Wednesday, October 07, 2015

Selamat Pagi, Oktober!

Hai. Selamat pagi.. Oh maaf, selamat malam untuk kau Oktober yang baru saja tiba. Silahkan duduk, bagaimana perjalananmu? Melelahkan? Setelah menunggu berbulan-bulan akhirnya kau tiba. Yaa, meski 30 hari kemudian kau akan pergi lagi. Entah kau seperti angin atau bukan, aku tak tahu. Tapi yang jelas, kaulah salah satu warna dalam pelangi, kau pasti berarti. Bahkan angin yang sekadar numpang lewat pun sama berartinya dengan sinar mentari yang setia menyinari.
Ah angin? Baca di buku IPA (IPS juga mungkin ada) saja yaa soal kontribusinya :)

Oktober,
Kau tahu? Aku sih sebenarnya kurang tau. Apa aku mengharapkanmu lekas tiba, atau sebaliknya.

Ada saat dimana aku begitu ingin menggulung waktu. Menariknya cepat hingga tiba diujung.
Namun ada pula saat dimana aku bahkan ingin menghentikannya. Kunikmati saja ruang-ruang diantara tiap waktu ini. Namun apa? Nyatanya aku hanya mampu menghentikan jam. Cukup kulepas saja baterainya, atau kulempar agar hancur sehancur-hancurnya.

Tapi itu tak berarti. Satuan waktu rekaan manusia itu tetap berlari. Mengganti detik menjadi menit. Jam menuju hari. Minggu, bulan, tahun dan seterusnya.

Ada yang merasa begitu cepat, pun sebaliknya, lambat. Begitulah sifat waktu. Kalau kata Einstein sih seperti karet, elastis.
Eh? Dan mungkin relatif. Apalah istilah-istilah itu, mungkin kau lebih tahu.

Oya Oktober,
Kalau aku harus ditanya seperti apakah jenisku soal waktu? Ya itu, aku tak tahu. Aku tak benar-benar tahu. Terkadang, seperti anjing yang menggonggong dan mengejar, dan terkadang seperti angkutan umum ditengah kemacetan jalan.

Oktober,
Biarkan aku sebentar saja merebahkan kepalaku dipunggungmu itu. Melepas sekelumit cerita sebelum kau pergi lagi.

Oktober,
Perlu kau tahu.
Ada saat dimana aku seakan malu dengan usiaku.
Ada saat dimana aku seakan malu dengan pertumbuhanku.

Ada saat pula dimana aku merasa cemas ntuk membuka pintu. Dan benarlah aku tetap pada kecemasanku saat kutiba di depan pintu itu.

Kau tahu?
Setelah pintu itu terbuka, ia menutup!
Buk! Bunyinya keras. Kulihat didepan sana, ah sepi dan sepertinya.. mengerikan!
Aku merengek pada pintu, namun pintu mengacuhkan. Dengan nada apatisnya ia berkata, "Pergilah! Dan temui pintu berikutnya. Masuk dan teruskanlah" hanya itu, dan tak ada lagi.

Oktober,
Ada saat dimana aku mulai berjalan dengan langkah takut-takut.
Ada saat dimana terik mentari amat panas lagi menyilaukan.
Ada saat dimana aku kehausan dan kelaparan.
Pula, ada saat dimana aku kesepian dan butuh pegangan.

Oktober,
Lagi-lagi ada saat dimana memori itu berulang.
Masa-masa dibalik pintu itu. Ah aku ingin kembali!
Kerikil ini begitu menyakitkan untuk sepasang kaki yang tanpa alas. Pasir ini begitu panas. Aku meringis.

Dan kusapa langit, namun ia tak menjawab.
"Langit, curahilah kegersangan tanah ini dengan airmu.." tapi mungkin langit ingin aku yang mencurahkan air dari mataku saja untuk kegersangan. Entah kegersangan yang mana.

Oktober,
Ada saat dimana air mata itu akhirnya ingin mengalir namun rasanya ku tak pantas!
Kutengok belakang. Ah, ini baru awal. Ini masih sangat awal.
Pintu itu sudah pasti tak kan terbuka.

Oktober,
Hah! Aku terlalu banyak bercerita ya? Mungkin kau bosan.
Tapi Oktober, menurut buku yang saat ini kubaca, katanya.. masa lalu dan masa depan itu tak perlu dipusingkan! Mereka hanya distraksi, menarik kita ke dalam abstraksi mental yang tidak nyata. Tidak ada yang lebih penting daripada 'saat ini, (Supernova 1, Dee, hlm. 127 (maaf aku lupa bagaimana format menulisnya)). Semoga kau pun paham apa maksudnya.

Oktober,
Sebenarnya ada banyak sekali yang ingin aku ungkapkan. Namun aku lupa. Dan lagi, ada hal lain yang menantiku. Tapi aku senang! Kau sudah disini dan mendengarkan. Semoga saja diam-diam ada sebuah kamera yang mengabadikan momen ini. Agar kelak kuingat, kupernah diingatkan (lagi) soal waktu.
Betapa.. ah sudahlah.. sampai jumpaa :)


Kamis, awal Oktober 2015.
Emm.. masih di tempat yang sama sih, dimana satuan waktu belum berubah, kan?
Entah ini untuk setoran minggu keberapa. Aku tak peduli. Aku hanya ingin menulis saja. Sebagai obat atas rasa yang bergelora.. *tsaah

No comments:

Post a Comment