Wednesday, October 28, 2015

Hidup untuk Mati, Mati untuk Hidup

Udara hari itu terasa beda. Entah apa. Terasa beda saja. Sebenarnya mereka cukup untuk sekedar sadar, namun mereka hanya bisa bergeming. "Ah sudahlah, kita lihat saja". Itu kata mereka.

"Ibu, suasana udara di hari ini terasa beda. Tapi aku belum tahu pasti. Ada apa ya?" Tanya selembar daun mungil yang masih polos pada ibunya.

"Iya, aku juga merasakannya, Bu." Sahut saudaranya yang sama kecil.

Sedangkan daun-daun yang lebih tua hanya diam saja. Seperti tahu akan terjadi apa.

Sesaat Ibu mereka, yaitu sang pohon, hanya bisa diam. Namun akhirnya tersenyum.

"Anakku.. tidak akan ada apa-apa. Kalian tenang saja. Udara memang terkadang terasa seperti ini. Kalian hanya baru merasakannya, Nak!" Sang Ibu menenangkan. Namun kentara sekali kegelisahan di wajahnya.

"Tapi Ibu.. ini terasa ganjil. Aku.. aku seperti akan.." suara mungil itu kembali menyahut, dipotong dengan yang lain.

"Mati! Ya, aku juga. Seperti akan mati!" Itu suara mungil yang lain.

"Oh kalian.. jangan menerka-nerka begitu!" selembar kakak mereka yang sudah tua, menimpali.

"Karena hujan begitu enggan menyapa kami, Kak!" Itu suara daun muda belia.

Ibu mereka hanya tersenyum. Menyimpan keresahan dan kerinduan. Mungkin ini memang waktunya..

Dan ratusan meter dari mereka. Api siap disulut. Semua sudah bersiap.

Satu. Dua. Tiga!

Dedaunan dan para kayu kering siap dilahap api. Sedetik, dua detik, tiga detik. Api pun mulai merayapi tiap permukaan kering itu. Mereka yang sudah renta tak kuasa menahan nafsu Si Jago Merah. Ia Menjilat apa saja yang dilewati. Menjadikan yang masih hidup pun ikut terjerat.

"Oh, Tuhan.. Inilah waktunya! Masa bagi kami.. Meski harus dengan cara seperti ini. Semoga kami ikhlas, Tuhan.. Entah siapa yang akan tertawa kelak. Entah siapa yang akan menangis kelak."

Para mulut daun pun mulai berbisik. Melantunkan kalimat-kalimat baik yang memuji Sang Pencipta mereka.

Wussss!

Ditemani angin, kobaran api mulai melumat mereka. Hingga jarak sekian dan sekian. Dan sampailah pada si daun-daun mungil itu.

"Ibu! Udara semakin aneh! Ibu! Sekarang panas! Ibu.. itu apa?"

"Ibu, itukah yang disebut api? Ibu, untuk apa mereka kesini?"

Ibu mereka masih diam. Perlahan menangis. "Haruskah dengan cara seperih ini, Tuhan?" Pekiknya dalam hati.

"Bu, ini sudah waktunya.." dan anak tertuanya menimpali.

"Baiklah anak-anakku yang manis.. Ia sudah datang! Ia akan melahap apa saja, siapa saja yang ia lewati. Itu bukan salahnya, itu kodratnya." Ibu daun membuka suara.

"Jadi apapun yang terjadi, sama seperti angin. Jangan kau benci mereka atas gugurnya kita. Tenanglah, dan pujilah Sang Pencipta. Kita akan pulang bersama. Meski harus dengan cara yang satu ini. Maafkan aku tak sedari awal memberi tahu. Maafkan aku yang tak dapat mempertahankan kalian. Maafkan aku kecil, kalian baru terlahir namun harus segera mati. Maaf."

Tetes demi tetes air mata yang tak terlihat itu menetes. Namun mereka mencoba tenang, ikhlas. Inilah waktunya. Untuk mereka kembali.

Dan kobaran kuning-merah itu. Meski tak ingin, harus tetap menyantap habis mereka. Menyisakan sisa-sisa yang akan menyuburkan tanah.

"Maafkan kami, Pohon.. Inilah waktunya kalian berganti.." Tanah ikut bersedih.

Satu jam, dua jam, tiga jam. Api sudah lelah. Setelah membakar diri sendiri dan makhluk lain. Ia pun mati. Selesai sudah tugasnya. Menyisakan asap-asap pekat. Membuat sulit bernapas siapa saja yang menghirup.

Asap-asap itu yang kini hidup. Bersisa. Menggantikan api dan pepohonan rindang.

Asap-asap itu yang kini berjaya. Menjadi bintang di atas panggung kesengsaraan.

Asap-asap itu yang kini setia. Menghantui siapa saja yang masih memakai udara untuk hidup.

Mungkin, asap-asap itu memang sombong!

Tapi mungkin juga, asap-asap itu tak pernah meminta dirinya menjadi seperti itu.

Mereka terpaksa. Ada di atas ketiadaan.

Entah siapa yang mesti disalahkan. Mereka sama-sama menangis.

Dan kini, hanya tangisan langitlah yang teramat dibutuhkan. Entah untuk menambah tangis, atau untuk membungkam tangis.

Hujan, kemarilah! Sapa mereka..

- 251015 -
08:42 malam. Ini sudah terlambat. Ditulis untuk mereka, pohon-pohon kehidupan yang harus mati. Demi kehidupan yang lain

#OWOPeduliAsap
#MalamNarasiOWOP

No comments:

Post a Comment