"Hallo.. apa kabar? Apa kau baik-baik saja?"
Aku mendengar suara dengan rupa tak jelas di seberang sana. Sekelilingku berkabut. Hanya siluet hitam dikejauhan melambaikan tangannya. Ingin aku mendekati, namun sejauh apapun kumelangkah, aku tak sampai. Ingin kubalas sapanya, namun sayangnya suaraku tercekat di kerongkongan. Perlahan bayang hitam itu terlihat samar, kabut semakin menutupinya dan ia pun menghilang. Tiba-tiba cahaya emas mennyerobot pandanganku. Silau. Dan aku terbangun.
"Ah ternyata itu mimpi." Gumamku melihat gorden jendela kamar terkuak lebar.
Hari ini libur, dan karena lelahku, aku tidur lagi sejak pagi hingga matahari sepenggalah seperti ini.
Dan hari ini pula aku memutuskan untuk mengobrak-abrik isi kamarku. Beberapa benda seperti tak sesuai ditempatkan. Aku kembali pada rasa bosanku, sepertinya jika tempat tidur ini digeser-geser akan lebih menarik. Kamar ini memang sangat butuh perhatian. Dan voila! Setelah sulit mencuri waktu dari rutinitas harian, Inilah saatnya!
Setelah menjalani ritual pagi yang telat. Aku siap berperang! Diawali dengan merapikan lemari pakaian, menyimpan yang sudah tak terpakai. Lalu menggeser-geser meja dan kasur, mengganti seprai dengan yang baru. Aku pun menumpahkan barang-barang yang berada di atas meja-meja kecil di kamar, dan kutata ulang. Tak ketinggalan rak bukuku. Ada cukup banyak buku disana, ada lagi di rak lain di ruangan yang berbeda. Kuambil satu-persatu. Mereka amat berdebu. Dengan kemoceng berwarna-warni, aku bersihkan dan kutaruh di tempat asalnya dengan sedikit sentuhan gaya.
Selesai membersihkan, merapikan dan membaca sekilas buku-buku, pandanganku tersangkut pada buku bersampul kain tebal polos berwarna hijau yang terhimpit buku bersampul keras yang lebih besar. Ah terlewat! Itu buku apa? Tanganku beranjak meraihnya, kutiup debu-debu yang menempel pada permukaannya, kusapu dengan telapak tanganku. Oh Tuhan, tubuhku bergetar, "Ini buku hidupku!"
"Nayaa.." sambil aku memandangi buku itu, seseorang memanggil dari kejauhan. Itu suara ibu.
" Ya Bu.." aku segera beranjak meninggalkan buku tersebut.
Satu menit, dua menit, sepuluh menit, bahkan lebih dari satu jam aku membantu Ibu mengurus kue. Esok akan ada pernikahan tetangga, dan ada tetangga lain yang memesan kue Ibuku. Biasanya Ibu bisa mengurusnya sendiri, dan aku mengerjakan yang lain. Tapi sepertinya kali ini Ibu kewalahan, dengan semampuku pun aku membantunya.
Lelah membantu, aku beristirahat sejenak di kamar, dan mulai memainkan ponsel baru. Ponsel yang canggih! Aku menyukainya. Berbagai aplikasi di dalamnya pun cukup melupakan aku pada buku hijau yang masih tergeletak di meja.
Namun nyatanya, seperti ada tali yang menarik, pandanganku lagi-lagi mengarah pada sosok buku itu. Oh, aku melupakannya. Pun, aku sudah mulai lupa apa saja yang tertulis di dalamnya. Aku memutuskan meraihnya, membuka lembar-demi lembar.
Halaman pertama.
Aku melihat nama dan biodataku terpampang di sana, dengan tulisan yang kurang terawat. Disana pun ada foto kedua orang tuaku, kutipan motivasi, dan fotoku. Aku tersenyum.
Halaman kedua.
Ada beberapa foto bersama teman-teman saat SMU. Ada pula goresan pena yang menggambarkan foto-foto dan kenangan dalam foto tersebut.
Halaman ketiga.
Mulai kubaca ulang curahan-curahan hati yang sedikit berlebihan ala anak sekolah. Aku tertawa.
Halaman keempat, dan seterusnya. Kubalikan setiap lembar, dan kubaca. Terkadang aku tertawa, ikut bersedih, terkadang hanya senyum melintas, terkadang pun datar saja.
Di halaman-halaman yang kesekian, kudapati beberapa judul yang ditulis besar-besar,
"INI MIMPIKU"
"TARGET BEBERAPA TAHUN KE DEPAN"
"IMPIAN DALAM WAKTU DEKAT"
Aku terdiam.
Mimpi. Cita-cita. Harapan. Target.
Aku pernah punya itu.
"Dalam lima tahun ini, aku akan bertemu serutan es langit itu di tempat terbaik pilihanNya. Negara itu!" sebuah kalimat menarik perhatianku
"Aku ingin membahagiakan mereka, kedua orang terkasih itu. Entah bagaimana."
