Saturday, October 24, 2015

Elau dan Impian Lau

Pernah punya mimpi? Ya pernah dong! Masak iya sebagai manusia yang 'waras', ngga punya mimpi? Cupu lau! Hahahaa..

Oke, terlepas dari kata yang benar itu adalah 'mimpi' atau 'impian'. Sore ini ogut  mau curhat sedikit. Wkwk.

Ada yang bilang, "Seseorang yang tak punya mimpi/impian (whateverlah) sama saja tidak memercayai adanya Tuhan."

Setuju?

Ogut sih iya. *emot alis di atas*

Oke, terus gimana perasaan elau sekalian jikalau impian sedari dulu, yang awalnya terasa amat jauh. Tetiba muncul menghampiri? Seperti angin lembut, ia datang menyapa?

"Hai, apa kabar? Masih kenal gue? Itu loh, impian lu sejak dulu. Kenal dong?! Gimana? Masih mau ngewujudin gue? Udah disini nih gue!" Kata si mimpi.

Dan giranglah elau. Jingkrak-jingkrak di atas kasur yang tanpa per (bacanya kayak baca: ember) gegara disapa si mimpi. Iyalah, siapa yang ngga?

Nah, saat lau udah mulai normal, terus melangkah mendekati si mimpi itu. Tanpa disadari, ada dinding tebal nan luas terbuat dari kaca yang ternyata menghalangi langkah lau dengan si mimpi.

Lau pun bingung dan kesal.
"Oh Tuhan, aku memilih memiliki impian, karena aku percaya Kau ada! Tapi mengapa masih ada dinding pembatas ini? Untuk apa Kau mendekatkanku padanya bila memang tetap Kau tumbuhkan dinding? Untuk apa, Tuhan?!"

Mimpi pun tersenyum. Mendekati lau, berbisik dari seberang dinding kaca yang tebal tapi terasa tak ada.

"Tuhan melakukan ini semata-mata pengin menguji. Seberapa serius lu terhadap gue?"  *eaa beda tafsir*

Dan, wat de zig! Kayak ada yang mencambuk hati lau. Dan munculah pikiran bijak,

"Iya sih. Iya juga. Masak seinstan itu? Sekalipun udah dekat, bukan berarti tinggal gue petik dengan mudah, tapi gue juga mesti tetap manjat dulu.."

Begitulah yang saat ini tengah ogut rasakan, kawan.
Di satu sisi, sapaan dari Sang Impian begitu membuat ogut tersipu. Tapi di sisi lain, masih ada dinding kaca tebal yang mesti dipecahkan.

Entah hal ini dialami oleh ogut atau elau. Pilihannya (kayaknya sih) cuma ada dua.

Satu, memilih tetap di kawasan aman dan nyaman dengan mendiamkan dinding itu dan beresiko kehilangan impian yang sudah dekat.

Atau dua,  kabur dari kawasan aman dan nyaman dengan cara memecahkan dinding itu. Kemungkinan besar lau akan terkena si serpihan kaca yang menyakitkan. Tapi itulah hidup, belajar. terluka, perih. Belajar. Meski dengan luka penuh, tapi lau mampu membawa Sang Impian pulang. Mewujudkannya menjadi nyata..

Dan inilah yang sedang ogut pikirkan. Pilihan pertama kah? Atau kedua? atau bahkan ternyata ada yang ketiga? Nyatanya sama saja, mau pilih yang mana, sejatinya ogut akan tetap terluka..

Mohon do'a darimu, kawan.
Untuk masing-masing impian kita. Agar dapat diperjuangkan.


- THE END -


PS. Sori sosoan sopan hahahaa

No comments:

Post a Comment