Ngoooong...
Kereta pukul sepuluh pagi segera melewati peron tempatku berdiri. Aku sudah menunggunya sekitar sepuluh menit lebih, memutuskan akan naik di gerbong campuran, karena kurasa kereta di jam seperti ini pastilah tak seramai pagi-pagi atau sore-sore, jadi kemungkinan untuk mendapatkan tempat duduk semakin luas.
Tsss..
Pintu kereta terbuka, aku masuk mengikuti beberapa orang. Kutengok kanan dan kiri, ah sial! Perkiraanku meleset. Di gerbong ini tak ada satu kursi pun untuk kududuki, alhasil aku beranjak menuju gerbong berikutnya dalam keadaan kereta yang mulai melaju, getaran geraknya sedikit membuatku berjalan dengan sempoyongan.
Sayangnya satu gerbong kulewati pun tak ada tempat duduk, lalu aku melangkah lagi menuju gerbong selanjutnya hingga tiba-tiba seseorang memanggil,
"Sa!"
Aku menghentikan langkah, kuat-kuat memakukan kaki pada lantai kereta agar sigap berdiri.
Itu suara lelaki, aku menoleh dan menyipitkan mata untuk kemudian membelalak.
"Eh? Rio! Ya ampuun.. Ini elu, Yo?!" Setelah tau siapa yang memanggil, aku mendekati orang itu yang tengah melambaikan tangan kanannya sembari bersandar pada pintu kereta.
"Hahaha.. Yaiyalah, lu pikir siapa emang?"
Rio tersenyum melihat kekagetanku. Ia adalah kawan semasa SMU. Salah satu kawan yang sebenarnya pintar, namun jahil.
"Hahaha.. Lagian kok agak beda ya.. Jadi pake kacamata begini. Mau ke mana? Kuliah?"
"Ah dasar, bukannya emang dari dulu ya gue pake kacamata? Gimana? Makin ganteng kan? Hahaha.. Iya nih mau kuliah, kalau elu? Kuliah juga?"
Aku mendelik.
"Au ah, iya dulu juga pake, tapi kan kalau pas KBM aja, sisanya yaa.. Tau sendiri kan. Gue? Waiya dong!"
"Ooh gitu.."
Kemudian hening. Masing-masing dari kami hanya tersenyum melihat ke luar jendela. Rio di sisi pintu kanan, dan aku di sisi pintu kiri, bersandar pada pembatas kursi.
"Yo-"
"Sa!"
"Eh? Hahaha"
"Elu dulu deh!"
"Ngga ah lu dulu, men first hahaha"
"Dih! Ada juga ladies first! Lu bakal ngomong panjang atau pendek?"
"Ngga apa-apa kok. Ngga panjang, gue cuma mau nanya kabar anak-anak aja tadi. Lu suka kumpul? Udah gitu aja.."
"Ooh.. Iya dong!"
Rio pun mulai menceritakan kisah pertemuan-pertemuannya dengan teman-teman SMU kami. Aku yang jarang bergabung dengan mereka, asyik mendengarkan cerita Rio dengan sesekali tertawa, tersenyum, atau mendelik.
"Dan lu tau ngga? Doni udah jadian sama Icha, lho!"
"Ha? Icha? Icha nugget? Yang bener? Bukannya si Icha sebel banget ya sama dia? Kok?"
"Yaa.. Mana tau, mungkin si Doni melet Icha kali hahaha"
"Ah ngaco, lu!"
Kami tergelak lagi untuk kemudian hening lagi. Kereta hampir tiba di stasiun ke lima sejak aku naiki, masih ada lima stasiun lagi untuk aku turun.
"Sa, lu turun di mana?"
"Lima stasiun lagi, lu hitung aja!"
Rio mulai memasang wajah berpikir dan memainkan jari kanannya, untuk kemudian tetap melihat peta jalur kereta di atas pintu. Aku memerhatikannya dan tertawa.
"Ah payah! Masa ngga hapal sih?"
"Ya maaf.. Hehehe. Eh iya, umur kita sekarang berapa sih?"
"Kenapa? Mau tobat ya, Bang? Gue sih perkalian tujuh kali tiga. Huhuhuu udah tua ya gue!"
"Oh iya kita sama ya.. Hmm.. Tiga tahun lagi ternyata.." Rio mulai menerawang, tersenyum lagi.
"Apanya yang tiga tahun lagi?"
Dia menoleh sebentar, dan kembali pada jajaran rumah di luar jendela pintu kereta.
"Yah, lu ngga ingat ya?"
"Emang apaan, Bro?"
