"Aku mnecintaiMu.."
Kalimat yang (mungkin) sakti kalau diucapkan kepada manusia. Dan boleh jadi sama saktinya jikalau diucapkan padaNya, Sang Pemilik Cinta dan Hati yang sesungguhnya.
Ya terkadang, gue merasa jatuh cinta berkali-kali, terus menerus kepadaNya. Tapi terkadang pula, gue amat kehilangan serpihan demi serpihan rasa cinta itu. Entah mengapa.. entahlah..
Saat rasa cinta gue memuncak, disitu gue benar-benar merasa menjadi manusia yang paaaliiiing beruntung dan mesti banget banyak bersyukur. Gue menjadi manusia yang merasa paling bahagia dan merasa cukup. Gue menjadi manusia yang senantiasa ingin tersenyum dan menebar kebaikan.
Hah, benarkan? Ternyata, cinta itu benar-benar gila dan sakti!
Tapi.. seperti yang gue bilang juga, gue bisa saja merasa kebalikannya. Kekurangan bibit cinta untuk disemai dalam hati. Gue merasa kosong, hampa Bro! Seperti ada yang kurang. Dan bisalah sepanjang hari gue murung, kacau, bingung, resah dan sebagainya.
Lagi, saat gue tahu ternyata, "Masyaa Allah.. benarlah memang nikmat Allah itu ngga ada satupun yang pantas dan bisa didustakan. Semua ini benar-benar keren dan saling tersambung." gue pun akan mengiringi dengan kalimat sakti di awal tulisan, "Aku mencintaiMu.. yaa Rabbi.. Aku mencintaiMu.. Aku amat bersyukur dengan semua ini" setelah itu hati gue pun menjadi tenang.
Namun sayangnya, kata hanyalah menjadi kata-kata biasa tanpa makna bila tak diringi dengan usaha.
Maksudnya?
Iya, seribu kali pun gue mengatakan cinta. Entah padaNya atau makhlukNya, bila tidak diiringi dengan usaha untuk membuktikan rasa cinta itu, lalu apa? Hanya akan menjadi sekadar kata-kata bukan?
Entah siapa yang pertama mengatakannya, gue ingat sekali,
"Setisp ia yang mencintai sesuatu atau seseorang, umumnya si pecinta akan menuruti, mengikuti kata-kata atau yang dilakukan dari apa yang ia cintai tersebut."
Maksud gue adalah.. misalnya si A mencintai B, besar kemungkinan A akan lebih menuruti kata-kata atau mengikuti tindak-tanduk dari si B. Bahkan sekalipun belum cinta, baru sekadar suka atau naksir, itu bisa terjadi. Eh bahkan bukan umumnya lagi, mungkin sudah seperti menjadi sebuah keharusan.
Dan oleh karena itu, bila memang statement tersebut bisa sebagai sebuah keharusan, sudah sepantasnya doong kita yang mengaku cinta akan lebih mengikuti dan menuruti dari apa yang kita cintai.
Mengatakan cinta pada orang-tua namun tak mengindahkan kata-kata, nasehat dan sikap beliau (yang baik-baik), itu bisa jadi bukan sebanar-benar cinta.
Sama seperti mengungkapkan cinta pada Illahi Rabbi tapi tak mau mencoba mendengarkan dan menjakankan perintahNya, mengikuti kalamNya, menjauhi larangannya, bisa itu itu bukan sebenar-benar cinta. Hanya buaian belaka, tipuan, bahkan sebuah kemunafikan.
Entah ini semua benar atau tidak, namun inilah yang gue pikirkan.
Saat gue mengungkapkan rasa cinta gue terhadapNya, namun di sisi lain gue masih bandel tak mengindahkan kata-kataNya, bisa jadi ungkapan cinta gue itu hanyalah kepalsuan belaka, sebuah kemunafikan. Teknik agar Ia mengabulkan do'a-do'a gue aja, tapi tidak benar-benar mencoba mencintai dengan mengikuti apa perintahNya (kalau konteksnya terhadap manusia, mengikutinya tentu dalam kebaikan)
Yah, jadi, begitulah.. saat ini gue merasa seperti seorang munafik cinta. Mengumbar kata cinta padaNya, tapi lagi-lagi gue mendustainya. Bisa jadi menduakan, dan membuatNya cemburu. Hanya kembali saat butuh, sedih dan gamang. Namun enggan saat tertawa riang.
"Allahku.. Lelaki keren itu mengatakan bahwa rasa cinta harus diungkapkan. Dan mungkinkah terhadapMu juga? Sebenarnya amat mudah untuk menelurkan kalimat tersebut dari lisan ini, namun.. ampunilah bila pada prosesnya, diri ini masihlah jauh dari ungkapan tersebut. Maafkanlah, bila lagi-lagi dusta yang terwujud. Sesungguhnya diri ini sedang belajar, dan Kau pun pasti tahu. Semoga saja, kelak cinta benarlah cinta. Tak ada lagi dusta menyertainya. Mengatakannya dengan malu-malu, dan membuktikan rasa cinta itu dengan tanpa ragu.."= = = = = = = =
~ Jum'at hingga Sabtu dini hari, 25-26 September 2015 ~
Masih di tempat yang sama, dimana ada banyak suara jangkrik menemani. dimana deru motor dan mobil tinggal bisikan, dimana kereta baru saja melewati, dimana hampir semua orang sudah terlelap, dimana baru saja aku mengikuti kegiatan maya.
Masih di tempat yang sama, dimana Ia selalu menebarkan kasih dan cintaNya :)
Dan entahlah tulisan ini akan jadi apa.
Dan entahlah tulisan ini akan jadi apa.
No comments:
Post a Comment