain' atau terhadap ia yang terlihat diam.
Berhasillah setan. Berhasillah aku membuatnya bahagia. Mungkin aku temannya.
Dan saat hati seakan terketuk, aku sadar bahwa berdua bukan selalu secara langsung.
Aku sadar, tak hanya saat raga bersama setan menjadi yang ketiga.
Aku sadar, ada banyak sekali urusan yang berakhir konyol akibat obrolan ringan.
Ya, ya, aku bingung mengatakan lengkapnya,
Namun kusadar,
Ada dia dalam W-A.
Dia, setan si pendusta. Hahaha.
---
131115, klest.
Ternyata Depok juga kota Hujan.
No comments:
Post a Comment