Ia kembali tersenyum.
"Dih, bosen gue! Senyam-senyum melulu, lu! Jawab dong!"
Tapi Rio hanya diam, kemudian mengambil bungkusan plastik di ranjang atas tempat duduk
"Lu mau turun, Yo? Emang di sini? Bukannya masih dua stasiun lagi? Eh.. jangan-jangan lu mau menghindar dari gue?!"
"Dih, dasar kepedean lu dari dulu! Gue ada urusan dulu nih, jadi turun di sini.."
Kereta mulai merapat pada peron dan,
Ting!
"Pintu akan dibuka."
Suara khas seorang wanita dari speaker kereta, menyadarkan kami untuk berpisah.
"Gue duluan ya! Kapan-kapan kalau ada kumpul, dateng dong! Dasar sok sibuk!"
"Hahahaa iya sorry.. Iya deh gue usahain, hehe.."
"Bye!" Rio melangkah ke luar.
"Eh, Yo! Tadi apaan tiga tahun lagi? Ada hubungannya sama gue?" Aku masih penasaran dan membuatnya tak jadi langsung melangkah.
"Ah, kalau ingatan itu penting buat lu, lu pasti ingat kok! Di umur dua puluh empat, Sa!"
"Ya tapi apaa-"
"Pintu akan ditutup"
Ting!
"-an? Yah udah tutup."
"Dua puluh empat?" Aku berguman kebingungan, "ini bener ada hubungannya sama gue?" Kemudian sebuah ingatan melesat masuk ke dalam kepalaku, membuat hati bergetar lebih dari getar kereta yang mulai melaju, membawa kebingungan.
***
Tiga tahun yang lalu.
"Sa, lulus mau ke mana? Mau nikah nih jangan-jangan!" Setelah asyik berdiskusi kelompok soal jalan cerita film yang akan kami produksi, tiba-tiba Rio bertanya sembari menunggu dua orang teman kami yang entah kemana.
"Dih, sok tau lu! Kemana aja dan mau ngapain aja suka-suka gue dong!"
"Yee ditanyanya.."
"Ya, elu nanyanya.."
"Gue ngga ditanya mau ke mana, Yo?" Amin, teman kami yang tidak pergi, mulai berlagak polos.
"Mau banget, Min ditanya?"
"Lu nanya diri lu sendiri aja, Min! Eh Sa, rencana nikah emang kapan?"
Aku menghentikan tanganku yang sedang menulis, kaget,
"Eh apa? Lu nanya apa? Nikah? Gokil!"
"Tuh, Sa diajak nikah sama Rio!"
"Diem lu, Min! Udah selesai belom storyboard?"
"Storyboard apaan? Cerita aja baru mau dibuat. Ngaco, lu! Tuh kan Yo, dia salting!"
"Hahahaa rese lu, Min!" Sepertinya mukaku memerah.
"Jawab Sa, kapan lu mau nikah! Entar si Rio bisa nyiapin jadinya.."
Aku tertawa dan mendelik, "Min, please!"
"Jadi kapan, Sa? Lu tuh harusnya punya rencana dong! Lagian, tampang-tampang kayak elu pasti pengen cepet." Kali ini Rio kembali bertanya, usil.
"Helloo.. Mana gue tau? Mungkin umur dua-empat! Itu juga kalau udah ketemu di umur segitu. Puas lu?!"
"Ooh dua-empat. Oke!"
Aku mengangkat bahu, tapi bersemu. Bertanya dalam hati apa maksud ia bertanya begitu. Untuk menutupi kebingungan itu, kulanjutkan bagian menulisku. Dua orang teman yang lain sudah datang.
***
Tiga tahun kemudian.
"Hah? Masa sih maksud dia yang itu? Ah, apaan? Ah ngga mungkin! Dih kenapa sih gue! Au ah!"
Mencoba melupakan, namun justru aku ingat komentarnya di status sebuah media sosialku,
'Sa, dua-empat ya!'
"Gokil! Ah rese! Jadi dia serius? Tapi itu kan masih lama, tuh anak nyuruh gue nunggu gitu? Ah bodo, lihat aja nanti! Rese tuh anak! Baper kan gue.. huhuhuu dasar cewek!"
Fiuh! Aku menghela napas resah.
Akhirnya keretaku tiba pada stasiun tujuan. Kulangkahkan kaki ke luar, meninggalkan gerbong itu, senyuman itu, dan kalimat aneh itu.
Dua-empat. Aku bersemu.
---
241115, klest.
Ini fiktif, please. Hahaha..
No comments:
Post a Comment