"Tuhanku, aku ini pembohong! Kubilang kucinta Kau, tapi apa? Aku lebih memilih dunia dan seluruh isinya. Kali ini aku lalai. Aku ingin berubah, lebih baik. Esok aku harus lebih baik, inilah targetku.." kalimat yang lebih panjang dengan beberapa poin target harian.
"Sebelum usia sekian, aku harus memiliki minimal satu buku yang kutulis!" Tulisan lain menarik mata dan lisanku, mataku terasa agak panas.
"Aku ingin bersekolah disana. Bukan karena tak mampu, justeru karena kemampuan yang lebih." Setetes air memaksa turun. Entah ini terkesan berlebihan.
"Aku ingin berjuang dengan barisan perbaikan itu.. memegang tombak kebenaran. Memberantas setiap kebathilan. Menolong mereka yang lemah tertindas. Aku ingin!" Kali ini bahkan lebih dari dua-tiga tetes air yang turun mengalir di lereng pipi. Entah reaksiku sedikit berlebihan atau memang lumrah. Aku tak tahu,
Aku masih meneruskan membaca, beberapa halaman aku lewati, beberapa hanya sekilas. Tapi aku selalu tertuju dengan tulisan berembel-embel mimpi, harapan, cita-cita dan sebagainya.
Dan entah darimana, perlahan suara yang sama dalam mimpi, hadir..
"Hallo.. apa kabar? Apa kau baik? Masihkah kau ingat aku?"
Aku terkejut. Mencari-cari siapa yang menyapa. Namun ruang kamarku berganti dengan ruangan luas penuh kabut. Ah mungkin bukan ruangan. Aku tak tahu pasti, ini seperti dalam mimpi semalam.
"Naya.. aku disini.." suara itu kembali hadir. Kucari, dan kudapati siluet hitam seorang wanita tengah mendekatiku. Entah mengapa aku ketakutan. Tempat ini amat asing! Mengapa aku bisa disini? Dan, siapa ia? Apa ia hantu? Mengapa ia tahu namaku? Mau apa dia? Aku melantunkan dendang kecemasan.
Dan sosok itu sampai. Siluet hitam itu menjelma menjadi sesosok wanita muda nan cantik. Pakaiannya rapat. Putih menyatu bersama kabut. Aku heran, dari kejauhan yang aku lihat darinya hanya hitam, kukira ia memakai pakaian hitam.
"Naya.." ia menyapaku lagi dengan seulas senyum. Aku tak menanggapi, kupandanginya dari ujung kepala hingga kaki. Oh, syukurlah, kakinya menjejak tanah, begitu cantik dengan alas putih yang indah, selaras dengan gaunnya.
"Naya.. apa kabar?" Lagi-lagi ia memanggil, kali ini diiringi ayunan tangan di depan wajahku.
"Ah iya? Kenapa? Eh, bagaimana kau tahu namaku? Siapa kau?" Terkejut dan bicaraku pun takut-takut.
Ia tersenyum lagi, mulai menjelaskan semuanya diiringi berbagai pertanyaanku.
"Jadi, bagaimana? Apa kau masih ragu untuk bermimpi?" Tanyanya langsung ke inti.
"A..aku.. aku bukannya takut.. hanya saja.." aku menunduk.
"Itu sama saja.. Oya, Naya.. tahukah kau? Di seberang sana ada ribuan impian manusia. Mereka sedang menunggu." Wanita menunjuk ke samping kanan, di seberang sana ada banyak siluet. Masih dengan kabut, aku sulit melihatnya.
"Itu.. impian? Bagaimana? Eh, mereka seperti manusia. Dan, menunggu apa? Mereka menunggu apa?" Aku bertanya gusar. Tak percaya. Bagaimana mungkin impian-impian itu bisa berwujud manusia?
Wanita cantik bergaun putih itu tersenyum, mendekatkan mulutnya ke telingaku, dan berbisik, "Mereka menunggu para pemimpi menjemput mereka! Mereka menunggu Tuhan menjadikan mereka nyata dengan usaha dan do'a yang dilontarkan manusia si pemilik impian itu."
Aku tercengang. Yang benar saja?
"Apakah disana pun ada mimpiku? Ikut berkumpul dan menunggu?" Tanyaku polos
"Ya! Tentu saja! Setiap yang kau impikan berkumpul disana. Mereka menunggumu menjemputnya!"
Lagi-lagi aku tercengang, dan seperti berada di atas karpet yang ditarik perlahan, aku dan wanita itu tertarik mendekati kumpulan di seberang sana.
Ada kalung namaku di leher beberapa dari mereka.
"Hai Naya! Hai! Ini kami! Ingatkah kau? Kau pernah menghadirkan kami!" Seorang gadis berperawakan sedang, terlihat kuat, berdiri, berteriak-teriak melambaikan tangannya padaku.
"Eh?"
"Itu salah satu impianmu. Kau ingat buku hijau itu? Kau pernah menuliskannya disana. Lihat punggungnya"
Aku mendekatinya. Mendapati ada gores impian dalam buku hijau di punggung gadis itu. Dan seperti ada yang basah. Mataku mulai basah.
