Kau begitu spesial!
Kehadiranmu selalu dinanti.
Penampilanmu selalu dipuji.
Kerjamu amat dihargai.
Kalau kau berbicara, maka pendengar akan tersedot dalam putaran air, dimana intinya adalah kau!
Leluconmu pun amat renyah untuk mengundang tawa.
Kau adalah bintang di panggung yang gelap nan ramai.
Kau begitu spesial!
Ya, Kau begituu spesial!
Setidaknya itulah imajinasimu.
Harapan yang begitu tinggi agar kau seistimewa itu bahkan lebih.
Bayang-bayang mengasyikan yang justeru menambah kusut benang-benang jahit perasaan.
Mengingatkan bahwa, sebenarnya justeru kau kebalikannya. Ternyata bahkan martabak pun lebih spesial. Dinanti, dibicarakan.
"Kalau datang ke rumah, ingat bawa martabak spesial kesukaan ibu ya!" Seorang gadis berkata pada pangerannya.
"Aku lapar. Sepertinya martabak keju cukup enak." Ini adegan monolog.
"Hey, martabak di tempat ini sangat oke, lho!" Serombongan anak muda yang mencari santapan malam.
Begitulah. Kau selalu merasa bahwa kau ini hanyalah manusia yang begitu standar. Tak ada yang istimewa. Begitu-begitu saja. Datar. Umum.
Dan dengan begitupun, kau lebih sering mendapat bagian yang standar. Dirasa hanya mampu mengurus yang standar.
Terkadang kau pernah termakan taburan harapan. Namun sayang, kau begitu standar dimata mereka. Tak ada yang istimewa. Kau pun terjatuh, ternyata sayap ini tak cukup kuat menembus langit.
Begitulah. Satu-persatu kalimat-kalimat seperti itu muncul. Menghakimi bahwa memang benar begitu. Menyusup dalam alam bawah sadar, mengecap dengan pernyataan, "Aku Tak Spesial". Dan benarlah kau bersikap seolah tak spesial.
Karena kaumerasa kau tak istimewa dan diistimewakan, kau pun merasa untuk apa kau mengistimewakan yang lain? Mengistimewakan waktu? Tenaga? Sumber daya? Impian?
Kau terjebak dalam siklus itu.
Siklus yang pada akhirnya hanya menyakiti. Menimbun setiap potensi diri. Menggantinya dengan berbagai asumsi.
Menjadikan kau hanya mengingat momen-momen menyesakkan. Merasa tak ada yang peduli dan menganggapmu. Menjadikanmu menjalani hidup dengan tanpa ketertarikan. Hanya karena kau merasa tak diistimewakan.
Padahal, andai saja kau lihat hatimu lebih jauh. Kau selami dirimu lebih dalam. Kau akan menemukan makna istimewa yang sesungguhnya.
Berhentilah mengeluh dan merasa kau tak seistimewa orang lain!
Kau hanya perlu memakai kacamata berbagai sisi. Melihat dari sisi yang selama ini kau hindari.
Itulah. Dan mungkin, ada baiknya kau membayangkan bahwa kau sebenarnya istimewa. Dan kau pun bersikap seolah kau istimewa dan mengistimewakan yang lain. Ya, semoga kau mengerti.
+++ +++ +++
~ Selasa, di penghujung bulan ~
ditulis dengan kebingungan, "Mestikah kita menjadi spesial? Mestikah kita saling mengistimewakan? Apa makna spesial bagi tiap manusia? Sepenting itukah menjadi spesial?"
No comments:
Post a Comment