"Kau? Kau benar impianku? Yang pernah kutulis dalam buku, yang kusebut buku hidupku?" Aku ingin memeluknya.
"Iya! Kau ingat? Akulah yang sering hadir dalam malam-malam menjelang tidurmu! Tapi mengapa kau tak jemput aku?" si Gadis itu berkata murung.
"Naya! Apa kau pun ingat aku? Dalam do'amu kau selipkan keinginan. Dan disinilah aku. Apa kau masih menginginkan aku?" Sosok yang lain mendekat. Berbicara penuh harapan ingin kembali digenggam.
"Naya! Aku jugaa.. mengapa kau tak jemput aku? Bukankah kau amat menginginkanku?" Sosok lain berikutnya, ikut muncul.
Ada sosok lain lagi. Lagi. Dan lain lagi. Aku kehilangan kata-kata. Terduduk dan tergugu. Mereka semua adalah impianku. Begitu banyak. Mereka yang pernah kusebut dalam do'a. Yang membuatku bergetar walau hanya membayangkan. Yang pernah kutulis. Aku ingat! Ya, aku ingat.
Entah mengapa aku seperti egois, menghadirkan mereka namun tak berusaha keras mewujudkan. Menganggap mereka pada akhirnya hanyalah omong kosong. Berasumsi bahwa mereka akan sulit jadi nyata. Pun tak mengerahkan seluruh tenaga. Aku begitu egois sekaligus pesimis.
Aku melupakan mereka juga kekuasaanNya. Aku mengabaikan usaha dan do'a. Dan mulai terjebak dalam rutinitas biasa yang sedikit-banyak menjerat jiwa.
Aku menangis. Terus menangis.
"Naya.. masih ada waktu untuk kau menjemput mereka. Masih ada waktu. Dan teruslah berdiri. Jemput mereka. Wujudkan mereka. Kau sudah terlanjur menghadirkan mereka. Hanya karena dahulu tak sampai, bukan berarti sama dengan nanti. Kau selalu bisa memperbaiki. Usahakanlah.. kau tidak pernah benar-benar melupakan mereka. Mereka masih hadir karena kau masih menginginkannya, walau terasa sulit.." wanita itu mengusap kepalaku dan memeluk, menenangkan.
"Tapi bagaimanalah? Sudikah mereka masih tinggal dalam diriku? Menunggu aku merangkak menjemput? Sudikah Tuhan mendengar do'a yang sama?"
"Ia Maha Baik. Ia selalu baik. Berdo'alah, maka Ia akan mengabulkan. Jangan kau lupakan itu. Jangan kau tak percaya."
"Berdirilah, dan peluk erat mereka. Berjanji untuk terus perlahan merajut tiap-tiap dari mereka. Dan kelak biar Tuhan yang menyelesaikann rajutan terbaik itu. Kau menangis, karena kau menginginkan mereka. Teruskan rajutan itu. Jangan dilupakan." Wanita itu kembali tersenyum. Aku memeluknya dan memeluk mimpi-mimpi cantik di hadapanku.
Ah, mereka begitu cantik, indah. Aku harus menjemput mereka kelak.
Hangatnya pelukan mimpi perlahan memudar. Mereka melebur, menyatu dengan kabut dan menghilang. Kini aku berada di ruangan penuh kabut seperti awal. Tak ada segerombolan sosok-sosok mimpi. Tak ada pula wanita bergaun putih. Dan, seberkas cahaya emas menyilaukan kembali menyerobot pandanganku, kini diiringi suara khas wanita itu, "Hallo.. apa kabar Naya?"
"Nayaa.. bangun! Sudah siang.." Itu suara Ibu
Aku membuka mata dan mendapati Ibu berdiri membuka gorden kamarku.
"Bu, apa aku tidur lagi setelah membantu ibu?"
"Membantu apa? Kau baru saja bangun sejak pagi buta, Nak. Kebiasaanmu sekali tidur lagi saat hari libur"
"Jadi itu.. mimpi di dalam mimpi? Ah, mimpi! Aku harus bangun untuk menjemput mimpi-mimpi itu. Mimpi-mimpi cerdas dan hebat. Mimpi disaat sadar bukan tertidur" Aku menyingkap selimutku dan berjalan menuju jendela. Ibu sudah pergi.
Kubuka jendela dan melongok keluar, "Hallo.. selamat pagi.. Ah ya, apa kabar mimpi?"
Dan burung-burung berterbangan. Mentari mulai beranjak sepenggalah. Tersenyum padaku, "Mimpi itu harus kau jemput! Kembali dirajut! Dan biarkan Ia yang menyelesaikannya.."
Sabtu, 26 September 2015,
Aku menghabiskan banyak waktu untuk menulis ini. Entah dimengerti atau tidak, sudahlah, ini proses.
Dan ya! Masih di tempat yang sama, dimana impian selalu bergentayangan..
Dan ya! Masih di tempat yang sama, dimana impian selalu bergentayangan..
No comments:
Post a Comment